Tips Ramadhan (2)

Simpen sini ah, meski ag telat mayan…

 

Curahan Hati Ibunda

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Apapun yang kau berikan untuk membalas jasa-jasanya takkan pernah bisa membayar semuanya.

Ia mengandungmu dalam rahimnya selama 9 bulan. Bulan-bulan pertama ia merasakan mual hebat, penciumannya menjadi sangat tajam, bau deterjen-sabun-sampo-odol semua yang tak mungkin ia hindari malah membuatnya muntah-muntah. Bulan-bulan berikutnya ia selalu membawamu dengan semakin kepayahan karena berat badannya naik drastis bisa hingga lebih 20 kg. Dan betapapun beratnya dirimu hingga ia miliki banyak keluhan tak membuatnya menyimpanmu di luar; tetap menjagamu dalam rahimnya yang kokoh.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Bagaimanapun ia miliki kekurangan, ia tetaplah ibumu yang telah melahirkanmu.

Ia telah mempertaruhkan nyawanya saat itu. Rasa nyeri saat hendak mengantarkanmu ke dunia itu luar biasa nyerinya. Barangkali hanya sakit sakaratul maut yang mampu menyainginya. Atau memang melahirkanmu menjadi momen sakaratul maut baginya? Ia mungkin meninggal setelah kehilangan banyak darah dari dalam rahimnya. Akan tetapi, jika ia masih diberikanNya umur setelah melahirkanmu, maka keberadaanmulah yang menjadi penawar segala nyerinya.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Pengorbanannya takkan mampu kau hitung bahkan hingga seumur hidupmu.

Ia yang memberimu air susunya. Ia yang menggantikanmu popok. Ia yang merawatmu kala sakit. Ia yang memeluk dan menenangkanmu saat sedih. Ia yang membersamaimu dalam banyak episode tumbuh kembangmu. Ia yang terus-menerus memikirkanmu, memikirkan pendidikanmu, dan memikirkan masa depanmu, hingga memikirkan kehidupan akhiratmu. Ia yang senantiasa mendoakanmu saat melihatmu tertidur, tersenyum, bahkan saat menangis juga saat marah.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Sekalipun kau tahu ia pasti memaafkan semua salahmu…

Ia adalah sumber kebaikan bagimu. Baktimu kepadanya selama tidak mendurhakaiNya adalah lautan pahala. Pintu surga pun salah satunya memanggilmu karena baktimu kepadanya. Doanya untukmu adalah salah satu doa yang makbul di sisiNya.

Maka, Anakku, pesan ini adalah pesan seorang ibu: jagalah dirimu dari api neraka… Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan hati ibu selain melihatmu mendurhakaiNya! Sebab bila itu terjadi, ibu akan menyaksikanmu diseret ke dalam neraka, bahkan mungkin karenanya pula ibu diseret ke dalamnya.

Maka, Anakku, pesan ini adalah pesan seorang ibu: antarkan ibu menuju pintu surga… Sungguh puncak kebahagiaan hati ibu adalah saat doamu tetap mengalir meski ibu sudah pulang lebih dulu ke sisiNya, lalu di yaumul hisab diberi kemuliaan karena kau telah mempelajari dan mengajarkan Al-Quran, lantas memberi syafaat bila ibu tak diperkenankan masuk ke dalam surga.

Target Anak2

Nitip nyimpen memori di sini untuk dibaca lagi kelak. Ini adalah urutan target kedua anak pertamaku (laki-laki dan normal):

A. Bayi (0-2 thn)
1. Tengkurap
2. Merangkak
3. Berdiri, merambat
4. Berjalan, berlari
5. Bicara sederhana
6. Imunisasi dasar lengkap
7. Lepas menyusu

B. Balita (2-4 thn)
1. Toilet training
2. Bernyanyi
3. Memegang pena
4. Menggunting
5. Mengayuh sepeda
6. Bercerita kronologis
7. Bercerita imaginatif

C. Preschool (4-6 thn), TK A-TK B
1. Life time scheduling
2. Mulai membaca, menulis
3. Keterampilan, kemandirian
4. Pengelolaan emosi
5. Mengalah, ngemong adik

