Arsip Kategori: diary ummat
kategori yang contentnya fenomena realistis
Say NO to Pornografi!
Alhamdulillah, akhir bulan Juni kemarin ochie berkesempatan mendapatkan training of trainer kerjasama Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan yayasan Kita dan Buah Hati. Topik kali itu adalah pengembangan kesadaran pemuda terhadap faktor destruktif, wa bil khusus: pornografi. Ochie merasa sangat beruntung memperoleh ilmu dua malam tiga hari di hotel poster jalan suci (deket SMPku dulu nih). Target dari TOT 2011 ini adalah rekrutmen PKMI Gempita yang akan kembali “turun ke jalan” mempropagandakan sesuatu untuk pemuda Indonesia.
Hari pertama adalah pembukaan dan kami mendapat 3 materi utama, di antaranya:
a. Kebijakan Pemerintah
b. Menyiapkan pemuda tangguh di era layar (digital)
c. Mengenali dan meningkatkan kepercayaan diri
Jika hari pertama lebih ke persiapan keilmuan, maka hari kedua lebih fokus ke teknis, yaitu:
a. Skill komunikasi
b. Contoh training untuk remaja dalam penyadaran menolak pornografi
c. Macam-macam kelas (ceramah, seminar, penyuluhan, active training), manajemen kelas hingga seni menjawab pertanyaan anak; dll…
Di hari ketiga kami melakukan praktek kelas dan merancang kegiatan angkatan yang insya Allah akan dieksekusi kemudian. Yang paling mengharukan adalah penutupan, yakni saat Pak Wildan, ketua angkatan kami, memberikan kata sambutan. Beliau adalah seorang guru di daerah yang menghadapi persoalan anak didiknya yang punya banyak masalah. Di sisi lain, beliau adalah ayah seorang puteri yang mengkhawatirkan kekejaman zaman ini.
Yup. Preambulenya jadi terlalu panjang. Belum masuk cerita inti lho ini, teman2!
Pemuda, khususnya remaja, saat ini sedang dibombardir hal-hal negatif, seperti rokok, narkoba, aliran sesat, pornografi, hingga sex bebas. Yang menarik adalah kenyataan bagian otak yang dirusak oleh faktor-faktor destruktif! Ternyata pornografi lebih merusak daripada narkoba. Jika cocain dan methamphetamine hanya merusak tiga bagian (orbitofrontal, insula hippocampus temporal, dan cingalute)[BioPsy 2002, JNeurosc 2004], ternyata pornografi merusak lima bagian (tiga yang tadi ditambah nucleus accumbens patumen dan cerebellum)[JPsycRes 2007]. Akan tetapi, kecanduan narkoba dapat terlihat, sedangkan kecanduan pornografi tidak terlihat. Parahnya lagi, konsumen pornografi dapat mengakses “obat candu”-nya melalui memori di otaknya.
Apa itu pornografi? Pornografi berasal dari 2 kata, yaitu porno dan grafi. Porno arti “halus”-nya adalah mempergunakan alat reproduksi, sedangkan grafi artinya gambar (baik gambar statis maupun dinamis: kumpulan gambar-gambar pada setiap satuan waktu, dengan kata lain sejenis video dkk). Pornografi ini menjadi faktor penyebab terbesar dalam kasus pornoaksi (dengan nama lain zina).
Kinerja perusakan otak dengan pornografi pun dijelaskan dalam active training. Otak yang dibagikan menjadi dua fungsi, yaitu direktur dan responder. Direktur atau istilah sebenarnya pre frontal cortex merupakan bagian yang bertanggung jawab untuk merencanakan masa depan, pengorganisasian, kontrol diri dan emosi, serta pengambilan keputusan. Sementara itu responder atau sistem limbic merupakan keinginan dan hasrat untuk memperoleh kenikmatan. Remaja umumnya memfungsikan otaknya dengan perbandingan Direktur:Responder = 1:3, tetapi jika ia merupakan konsumen dari pornografi, fungsi Direktur akan menurun karena otaknya sibuk dengan fungsi Responder. Akibatnya ia tak memiliki kecerdasan yang seharusnya. Bahkan, otaknya akan minta dipuaskan terus-menerus oleh keinginannya.
