Luka Pengasuhan (1)

Saat anak berulah dan emosi emak sedang berantakan, terkadang emak hilang kendali: entah itu sebuah bentakan, sebuah ancaman, atau bahkan sebuah pukulan atau cubitan mendarat. Setelah emak sadar dan melihat sang anak terlelap atau tersenyum tak mengingat apa yang emak lakukan, rasanya sakiiiiit sekali. Emak menyesal dan berharap kejahatan tadi itu tak membekas. Kadang sampai terisak-isak berharap yang tadi itu tidak terjadi dan bertekad untuk tidak mengulangi. Namun, kenyataannya? Drama itu berulang lagi dan lagi.

Tanpa disadari emak sebenarnya tengah mengulang drama yang sama dengan saat ia kecil setelah perannya berubah dewasa. Jika mengingat saat ada di posisi anak, bukankah emak pernah berniat memperbaiki sikap orang tua kepada anak? Kenyataannya setelah menjadi emak, ia melakukan hal yang sama. Dan apakah emak berhak menyalahkan ortunya yang melakukan hal yang sama dulu? Lantas bagaimana jika anak pun kelak melakukan hal yang sama setelah ia menjadi orang tua?

Inilah satu contoh dosa warisan dari sekian banyak dosa warisan orang tua. Dan dosa warisan itu bukan hanya dilakukan orang tua terhadap anaknya. Ada juga warisan seorang guru terhadap muridnya, seorang role model atau trendsetter terhadap pengikutnya, seorang idola terhadap pengagumnya, dll. Akan tetapi, yang sedang saya bahas di atas tadi adalah dosa warisan orang tua berupa KDRT, baik secara fisik maupun mental dan verbal.

Dosa warisan ini harus diputus. Oleh siapa? Oleh anak kita? Tidak. Kita hanya bisa menuntut diri kita sendiri. Tapi seandainya jika kita tidak bisa memutusnya, bolehkah kita berharap anak kita yang memutusnya? Berharap boleh saja, tapi kita tak bisa menuntutnya. Setelah meminta maaf dengan sungguh-sungguh pun, kesalahan itu tak bisa dihapus ulang. Yang bisa kita lakukan hanya menutup kesalahan dengan kebaikan dan beristighfar memohon ampun atas kesalahan tersebut.

Kaum Munafik (3)

Bagaimana jika kita mendeteksi ciri kemunafikan pada orang lain? Kita tak perlu mencari-cari aib orang lain, tetapi jika kita menyaksikan sendiri orang tersebut berdusta, ingkar janji, dan khianat, kita tak boleh diam saja sebab jika kita diam tanpa mengingkari kesalahannya, ada yang salah dengan kita.

Lakukanlah:

  • Pengingkaran dalam hati bahwa perbuatannya itu salah & tercela lalu berdoalah semoga kita dijauhkan dari perbuatan yang sama
  • Jika bisa menghubungi dan mengajak bicara yang bersangkutan, ingatkan bahwa yang ia lakukan adalah dosa
  • Sekali lagi jika kita punya kuasa, jangan beri panggung dia untuk berdusta, berjanji, dan memegang amanah. Sebab yang akan merasakan akibatnya bukan hanya dia, melainkan orang lain, bahkan mungkin diri kita sendiri.

Hukuman bagi kaum munafik di dunia tak seperti pencuri, pezina, dan peminum khamar yang jelas dan terukur. Bahkan nama mereka menjadi rahasia di kalangan para sahabat nabi, kecuali yang terang-terangan memperhatikan kemunafikannya. Meski demikian, Rasulullah mengetahuinya dan tetap memperlakukan mereka dengan adil. Hukuman mereka di dunia hanya mereka rasakan sendiri dalam hati mereka yang tertipu dan selalu merasa aman. Padahal tidak demikian, Allah sudah mempersiapkan hukuman mereka di akhirat di dasar neraka.

