Mencari Kakak Ipar

Lima tahun lalu aku melakukan sesuatu hal yang tabu di keluarga besarku -pun adat setempat: aku menikah mendahului dua kakakku. Kakak laki-laki mungkin tak masalah, tapi bagaimana dengan kakak perempuan? Namun, kakak perempuanku memang besar hatinya. Tidak sebagaimana fisiknya yang kecil. Ia tak keberatan dan justru mendorongku. Ia katakan kalaupun ia harus sedih, itu karena ia kehilangan keberadaanku di dekatnya.

Aku pun menikahlah. Kuharap setelah aku menikah, justru jalan jodohnya dimudahkan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Biodata yang diterima untuknya tidak banyak yang cocok: usia, suku, domisili, perokok, dll. Adapun yang sesuai, ternyata menemukan ketidakcocokan, kesalahpahaman, ketidaksigapan, dll.

Sampai akhirnya aku jatuh sakit, aku takut jika ajalku datang, sedangkan aku belum melihatnya menikah. Ah, bukankah aku punya seorang suami yang baik? Dan bukankah pernah kuucap ia layaknya Utsman yang pemalu, penderma harta, penyayang kepada istri-anaknya, dan… Dialah Dzun Nur’ain? Siapa lagikah yang dapat menyayangi anak-anakku begitu besar jika bukan saudara kandungku?

Ide itu muncul dalam hatiku dan kutitipkan kepada Allah jika Dia menghendaki. Akan tetapi, setelah pendengaran dan penglihatanku semakin kacau, aku yang semakin merepotkan orang lain -khususnya suami dan orang tuaku- malah takut mati. Aku ingin berjuang untuk tetap hidup dengan beberapa mimpi yang belum terwujud.

Kuharap kakak perempuanku tersayang mendapat pasangan yang menyerahkan serba pertama baginya pula. Suami yang malu-malu untuk sekedar menyentuh ujung jemari. Suami yang malu-malu untuk sekedar menatapnya lekat dan dekat. Suami yang merasakan pengalaman yang serba pertama kali secara bersama-sama dengannya.

Setelah berangsur pulih aku melirik kembali mimpi melihat kakak perempuanku menikah. Apalagi ibu kami membuat sebuah tulisan dalam bahasa sunda yang menyimpan harapan mendalam agar putrinya segera menikah. Bismillah aku pun kembali mencari kakak ipar dan Alhamdulillah kali ini berbuah manis: segalanya serba Allah mudahkan! Maka, pada 12 Rabi’ul Awwal yang bertepatan pada 12 Desember ini berlangsunglah akad walimah pernikahan mereka.

Aku ikut serta pada ta’aruf perdana mereka dan ikut aktif bertanya sebagai calon adik ipar. “Benar akang dan keluarga tidak keberatan dengan asal suku berbeda dan usia istri yang lebih tua?” Tanyaku.

“Kata orang tua mah memang siapa yang bisa menjamin usia qta berapa lama lagi?”

Pertanyaan yang diucap kakak ipar sebagai jawaban itu menentramkan bagiku. Tentram untuk melepas kakak kesayanganku untuknya. Jawaban itu bermakna sangat luas. Dalam perenunganku memang benar: untuk apa terlalu sibuk dengan gap usia seolah hidup kita masih sangat panjang? Istri lebih muda pun belum tentu dapat melayani dengan lebih prima. Contoh sederhananya aku sendiri! Motorik kasarku seperti berjalan dengan seimbang, berlari, melompat, dan memangku belum pulih atau mungkin takkan pernah pulih hingga ajal menjemput. Aku merasa tua sebelum waktunya. Akan tetapi, Alhamdulillah aku dikaruniai suami yang setia menemani meski kondisi istrinya begini.

Qadarullah. Setiap orang punya takdir masing-masing. Yang penting niat menggenapkan din, niat menikah untuk ibadah, niat berpasangan untuk menjaga diri, niat melaksanakan sunnah agar dipayungi syafa’at itu tetap kuat dalam hati. Semoga teman-teman yang berniat demikian itu dimudahkan Allah bertemu jodohnya.


Bandung, 13 Desember 2016
Semoga keluarga baru t’siti dan k’farih diberkahi dengan berkah yang melimpah, dikaruniai rezeki yang banyak, putra yang sholih/ah, dijadikan surga dunia sebelum dihimpun kembali di surga akhirat kelak, aamiiiiiin.

