Arsip Kategori: diary muslimah

catatan harianku dan akhwatku sebagai seorang muslimah

Memoar Ramadhan…

Ramadhan menatapku lembut kemudian seolah bertanya, “Bukankah kau menanti-nantikanku sejak beberapa bulan yang lalu?” Aku hanya bisa menunduk dan tak menjawab. Malu aku menatap wajahnya yang begitu bening, terlebih hanya sekedar memandang matanya yang jernih. “Bukankah kau merindukanku?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa menikmati isak tangis yang begitu nyeri menghimpit.

Ramadhan tahu aku membagi perhatianku tidak hanya kepadanya, tetapi juga kepada mereka yang seharusnya tidak kupikirkan berlebihan sekarang. “Apakah kau mau memaafkanku? Apakah kau masih mau menjadi pembelaku saat tak seorang pun membelaku? Apakah kau akan tetap antarkanku sampai di depan pintu ar-rayyan?” tanyaku bertubi-tubi. Meskipun aku sebegini kurang ajar, aku tetap mengharapkan ia menjawab iya.

Namun, Ramadhan tak menjawab iya. Hanya kulirik sejenak senyumnya yang tetap tulus dan aku kembali menunduk. “Itu tergantung dirimu…” jawabnya, “masih ada waktu tinggalku tahun ini. Sekarang, terserah kamu mau memilih untuk menahan keinginanmu untuk memperhatikan segala sesuatu di luar peranmu sebagai seorang hamba…”

Itu versi cerpennya beberapa tahun lalu (lupa pas tingkat berapa ditulisnya pertama kali). Nah, ini versi diarynya mungkin (lupa juga dulu naruh diary dan mutaba’ah yaumian Ramadhan di mana, astaghfirullah).

MEMOAR RAMADHAN SELAMA DI KAMPUS GAJAH DUDUK

Ramadhan 1427
Masih jadi mahasiswa TPB yang lucu dan ngekor senior. Pengalaman yang berharga di sini adalah kunjungan ke panti bersama tim DSM Gamais. Seingatku oci bungsu sendirian di akhwat, itu pun dadakan. Mengharukanlah poko’e, tapi sayangnya ga punya dresscode yang sama dengan kk2 tingkat. Hmmm, pertama kali juga ngerasain ifthar jama’i sekampus. DAHSYAT! Waktu itu klo ga salah abis pengumuman nilai UTS yang “bagus” :D

Ramadhan 1428
Tingkat dua! Mulai ngurusin syi’ar Ramadhan, tapi masi ikut instruksi (ga inisiatif banget). Apa yang berkesan di sini ya? Kayanya kgiatan MSTEI yang pesantren Ramadhan de, ya? Belajar apa c itu namanya… ngelas? bukan, bukan… nge… apa ya namanya? pokonya itu yang nyambungin kabel sama kabel, mpe nyetrum ke kaki :D special thanks buat pngajar2 berbakat: ashr, gilang, beri, dkk.

Ramadhan 1429
Lupa, tahun ini apa tahun before? Aga parah ngurus bukbarnya PM HMIF ma anak panti. Ga jelas jadi panitia apa, pokonya dkerjain rame2 semua: kurang orang kayanya. Jobku mayan juga waktu itu: nyerahin proposal dan minta tanda tangan Pak Rin, jadi MC pas hari-H (dadakan!), bantuin Austin bawa2 konsumsi dari Salman (dahsyat ni temen padahal dia Katolik), sampe ngemeng geje dpan anak2 pas bagiin hadiah kecil.

Ramadhan 1430
Ramadhan yang paling menyakitkan (halagh). Ga usah diceritain deh, hehe, pokonya penuh dengan deraian air mata sebab akhir tingkat 3 dapet putusan yang ga diduga, efeknya kbawa di awal tingkat 4, bahkan mpe Ramadhan. Setelah kupikir2, jadi titik balik terpaksa koleris (mungkin sbenarnya udah tuntutan sejak lama c, tapi baru terkeksplorasi di sini).