Dasar neraka ini memiliki sebuah lembah yang neraka pun berlindung kepada Allah darinya. Lembah kesedihan ini dalam beberapa riwayat disebutkan akan dihuni oleh orang yang mengaku beriman dan bahkan mereka pun mendengar juga membaca Al-Qur’an, tetapi hanya sampai tenggorokan (tak berbekas di hati) sedangkan amal mereka hanya berisi kemunafikan.

Sebagai penutup, saya akan membagikan dua buah kalimat tentang perbedaan orang munafik & orang beriman. Kiranya ini menjadi renungan sekaligus hiburan untuk kita. 

  • Hati orang beriman jauh lebih indah daripada amalnya, sedangkan sebaliknya hati orang munafik sama sekali tak seindah amalnya yang terlihat.
  • Setetes air mata penyesalan orang beriman jauh lebih berharga di sisi Allah daripada segunung amal orang munafik

Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallah al-‘Azhim

Mari Menulis

Setelah menjadi emak sok sibuk, rasanya sudah lama sekali saya melupakan hobi saya yang satu ini: menulis dan berbagi dengan bahasa tulisan. padahal zaman sekolah dan kuliah dulu saya super produktif. Bukankah cara mengikat ilmu itu selain menghapal juga menulis? Belum lagi saya sempat ditugasi mengisi buletin dan blog. Dan terutama karena saya mencintainya.

Apakah cinta itu menjadi lenyap karena tergerus waktu? Hmmm, mungkin iya mungkin tidak. Padahal anak cuma dua, ngurus rumah ga becus, makan juga seringnya nge-gofood/grabfood, tapi kok waktu ini berasa ga ada buat hobi ini. Ngajar anak kok ga mudeng-mudeng malah emosi. Sampai ketika tekanan sebagai emak yang jelly melihat perkembangan anak sebayanya yang melesat, emak merenung dan istighfar.

Ini saatnya untuk rajin menulis lagi demi memelihara kewarasan. Dan bukan hanya itu, saya pikir saya ingin sebuah wadah aktualisasi diri dengan mobilitas terbatas. Yang paling utama mungkin saya perlu menabung kebaikan lebih banyak agar waktu terasa lebih berkah. Sudah cukup scroll dan scroll, jangan terlalu lama, update kabar singkat saja. Tak perlu silau dengan dunia orang lain, syukuri waktu yang ada dengan kemampuan sendiri: menggoreskan pena. Bismillah, mari menulis lagi.

Awalnya menulis diary saja. Lalu melihat tulisan lama, menyusunnya menjadi buku dan menerbitkannya. Juga membuat plot cerita baru (semoga tidak lupa untuk mengembangkan dan merampungkannya). Dan… ahya, ternyata saya tak melupakan password blog ini, Alhamdulillah.

Bagi yang ingin membaca buku-buku saya, silakan download via playbook google. Dua di antaranya gratis dan merupakan kumpulan diary penulis yang dikemas menjadi satu cerita utuh layaknya novel:

  1. Merindukan Kematian
  2. DK: It’s our way of love in campus life

Dan dua lainnya (sebenarnya baru satu kisah roman, tapi dibuat 2 bahasa) berbayar:

  1. Dimanakah Tuhan??
  2. Where is God??

Sengaja saya bedakan nama penulisnya untuk membedakan mana yang based on true life (R. Khansa) dan mana yang fiksi religi (Erkhansa). Insya Allah pada setiap nama penulis ini saya akan membuat yang versi gratis dan berbayar dengan beberapa pertimbangan pribadi dan hasil diskusi.

Kaum Munafik (2)

Lantas bagaimana agar kita bukan bagian dari mereka? Bukankah mereka tidak menyadari kemunafikannya? Sesuatu yang pasti bagi kaum munafik adalah apa yang ada di dalam hatinya tak sejalan dengan ucapan dan perbuatannya. Lisannya mengaku cinta padahal hatinya penuh kebencian. Amalnya tergantung bersama siapa ia saat itu, sedangkan hatinya hanya cenderung pada perhiasan dunia. Lantas bagaimana kita bisa melihat hati seseorang? Untuk tulisan kali ini, cukuplah kita merenungi hati kita sendiri agar kita terhindar dari kemunafikan.