Pornografi ini bahkan telah menyerang anak-anak kita di usia yang seharusnya otak mengalami perkembangan kecerdasan yang akseleratif. Bayangkan! Anak-anak malah dipaksa menjadi “dewasa” sebelum waktunya. Mereka belum siap untuk mendapatkan tanggung jawab, bahkan otak mereka sudah tidak lagi jernih, tetapi mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan keji karena terinspirasi oleh pornografi. Parahnya pornografi ini menyusup ke dalam konsumsian mereka, seperti komik, novel, games, film, dll.
Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam menyadarkan anak-anak dan remaja terkait kasus pornografi ini?? Inilah pentingnya dilakukan active training yang menyadarkan siapa mereka dan apa peran mereka sebagai manusia yang seutuhnya. Anak-anak harus disibukkan dengan mengeksplorasi keistimewaan mereka dan belajar meningkatkan kapasitas daripada sekedar melakukan hal yang tidak bermanfaat. Selain itu, anak-anak harus menyadari bahwa ia adalah hamba Allah. Anak-anak harus diawasi pergaulannya, tapi bukan dalam rangka memagari ia agar tak berteman dengan siapapun, melainkan memilih lingkungan yang baik untuknya. Di sinilah peran orang tua dalam membina anak-anak mereka.
Hmmm, bagaimana dengan peran kita yang belum menjadi orang tua? Kita dapat menggabungkan diri ke barisan yang menyadarkan orang tua atau bahkan langsung ke anak dan remaja dengan menjadi seorang trainer atau mentor… (^o^)/ yuuuuuuuuuk!
–
phew, masih sangat banyak PR kita!
Ialah Kepemimpinan (Overview Khalifatur Rasyidin)
Rasanya ochie pernah janji mau nulis topik ini di blog. Bismillah, silakan dikaji melalui buku yang bermacam2. Di sini ochie hanya bercerita dari sebuah kajian yang dibawakan seorang ustadz ahli sejarah (termasuk sejarah NKRI) dan buku2 sirah shahabat yang pernah chie baca, tapi chie lupakan siapa pengarang dan penerbitnya.
Pada hakikatnya manusia adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Ia punya kehendak untuk memimpin dirinya memilih jalan yang diilhamkan Allah: fujur atau taqwa? Akan tetapi, di artikel ini yang lebih banyak dibahas (ah, sedikit koq dibahasnya mah) adalah pemimpin dalam konteks jama’ah besar, khusushon berkaca dari Khalifatur Rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib (plus2nya di tulisanku ini ada Umar bin Abdul Azis).
Cara Pemilihan
Keempat khalifah dipilih dengan cara yang beragam. Abu Bakar dipilih melalui majelis syura yang diwakili oleh kaum Anshar dan Muhajirin juga kelompok2 mini yang masing-masing punya calon. Karena kebuntuan dan sikap spontanitas Umar, orang yang dipilih menjadi imam shalat pengganti Rasulullah inilah yang menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasulullah.
Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khatthab dipilih oleh Abu Bakar langsung sebelum ia wafat karena sakit yang dideritanya. Yup, Umar mendapat warisan langsung dari khalifah sebelumnya untuk menjadi khalifah berikutnya. Gelar amirul mukminin (pemimpin orang beriman) pun populer di zamannya.
Setelah Umar syahid dibunuh seorang yahudi pendendam (Abu Lulu; CMIIW plis…), tim yang telah ditunjuk sebelum ajalnya menjemput diminta untuk melakukan syuro. Setelah mengalami kebuntuan, anggota syuro memutuskan untuk voting. Ternyata jumlah pendukung Utsman dan Ali sama besar, kecuali satu orang yang belum memastikan suaranya. Singkat kata, semalam suntuk orang ini (Abd Rahman bin Auf; CMIIW plis…) menghimpun voting dari masyarakat Madinah (wow, semalam only, Allahu Akbar!) untuk memberikan suaranya. Ternyata kebanyakan pemimpin mukminin (kepala keluarga) lebih banyak yang memilih Utsman bin Affan.
Insiden pun terjadi! Utsman yang telah bermimpi diajak berbuka oleh Abu Bakar, Umar, dan Rasulullah, esoknya syahid dibunuh sekelompok pemberontak. Konflik tuduhan nepotisme sekaligus fitnah harta dan tahta telah mengantarkannya kepada eksekusi yang menyakitkan. Darahnya mewarnai al-Quran yang tengah dibacanya. Di tengah konflik yang berlipat-lipat Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi khalifah keempat. Ali pun mengakhiri hidupnya (masa kepemimpinan yang paling singkat) dengan cara yang sama dengan dua pendahulunya: syahid setelah usaha pembunuhan!