Maaf nulisnya agak lompat2, maklum disambi di beberapa waktu

Ingatlah Kampung Akhirat (2)

Apakah yang membuatmu jauh dari syahadat adalah karena cinta maksiyat? Apakah yang membuatmu lemah beriman adalah karena suka makanan dan minuman haram? Apakah yang membuatmu enggan taat adalah karena syahwat?

Ketahuilah, Saudaraku, kenikmatan apa saja yang tengah kamu kecap, itu hanyalah sesaat dan sementara. Yang kekal itulah yang menunggumu di akhirat. Hidangan mewah yang rasanya luar biasa nikmat. Tersedia pula sungai susu, madu, dan arak. Buah yang segar nan ranum mudah dipetik kapan saja. Pakaian termahal dan terindah amat banyak pilihan. Rumah mewah dan megah yang luas dan indah juga menunggumu. Ya, semuanya menunggumu jika kau istiqamah dalam syahadat dan mempertahankan imanmu.

Ketahuilah, Saudaraku, kebahagiaan apapun yang pernah kamu rasakan, itu hanyalah sejenak dan fana. Yang abadi itulah yang menantimu di akhirat. Pelayan-pelayan yang rupawan, rapi, cekatan, piawai, dan setia. Nyanyian merdu yang senantiasa mengalun bila kau mau. Usia yang selalu muda nan prima. Sahabat dan tetangga yang ramah dan terjaga benar ucapannya. Bidadari-bidadari cantik jelita yang senantiasa perawan pun menantimu. Ya, mereka sungguh menantimu bila kau berusaha terus dalam ketaatan.

Apa kau lebih memilih yang hanya sedikit daripada yang melimpah ruah? Jika kau masih punya akal sehat, tentu kan kau pilih yang kedua. Maka, bersabarlah dalam syahadat, teguhlah dalam iman, bertahanlah dalam taat. Lawanlah rasa berat dengan bisikan surgawi dalam hatimu; kelak kampung akhiratmu kan menyapa dengan penuh suka cita.

Tips Ramadhan (2)

Tips ini khusus mengingatkan kaum ibu yang tengah menyusui: minumlah lebih banyak air selain cukup makan dengan makanan yang padat gizi. Janganlah memakan makanan yang banyak mengandung zat yang dibuang sia-sia, apalagi merugikan kita. Ingat volume lambung kita yang sudah menyusut pasca melahirkan terbatas diisi saat shaum ini.

Saat berbuka dan sahur, makanlah minimal 3 biji kurma dan minumlah minimal 3 gelas air. Saat hendak tidur dan baru bangun minumlah 1 gelas air (boleh susu jika ada). Lakukanlah makan sahur di akhir waktu benar dan makan sahur setelah shalat isya dan tarawih. Nah, saatnya memilih menu yang tepat untuk makanan padat yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Bukan karbohidrat saja atau protein saja atau lemak saja apalagi vitamin dan mineral saja, tetapi makanan bergizi lengkap dan seimbang.

Lengkap sudah dibahas tadi. Seimbang itu bagaimana? Seimbang artinya porsinya berada dalam piramida makanan. Piramida makanan? Ya, coba browsing hasil rekomendasi terkini dari para nakes (dokter, ahli gizi, dkk) atau tengoklah poster-poster yang ada di puskesmas. Slogan 4 sehat 5 sempurna itu memang nempel sih di ingatan, tapi ternyata slogan itu jadul dan kudet.

Curahan Hati Ibunda

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Apapun yang kau berikan untuk membalas jasa-jasanya takkan pernah bisa membayar semuanya.

Ia mengandungmu dalam rahimnya selama 9 bulan. Bulan-bulan pertama ia merasakan mual hebat, penciumannya menjadi sangat tajam, bau deterjen-sabun-sampo-odol semua yang tak mungkin ia hindari malah membuatnya muntah-muntah. Bulan-bulan berikutnya ia selalu membawamu dengan semakin kepayahan karena berat badannya naik drastis bisa hingga lebih 20 kg. Dan betapapun beratnya dirimu hingga ia miliki banyak keluhan tak membuatnya menyimpanmu di luar; tetap menjagamu dalam rahimnya yang kokoh.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Bagaimanapun ia miliki kekurangan, ia tetaplah ibumu yang telah melahirkanmu.