Rasulullah secara jelas menyebutkan ciri-ciri orang munafik:

  • Jika bicara, ia dusta
  • Jika berjanji, ia ingkar
  • Jika diberikan kepercayaan, ia khianat

Maka, berhati-hatilah kita jika ada bibit-bibit kemunafikan dalam diri! Mari memperbanyak taubat dan istighfar sambil terus memperbaiki diri. Pelihara rasa bersalah saat kita melakukan dusta, ingkar janji, dan khianat atas amanah. Jika mampu, teteskan air mata saat sendirian bersama Allah saja. Jaga keikhlasan dengan cara sering menengok isi hati sebelum dan selama beramal. Bahkan setelah beramal pun, jangan biarkan setan menggelincirkan kita dengan pujiannya pada jiwa kita yang lemah.

Jangan merasa aman dari kemunafikan ini. Terus tengok dan pantau isi hati kita sambil tetap meminta perlindungan Allah agar kita dijauhkan dari kemunafikan. Sebab keikhlasan dan kemunafikan tak pernah menghuni hati secara bersamaan, bangun dan hiasi hati kita dengan iman dan keikhlasan agar kemunafikan semakin terkikis.

Wallahu a’lam

Kaum Munafik (1)

Apakah yang paling ditakuti para sahabat Rasulullah? Kita semua berpikir mungkin kekafiran. Tentu saja mereka takut menjadi kafir, tetapi ternyata bukan kekafiran yang paling mereka takutkan. Ternyata yang paling mereka takutkan adalah kemunafikan.

Kenapa mereka sangat takut menjadi munafik, bahkan saat salah satu dari mereka menuduh dirinya sendiri munafik, mereka pun berpikir demikian: jangan2 aku juga? Mungkinkah aku termasuk? Dan mereka tidak mau, mereka benar-benar takut menjadi bagian dari kaum munafik. Alasannya adalah karena orang munafik itu tak sadar bahwa dirinya telah menjadi munafik.

Allah telah menjelaskan tentang orang munafik ini lebih banyak daripada orang kafir pada awal Q.S. Al-Baqarah, yakni ayat 8-20. Betapa mengerikannya tipuan Allah terhadap mereka. Ya, Allah takkan tertipu, mereka hanya menipu diri mereka sendiri. Dan tipuan Allah ini akan berlanjut hingga di Padang Mahsyar.

Kelak mereka berpikir akan selamat bersama orang beriman sebagaimana saat di dunia bersama mereka. Allah berikan mereka sedikit cahaya harapan, tetapi Allah juga yang memadamkan harapan mereka. Saat orang-orang beriman mampu bersujud kepada Rabb mereka, Allah akan membuat orang munafik tak mampu. Ujian terakhir yang akan mereka dapatkan untuk memisahkan mana yang sebenar-benar mukmin dan mana yang munafik juga akan mereka dapatkan: sirath antara Padang Mahsyar dan dataran menuju pintu surga.

Maka, mereka yang benar berada di atas shirathal Mustaqim di dunia akan mampu melalui sirath itu sesuai kecepatannya beramal di dunia: ada yang terbang secepat kilat, ada pula yang secepat hembusan angin, ada yang berlari dan terus berlari, ada yang berjalan santai, dan ada juga yang merangkak sambil merasakan deraan siksa menimpa punggung mereka. Sekalipun ada siksa di atas sirath, tak seorang pun memilih untuk jatuh sebab dasar neraka di bawah sirath itu hanyalah untuk Firaun dan teman-temannya yang sudah lebih dulu dihalau ke sana, juga untuk… para munafikun.

70 tahun orang munafik ini melayang setelah jatuh dari sirath menuju dasar neraka. Bayangkan waktu selama itu pun siksaan bagi mereka. Siksa sebelum siksa. Jangan kira asap neraka itu hanya pengap dan menyesakkan, ia juga panas dan gelap. Dan mereka melayang-layang di sana selama 70 tahun! Dan siksa bagi mereka di dasar neraka pun menanti mereka dengan kemarahan, tanpa istirahat, selama-lamanya.

Na’udzubillah min dzalik

😭

Alangkah ngerinya…