Beberapa periode kepemimpinan berlalu di tangan Bani Umayah yang begitu menggigit. Di tengah kehidupan borju dan mewah, Umar bin Abd Azis terpilih menjadi khalifah yang gemilang dengan sebuah skenario cerdas seorang tabi’in. Umar bin Abd Azis mengembalikan nilai-nilai kepemimpinan yang hampir hilang. Meski hanya dua tahun, di bawah tangannya kaum mukminin merasakan kembali rahmat saat dipimpin oleh kakeknya, Umar bin Khatthab.
Gaya Memimpin
Setiap pemimpin yang namanya disebut di atas memilik gaya yang berbeda. Abu Bakar dengan sifat kelembutannya dapat dengan tegas memenangkan pendapatnya untuk memerangi mukmin yang tak mau berzakat. Umar dengan sikap keras dan tegasnya sering mengalah dan mengakui kesalahan jika kebijakannya diingatkan, bahkan oleh seorang wanita sekalipun (salah satunya Khaulah bint Tsa’labah). Utsman yang malaikat pun malu kepadanya mampu memperluas daerah kekuasaannya dan tak kehilangan hobi membaca al-Qurannya meski di tengah kemewahan. Ali dengan kecerdasan dan keberaniannya mampu terus bersabar meski konflik di mana-mana mendera pada zamannya. Umar “kedua” yang terbiasa hidup mewah pun rela meninggalkan semuanya saat ia menjabat menjadi seorang Khalifah.
Yang paling banyak disorot pena sejarah adalah dua Umar.
- Jika sang kakek rela malam-malam berpatroli untuk mengetahui kondisi rakyatnya, maka sang cicit menangis hanya karena khawatirkan seekor kambing celaka karena rusaknya jalan di suatu daerah kekuasaannya.
- Jika Umar pertama membawa sekarung gandum di punggungnya dan bolak-balik ke rumah untuk membangunkan istrinya guna membantu seorang wanita yang melahirkan pada tengah malam buta, maka Umar kedua menanggalkan semua kemewahan yang ia punya setelah menjabat kepemimpinan dan berkata pada istrinya, “bidadari surga lebih cantik,” saat istrinya menangis karena merasa kekurangan harta.
- Jika Umar bin Khatthab terkenal dengan gelar “amirul mukminin” kemudian ia tak takut tidur di selasar masjid tanpa seorang bodyguard pun, maka Umar bin Abdul Azis bercita-cita jannah setelah menjadi khalifah yang dalam waktu dua tahun saja menjadi berkah bagi pemerintahan Islam.
Masi terkait gaya kepemimpinan: karakter ideal pemimpin
Yang kita perlukan saat ini untuk memperbaiki sebuah bangsa adalah seorang pemimpin seperti mereka: yang karakternya baik dan kuat. Karakter kuat yang tak baik akan menjadi Hittler masa kini, sedangkan karakter baik yang tak kuat akan menjadi mmm, hehe (koq ga ngomong, chie? Masih hidup jadi kurang ahsan rasanya sebut nama). Intinya pemimpin harus punya agama yang baik, tetapi ia bukan hanya pandai menshalihkan diri sendiri, melainkan menshalihkan lingkungannya secara sosial.
Hidup Seorang Pemimpin
Pemimpin adalah pelayan rakyat. Oleh karena ia adalah pelayan yang sibuk melayani, wajar jika ia digaji dari baitul mal (sebagai kompensasi tak ada waktu untuk mencari nafkah). Akan tetapi, apa yang dikatakan Abu Bakar saat mengetahui gaji kepemimpinannya “berlebih” saat dikumpulkan istrinya? Ia menginfaqkan semuanya! Harta yang ditinggalkannya untuk khalifah berikutnya hanyalah sebuah ember dan seekor keledai. Umar pun mengeluh dengan tangisan saat ia diamanahi untuk melanjutkan kehidupan seorang khalifah yang bersahaja ini.
Gubernur-gubernur pilihan khalifah pun punya gaya hidup yang mirip. Ada di antara mereka yang hanya memiliki dua baju: hanya untuk ganti ketika dicuci. Ada di antara mereka yang tak mau lagi diberi amanah yang sama ketika waktu kepengurusannya selesai. Ada banyak yang istimewa!