Ramadhan 1431
Yang berkesannya mungkin pra Ramadhan: saat ikhtiyar pemulihan dari sakit begitu keras. Karena sempat drawat 9-10 hari di RS, makan serba ga enak, shalat rasanya tak mampu berdiri lama, sesekali duduk: pusing kaya anemia dan pengennya baringan terus. Itu ngebayangin ga bisa itikaf rasanya pengen nangis aja. Namun ternyata, Alhamdulillah, Allah berikan tenaga pada waktunya. Ada memoar unik juga c, tapi ga bisa bilang2, hehe.

Ramadhan 1432
Sekarang… hmmm, masih diikhtiyarkan. Semoga ada yang lebih di Ramadhan kali ini^^

Pendar-pendar Ukhuwah

Entah masih layakkah aku membahasnya, saudaraku, setelah aku berhenti mengingatkanmu… setelah aku merasa jenuh untuk menegur dan menyindirmu… setelah aku berpikir untuk membiarkanmu… aku tahu mungkin aku tak layak menjadi saudaramu, tapi jauh di lubuk hatiku posisimu masih sama: saudaraku! Izinkan aku membahas sepenggal makna yang hampir terkubur. Aku berharap kau sempat membacanya meski mungkin kau sudah tak melihatku sebagai saudara lagi.

Dulu aku terpesona dengan senyum dan sapamu, dulu aku tersemangati dengan genggaman tanganmu, dulu aku terharu dengan pelukan hangatmu, dulu… kenapa harus dulu? Kenapa tidak pula dengan hari ini? Kenapa?

Entah siapa yang mulai menghijabnya: aku atau kamu? Senyum dan sapamu tak setulus dulu, entah karena perasaan bersalah atau perasaan tak suka. Genggaman tanganmu tak seberarti dulu karena kau sebegitu enggan menghindar pertemuan denganku. Pelukanmu tak sehangat dulu… ah, tidak, bahkan tak lagi ada pelukan itu… aku kehilangannya…

Siapapun yang mulai memagarnya, yang jelas aku memang sadar telah membuat pagar itu sendiri. Aku mulai tak peduli dan tak mau tahu bagaimana kondisimu. Aku biarkan makna ukhuwah itu terberai di antara kita. Aku berhenti mendoakanmu. Andaipun kamu terperosok, mungkin aku akan mengatakan dengan sinis, “Bukankah aku sudah memperingatkanmu?”

Akan tetapi, sore itu aku melihat sisi hanifmu, sisi fitrahmu yang masih terpelihara, secara tak sengaja. Kuakui cinta yang terkubur dan nyaris mati itu mulai memaksa untuk kembali tumbuh dan mungkin masih bisa berbunga. Dulu… bukankah aku pernah mengatakannya kepadamu, “uhibbuki fillah…”? Bagaimana aku bisa melupakannya?

Rasa itu pun kembali. Rasa saat aku cemburu dan tak rela kamu memilih jalan-jalan maksiyat. Rasa saat aku membenci sikapmu (bukan dirimu) yang menjauhkan diri dari komunitas kebaikan. Rasa saat aku selalu menginginkan yang terbaik dan ikut senang dengan kesuksesan yang kamu perolah. Rasa itu… ya, rasa itu… rasa yang sebenarnya masih tersisa…

Sejujurnya aku rindu kamu, Ukht, bukan hanya merindukan rasa ini… aku ingin kembali tertawa dan bercanda denganmu… bahkan aku ingin menangis bersamamu, bersama teman-teman kita… sebagaimana memoar itu membekas dalam album hidupku…

Dalam hati aku mengeluh: haruskah aku menyerah? Haruskah semua itu hanya menjadi kenangan yang takkan pernah kembali berulang? Haruskah jalinan ini putus di tengah jalan? Haruskah tiada reuni di surga yang pernah sama dicitakan? Haruskah?