D. SD (6-12 thn)
1. Pematangan Iman-akhlaq
2. Pembiasaan shalat, tilawah, infaq, shaum
3. Mencintai ilmu, senang baca-tulis

E. Lanjutan (12-18 thn), SMP-SMA
1. Seleksi lingkungan pergaulan
2. Pengetahuan aqil + baligh
3. Entrepreneurship &praktek
4. Dasar ilmu berkeluarga

F. Pendampingan++
1. Memilih calon teman hidup
2. Memilih lingkungan tempat tinggal
3. Mendidik anak

Sebagai catatan tambahan: sebaiknya tidak menambah anak sebelum anak terkecil lulus toilet training. Hal ini untuk meminimalisir emosi negatif karena bentrokan rasa mual dan jijik-an dengan kotoran si kecil yang berceceran saat toilet training. Kuharap usiaku sampai minimal hingga si sulung pada tahap E & si bungsu (insya Allah anak ke-4, aamiiiiiiin) pada tahap B.

Tips Ramadhan

Tulisan ini merupakan tips yang sangat mungkin diterapkan olehku pribadi. Tips telah diujicoba, tetapi kurang disiplin sehingga belum optimal. Insya Allah -semoga Allah mengizinkan- tahun depan diterapkan lagi dengan lebih ketat, disiplin, lebih baik, beserta penyesuaian yang ditentukan kemudian. Insya Allah juga dapat dikerjakan di luar bulan Ramadhan, terlebih di 2bln pra Ramadhan: Rajab, Sya’ban.

1. No socmed
Stop fesbuk! Stop wa! Bagus2 sepanjang ramadhan selama sebulan berhenti samsek. Jikapun masih ingin ceki-ceki sebentar, disiplinlah dengan waktunya, misal: 10′ per day atau 30′ per week di 1 waktu. Lebih bagus lagi ga inetan samsek: email, browsing, youtube, dkk.

2. No angry
Ini nih yang susah buat emak2 pas ngadepin anak yang gi rewel bin tantrum! Lekas istighfar, pindah posisi, pindah lokasi, tutup telinga, lakukan wudhu, bayangkan balasan kesabaran yg tiada batas, paksakan senyum ceria, dan berpikir jenaka agar emosi kembali positif.

3. No sleep more than 6 hours
Sebelumnya sih no sleep after shubuh, tapi kadang tubuh ga tahan kantuk saat tidur lebih larut / bangun lebih awal (cari2 alesan).

Dengan beberapa tips tambahan:
1. Ziyadah dilakukan dengan listening diulang2 1page /day setiap kesempatan -> ganti list lagu dengan qira’ah misyari rasyid
2. Muraja’ah dilakukan dalam shalat tarawih -> jika terlupa, segera ganti surat pendek dan muraja’ah ulang setelah shalat dimana ayat terlupa tsb selesai
3. Al-ma’tsurat caranya dengan listening sambil nyuci (pagi) dan beres2/main ma anak2 (sore) -> memang ga terbaca sendiri semua, tapi lumayan menyimak cukup banyak saat sadar

Membandingkan

Tanpa sadar aku terus membanding-bandingkan anak pertama dan keduaku. Kenapa dede belum juga tambah gigi seri padahal di usia yang sama kaka sudah mulai punya gigi geraham? Kenapa dede belum juga berjalan sendiri padahal di usia yang sama kaka sudah mulai berlari-lari mengejar sepupunya?

Tapi aku hampir lupa membandingkan hal lainnya. Apa di usia seperti dede ini waktu itu kaka sudah bisa menumpuk beberapa balok kayu secara vertikal, sudah bisa memegang pena dengan benar dan mencorat-coret buku dengan tegas, sudah bisa memasukkan benda kecil ke benda yang berongga dengan tekun?

Ah, kupikir bolehlah membandingkan, tapi carilah sisi baiknya, hargai kemajuan positif semuanya. Syukurilah kelebihan dan toleransilah kekurangan mereka masing-masing. Tak perlu khawatir, Bunda, Allah tak meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang Dia berikan, tapi meminta pertanggungjawabanmu atas sikapmu pada apa yang Dia berikan.