[OOT dikit] Sobat, kalau cita-citamu ingin menjadi orang kaya (di dunia), jangan jadi pemimpin! Sebab mereka seharusnya lebih sibuk untuk orang lain (melayani) daripada dirinya sendiri. Hanya ada satu jalan kalau kamu mau kaya: jadilah pedagang, pebisnis, pengusaha! Akan tetapi, ingatlah bahwa apapun yang ada di tanganmu akan dimintai pertanggungjawabannya. Harta dan tahta (juga “wanita” or “Keluarga” mayb in general case) yang dititipkanNya akan mengantarmu pada satu di antara dua: surga atau neraka.
Antara Zuhud dan Qana’ah
Finally I get what different these both side…
Beberapa pekan lalu Alhamdulillah dapet ilmu dari seorang ustadzah^^ keduanya sama-sama memandang dunia tidak sebagai ambisi. Bedanya? Klo zuhud itu ada di posisi bergelimang nikmat, maka qana’ah itu ada di posisi sebaliknya. Zuhud itu artinya tidak berlebihan, tidak menyenangi sesuatu kecuali bermanfaat juga untuk ukhrawinya, dsb. Di sisi lain, qana’ah artinya tidak iri dan dengki melihat orang lain mendapat nikmat lebih, tetap bersyukur dan menerima pemberiannya, dsb. Singkat kata: calon pemimpin yang baik adalah ia yang saat tahta belum di tangannya ia bersikap qana’ah, sedangkan pemimpin yang baik setelah tahta di tangannya, ia bersikap zuhud.
Setiap kepemimpinan dimintai pertanggungjawabannya
Yup, sesungguhnya kasihan sekali seseorang yang menjadi seorang pemimpin, Sobat: berpikirlah 1000x untuk menjadi seorang walikota, gubernur, presiden, dkk . Jika mereka berbuat adil, pendukung kezhaliman di sekelilingnya akan terus mengajaknya untuk berbuat zhalim. Akan tetapi jika mereka berbuat zhalim, maka nerakalah jawabannya di akhirat!
Lantas bagaimana jika kita dipercayai menjadi seorang pemimpin oleh sebuah massa? Ya, ga serta merta ditolak juga. Kita berhak katakan “ya, insya Allah,” jika merasa capable kemudian tak melepaskan ikhtiyar sebagai pemimpin, tak melepas doa agar dijauhkan dari berbagai fitnah, tak melepas tawakkal saat ujian begitu berat melanda.
Then, bagaimana kita yang menjadi rakyat jelata? Hmmm, ternyata adab kepada pemimpin bukan hanya taat saja, melainkan juga mengingatkannya. Yup, kasihan sekali kalau pemimpin kita berbuat salah kemudian kita diamkan. Artinya membiarkan begitu saja ia melahap api neraka. Bahkan, mungkin jadi kita ikut melahap api jika kita bukan hanya tak mengingatkannya, melainkan mengikuti kezhalimannya. Di hari akhir kelak akan ada orang-orang yang menyalahkan pemimpin mereka yang mengajak kepada kesesatan. Sementara pemimpin mereka menyalahkan mereka sendiri karena telah ikut.
Akhirul kalam…
Panjang juga nafas artikel ini ya (padahal masi pengen OOT ochie teh
). Simpulan singkatnya: bahwa setiap manusia dilahirkan sebagai pemimpin (pemegang amanah mengelola alam semesta). Sebagai tambahannya, bagi mereka yang dikaruniai amanah kepimpinan berlebih, haruslah lebih berhati-hati sebab di hari akhir kelak setiap yang dipimpinnya akan meminta pertanggungjawabannya di dunia.
–
Hmmm… Setiap pemimpin (bahkan pemimpin bagi dirinya sendiri pun) mungkin bisa lari dari pengadilan dunia, tetapi tidak di pengadilan akhirat… sebab yang menjadi hakimnya adalah Yang Maha Menyaksikan sampai ke kedalaman shadr (hati)
Catatan Aksi 31 Januari 2011 di PN Bandung
Sedikit meng-overview diskusi yang dilakukan dengan beberapa orang pasca aksi 31 Januari 2011 di depan PN kemarin. Sebenarnya tuntutan yang dilakukan peserta aksi yang pro hukum itu bukan atas tindakan pornoaksinya, melainkan pada tindakan pornografinya (merekam dan memberikan kepada pihak yang semakin mengedarkan). Tindakan pornoaksi tidak ada yang lebih layak hukumannya daripada rajam setelah terbukti (kalau dalam al-Quran disebutkan harus ada 4 saksi).