Ia telah mempertaruhkan nyawanya saat itu. Rasa nyeri saat hendak mengantarkanmu ke dunia itu luar biasa nyerinya. Barangkali hanya sakit sakaratul maut yang mampu menyainginya. Atau memang melahirkanmu menjadi momen sakaratul maut baginya? Ia mungkin meninggal setelah kehilangan banyak darah dari dalam rahimnya. Akan tetapi, jika ia masih diberikanNya umur setelah melahirkanmu, maka keberadaanmulah yang menjadi penawar segala nyerinya.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Pengorbanannya takkan mampu kau hitung bahkan hingga seumur hidupmu.

Ia yang memberimu air susunya. Ia yang menggantikanmu popok. Ia yang merawatmu kala sakit. Ia yang memeluk dan menenangkanmu saat sedih. Ia yang membersamaimu dalam banyak episode tumbuh kembangmu. Ia yang terus-menerus memikirkanmu, memikirkan pendidikanmu, dan memikirkan masa depanmu, hingga memikirkan kehidupan akhiratmu. Ia yang senantiasa mendoakanmu saat melihatmu tertidur, tersenyum, bahkan saat menangis juga saat marah.

Nak, jangan sakiti hati ibumu. Sekalipun kau tahu ia pasti memaafkan semua salahmu…

Ia adalah sumber kebaikan bagimu. Baktimu kepadanya selama tidak mendurhakaiNya adalah lautan pahala. Pintu surga pun salah satunya memanggilmu karena baktimu kepadanya. Doanya untukmu adalah salah satu doa yang makbul di sisiNya.

Maka, Anakku, pesan ini adalah pesan seorang ibu: jagalah dirimu dari api neraka… Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan hati ibu selain melihatmu mendurhakaiNya! Sebab bila itu terjadi, ibu akan menyaksikanmu diseret ke dalam neraka, bahkan mungkin karenanya pula ibu diseret ke dalamnya.

Maka, Anakku, pesan ini adalah pesan seorang ibu: antarkan ibu menuju pintu surga… Sungguh puncak kebahagiaan hati ibu adalah saat doamu tetap mengalir meski ibu sudah pulang lebih dulu ke sisiNya, lalu di yaumul hisab diberi kemuliaan karena kau telah mempelajari dan mengajarkan Al-Quran, lantas memberi syafaat bila ibu tak diperkenankan masuk ke dalam surga.

Target Anak2

Nitip nyimpen memori di sini untuk dibaca lagi kelak. Ini adalah urutan target kedua anak pertamaku (laki-laki dan normal):

A. Bayi (0-2 thn)
1. Tengkurap
2. Merangkak
3. Berdiri, merambat
4. Berjalan, berlari
5. Bicara sederhana
6. Imunisasi dasar lengkap
7. Lepas menyusu

B. Balita (2-4 thn)
1. Toilet training
2. Bernyanyi
3. Memegang pena
4. Menggunting
5. Mengayuh sepeda
6. Bercerita kronologis
7. Bercerita imaginatif

C. Preschool (4-6 thn), TK A-TK B
1. Life time scheduling
2. Mulai membaca, menulis
3. Keterampilan, kemandirian
4. Pengelolaan emosi
5. Mengalah, ngemong adik

D. SD (6-12 thn)
1. Pematangan Iman-akhlaq
2. Pembiasaan shalat, tilawah, infaq, shaum
3. Mencintai ilmu, senang baca-tulis

E. Lanjutan (12-18 thn), SMP-SMA
1. Seleksi lingkungan pergaulan
2. Pengetahuan aqil + baligh
3. Entrepreneurship &praktek
4. Dasar ilmu berkeluarga

F. Pendampingan++
1. Memilih calon teman hidup
2. Memilih lingkungan tempat tinggal
3. Mendidik anak

Sebagai catatan tambahan: sebaiknya tidak menambah anak sebelum anak terkecil lulus toilet training. Hal ini untuk meminimalisir emosi negatif karena bentrokan rasa mual dan jijik-an dengan kotoran si kecil yang berceceran saat toilet training. Kuharap usiaku sampai minimal hingga si sulung pada tahap E & si bungsu (insya Allah anak ke-4, aamiiiiiiin) pada tahap B.