UU APP, eh AP dink: kan pornoaksi dari RUU APP dicoret weks :p, sebenarnya sangat sangat cacat. Kiblat pembuatannya adalah hukum di Negara yang di Negara tersebut pun hukumnya tentang ini pun tak dihormati. Bagaimanapun menurutku hukum Islam yang paling layak dijadikan kiblat bagi hukum di Indonesia.
Honestly, kalau oci dalam posisi seorang ibu yang anaknya menjadi korban pelecehan karena akibat video ini, oci ga akan puas dengan hukuman 5 tahun bagi pelaku! Apalagi menjadi 3.5 tahun! Tambah lagi, yang dihukum hanya satu orang padahal sebenarnya pelaku penyebarannya itu ada beberapa orang. Sungguh 5 tahun itu takkan menebus semua dosanya!
Apakah aksi kemarin itu sia-sia? Kupikir tidak!
Mari lihat sejarah (ya apalagi hujjahku klo bukan ini?)! Masih inget perang Mut’ah dan Perang Tabuk? Atau perjanjian Hudaibiyah deh… inget? Kan kayanya ga ada kemenangan yang signifikan tu, Roma ga pernah jatuh ke tangan kaum mukmin… eh, ke Mekah buat berhaji ga bole, qta bolak-balik Mekah Madinah apalagi! Tapi, Temans, di sana ada ujian kepercayaan kepada pemimpin, ada momen persatuan ummat, ada undangan simpati dan keseganan pihak lain, ada strategi yang akan Allah jawab di kemudian hari kelak apa yang terjadi.
Weh, meleber: back to topic! Beberapa peristiwa yang terjadi di aksi kemaren antara lain:
- Tabligh Akbar
Ada materi ta’lim di aksi kemarin. Memaknai makna jihad fi sabilillah dengan berbagai konteks dari pelaku dan pendukungnya. Ditutup dengan doa yang selalu menggetarkan. Ya Allah, kami rindu hidup dalam naungan agamaMu secara penuh…
- Masuk ke dalam ruang sidang
Penuh sangat, pengap dan panas, asap rokok diperbolehkan mengepul… hufftt, pasti neraka jauh lebih buruk daripada ini… hanya saja ada satu yang menjadi catatan. Hehe, sepertinya yang kemarin memprovokasi agar pihak pro hukum mundur itu kurang professional. Jadi ceritanya ada laki-laki yang tampilannya bukan mahasiswa, bukan juga laskar dan asatidz, bilang agar kita tidak masuk. Ada juga yang ngeluh ngapain si aksi, lapar, dsb. Kenapa tidak professional? Sebab pakaiannya itu, weh, kayanya si udah jelas dari pihak pro pelaku kejahatan.
- Anarkisme
Elemen Islam yang terdiri dari ormas-ormas memiliki karakternya sendiri. Ada yang mudah terpancing emosi, ada yang lebih menyukai ketenangan, ada yang bergerak karena ilmu, ada yang bergerak karena rasa, dkk. Sebenarnya aksi kemarin itu aksi damai, artinya tindakan anarkis bukan bagian dari skenario. Akan tetapi, di pintu belakang PN Bandung pihak pro hukum dan pro pelaku zina bertemu ditengahi provokator (yang kemarin tampaknya lari dikejar) sehingga terjadi bentrokan. Silakan dicek videonya, siapa yang mengeluarkan senjata tajam. Jika perlu di antara pelaku bentrokan itu cek tasnya adakah yang memiliki senjata api, kemudian tahan mereka.
- Ucapan terima kasih
Terima kasih diucapkan kepada polisi yang telah mengamankan orang-orang yang terlibat bentrok kmarin. Mereka ikut mengawal keberlangsungan aksi dengan baik tanpa ikut perkelahian kedua pihak.
- Peringatan kepada pendukung maksiyat
Yah, bener kata salah leader API (ust Asep): semoga lekas tobat. Jangan mau dibayar untuk sesuatu yang nurani pun meragukan “apakah benar pembelaan ini?”! Biarkan mereka yang jadi otaknya tidak memiliki pendukung… apa artinya duit yang dalam waktu bentar aja habis dibandingkan jika Allah menutup mata nuranimu?
- Tuntutan kepada Majelis Hakim
Jika tuntutan banding agar hukuman pelaku kejahatan menjadi lebih berat ini tidak menang, maka seluruh ormas Islam yang tergabung dalam API akan mengirimkan surat pemecatan dan pengusiran dari kursi majelis hakim PN Bandung terhadap pihak yang disinyalir menjadi mafia hukum.
–
Sebuah catatan pendek tambahan
Hufftt, alangkah sulitnya jika bukan iman yang bicara…
Surat Cinta untuk Pelaku dan Pendukung Maksiyat Bernama ZINA
Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah yang begitu santun. DiberikanNya peringatan kepada hamba-hambaNya berupa bencana alam yang begitu beragam; ditangguhkanNya azab pedih di akhirat sebab di dunia masih ada hamba-hambaNya yang membela agamaNya.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada kekasih yang paling kekasih. Beliau yang sampai ajalnya datang pun masih saja mengingat ummatnya, berharap kebaikan untuk mereka sehingga qta yang menjadi bagian dari mereka masih berjalan di muka bumi sampai saat ini dengan membawa iman.
Wahai pezina laki-laki, siapapun kamu, yang kami benci bukanlah dirimu, tapi perbuatanmu. Karena itulah, karena kami kasihan kepadamu, kami sebenarnya ingin menawarkan hukum rajam kepadamu agar tak lagi ada persoalan di hadapan mizanNya kelak. Ataukah imanmu pada Allah Yang Maha Melihat dan hari akhirat (surga, neraka, mizan) sudah mati?
Wahai pezina perempuan, siapapun kamu, yang kami benci bukanlah dirimu, tapi perbuatanmu. Mungkin kamu bisa bebas berlenggang dengan dosamu di dunia, tetapi tidak di sisiNya kelak. Jika kamu membaca tulisan ini dan masih bisa menangis (bukan marah), maka bersyukurlah kamu masih memiliki modal untuk bertaubat. Hukumanmu adalah sama dengan pasanganmu di sisiNya.
Untukmu pezina perempuan yang pernah hamil di luar nikah dan anak hasil zinamu perempuan, kamu jangan menyembunyikannya. Kasihanilah anakmu, jangan buat ia berdosa tanpa disadarinya. Sekali lagi, untukmu pezina perempuan yang pernah hamil di luar nikah dan malah menggugurkan anakmu, ingatlah bahwa aborsi itu pun akan dimintai pertanggungjawaban.
Wahai penyebar video zina, baik yang merekam, menemukan tetapi tidak menghapus, lantas malah menyebarkan, takutlah kamu kepada Allah! Doa ibu-ibu yang terzhalimi saat anak-anaknya menjadi korban adalah salah satu doa yang tidak Allah hijab! Apa manfaatnya kamu melakukan hal tersebut? Selamat! Kamu telah memberikan andil besar kepada pengikut-pengikut dosa… Selamat! Dosa mereka pun kamu dapatkan!
Wahai penonton zina, matamu pun telah berdosa. Menangislah, menangislah, menangislah… berharaplah air mata itu bisa menyucikan hatimu dan menghindarkanmu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah jin dan manusia! Katakan kepada kami dengan jujur, apakah iman masih manis di hatimu? Bersyukurlah jika ia masih manis di hatimu… Atau kamu malah mengajak teman-temanmu yang masih polos untuk sama melihatnya untuk kepentingan nafsu?
Wahai pendukung zina, mata nuranimu telah buta. Jika kamu benar mendukung pelaku zina dan bukan zinanya, kamu akan menasihati pezina dengan nasihat yang baik, bukan pembelaan yang juga buta. Atau jangan-jangan kamu juga telah melakukannya dan ingin dibela jika suatu saat ada di posisi yang sama? Dengarlah, saudaraku, di hari akhir kelak takkan ada pembela selain iman dan amal baik semata. Pertemanan kalian sungguh akan menjadi permusuhan di akhirat kelak karena yang tidak berlandaskan karena Allah itu fana dan tak mungkin kekal.
Wahai pemimpin, wahai majelis hukum, apakah benar dugaan kami bahwa kalian telah menjadi mafia hukum? Jika benar kalian yang telah memperjualbelikan hukum, bersiaplah dengan azabNya mulai dari sakratul maut. Jangan main-main! Permasalahan ummat telah diamanahkan di pundak kalian, tapi kalian telah mengkhianatinya?
–
Rabb, jangan Kau hukum kami atas apa yang mereka perbuat,
amin.
(setelah emosi mereda)
Hanya bisa mengatakan, “… jika kalian masih memiliki iman…”
Zina: Fitnah Akbar!
Setiap Senen dan Kamis berlangsung sebuah agenda pengadilan di PN Bandung diiringi aksi beberapa LSM. Harapan LSM pro yang terlibat rutin di aksi tidak berubah: qta ingin pelaku zina ditindak tegas. Harusnya ada dukungan dari walikota dkk sebagai pemberi izin sebagaimana dulu sebelum sidang menggembar-gemborkan penolakan peradilan karena telah jelas dia (blom sebut brand ni) bersalah.
Dengan dukungan semu (ya semu karena di akhirat ia takkan mendapat seorang pendukung pun), pelaku zina bisa jadi berhasil dari hukuman di dunia. Akan tetapi, bagaimana jika hukuman ditunda menjadi hukuman akhirat yang pedih, yang membakar, yang tiada berhenti dan tak sejenak pun meninggalkan? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah… lebih baik ditebus di dunia meski pahit, daripada harus ditebus di akhirat kelak.
Berbeda kisah masa ini di negeri yang begitu carut-marut tak tentu, kisah masa lalu mengingatkan qta… bahwa ada pelaku zina yang mengakui dosanya dan ingin menebus penyesalannya dengan sebuah hukuman… ia datang mengaku untuk dirajam bersama pasangannya… mereka akhirnya meninggal sebelum dera yang ke-100 (keduanya belum menikah kalau ga salah) dan yang Rasulullah janjikan kepada mereka adalah surga sebab hukuman di dunia ini menyucikan dari dosa zina tersebut.
Zina adalah salah satu dosa besar setelah menyekutukan Allah dengan sesembahan lain dan mendurhakai orang tua. Salah satu yang menjadi penentu keberkahan sebuah negeri adalah bersihnya negeri tersebut dari perbuatan zina. Oleh karenanya, hukuman pezina memang tidak main-main: dera.
Kasihan sekali anak-anak hasil zina, mereka tak mendapatkan hak nasab meski secara biologis memiliki ayah. Parahnya, ia bisa berakibat zina menerus untuk keturunannya. Simplenya begini: seorang perempuan hamil di luar nikah (memang kemudian menikah dengan orang yang menghamilinya), tetapi ia menyembunyikan status anaknya itu anak haram. Anaknya kelak menikah dengan diwalikan oleh ayah biologisnya padahal yang lebih berhak mewalikannya adalah wali hakim. Maka, anak tersebut tidak sah nikahnya; akibatnya ia berzina dengan “suaminya”. Berlanjut ke keturunannya. Oleh karena itu, seorang ustadz mengatakan bahwa akan ada dari keturunan pezina yang harus menebus dosa orang tuanya.
Zina. Fitnah akbar. Bahaya besar. Bahkan untuk mendekatinya saja (berkhalwat, berdua2an di tempat sepi misalnya), diancam secara “halus” dalam al-Quran al-Isra:32, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
Nah, zina yang dibahas di atas itu baru mengenai pornoaksi. Lantas bagaimana dengan pornografi? Kan bisa jadi dua orang tidak benar-benar melakukannya, tapi untuk sebuah tujuan mereka menyebarkan adegan palsu untuk dikonsumsi orang lain… atau mungkin bahkan untuk tujuan politik “menjajah” suatu bangsa.
Di tengah arus informasi (gambar, video) yang begitu dahsyat, tetap dua solusi (dari jaman dulu mpe sekarang) bagi seorang yang telah akil baligh memfasilitasi fitrah biologisnya: menikah atau shawm. Yang dimaksud menikah di sini adalah saat nafsunya tertarik sesuatu di luar rumah, yang diingatnya untuk menjadi “fasilitas” adalah istrinya. Yang dimaksud shawm di sini bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan juga tentang menahan dari segala sesuatu yang mendorong nafsu syahwat menjadi-jadi.
Ok, artikel sederhana ini dcukupkan sekian dulu. Semoga ada nilai iman yang membekas di hati pembaca bahwa zina dkk-nya (pornoaksi, pornografi, pornonoisi, dll) bukan soalan kecil. Pelakunya harus ditindak tegas, bukan hanya untuk kebaikan masyarakat, melainkah untuk kebaikan pelakunya di akhirat. Wallahu A’lam.