Saat kamu mengangkat kepalamu dari barisan anak-anak jalanan dan mulai membalikkan badan, aku terpaku sesaat. Mata kita bertemu, Ukht, aku tak tahu apa yang kamu pikirkan saat kamu pun sama terpaku. Akan tetapi, saat itu kuhancurkan pagar egoku. Terserah apakah kamu akan membuang muka, terserah apakah kamu tidak memedulikan keberadaanku, terserah… aku hanya berharap ukhuwah itu berpendar, aku ingin menjalin kasih yang terputus. Maka, kuberikan satu senyum ringan tanpa beban dan sebuah sapa berupa ucapan doa, “Assalamu’alaikum…”

Rabbi, ini langkah pertamaku untuk kembali mencintainya… karenaMu…


Asal kata ukhuwah (persaudaraan) sama dengan akhi (saudara laki2 tunggal), ukhti (saudara perempuan tunggal), ikhwan (saudara laki2 jamak), dan akhwat (saudara perempuan jamak). Setinggi-tingginya ukhuwah adalah yang karena Allah, karena 1 iman, karena akan bersua lagi di jannahNya.

Dilema Seorang Calon Hafizhah

Kubuka al-Quran miniku untuk keempat kalinya hari ini. Saat kutadaburi maknanya per kata dalam Q.S. Fushilat:44

… Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

“Lilladziina aamanuu: bagi orang2 mukmin… hudan: petunjuk… wa syifaa’: dan penawar / obat… ” berkali-kali kuucapkan penggalan itu. Tiba-tiba air mataku mengalir, entah mengapa. Semua kegelisahan memang sirna, semua pertanyaan fundamental hampir selalu terjawab, tapi layakkah aku dikatakan sebenar-benar mukmin, sedangkan amalku pun masih menghalangiku dalam menghapal kitab suciku ini?? Ya, belakangan ini aku sangat sulit menghapal. Bukan karena sibuk dan tak ada waktu, melainkan karena… karena… karena apa??

Ah, seorang Umar bin Khatthab menghapal al-Baqoroh selama 2 tahun, tapi kasusnya berbeda. Bukan sepertiku yang begitu sulit karena banyaknya penyakit hati, melainkan karena beliau menghapal setelah mengamalkannya. Ya Rabb, berhakkah aku…? Berhakkah aku…? Namun, aku mengharapkan kemuliaan para pemelihara al-Quran di dunia dan akhirat. Aku pun ingin memberikan kemuliaan kepada kedua orang tuaku di akhirat, sesuatu yang tidak bisa kuberikan di dunia.

Setelah itu, kubaca kalimat berikutnya masih pada ayat yang sama… dan air mata ini kembali mengalir: semakin deras. Apakah derajat pemelihara al-Quran itu cukup dengan membaca? Atau hanya menghapal? Ya Rabb, jangan Kau sumbat telingaku dan butakan penglihatanku dalam memahami ayat-ayatMu… kemudian buatlah aku beramal dengannya dan mengajarkan ilmu darinya… dari kalamMu, Wahai Yang Maha Tinggi.

Dekatkan aku dengan al-Quran; jangan Kau panggil aku dari tempat yang jauh. Perlihatkan, perdengarkan, dan biarkan hati ini, lisan ini, amal ini cenderung kepadanya. Jadikan ia bacaan yang membuatku candu dan tak bosan untuk terus mengulangnya. Perkenankanku mencintainya dari segala bacaan yang pernah kubaca apalagi dari sekedar tulisanku sendiri. Al-Quranku, al-QuranMu Rabbi, surat cinta dariMu untuk kami… ah, bisakah aku menjadi salah seorang di antara hafizhahnya (pemeliharanya)??

Di tengah keraguan itu pun jiwaku berbisik, “Maukah kamu menanggung dosa jika kembali melupakannya padahal hapalan itu sangat mudah terlepas?” Aku menggigil. Hatiku takut. Nyaliku ciut. Tidak berkumpul dalam satu dada cinta kepada al-Quran dan cinta kepada maksiyat, tidak mungkin berkumpul… tidak mungkin… Rabbi, berhakkah aku menjadi salah seorang hafizhah? Atau lebih baik aku mundur?

“Tidak! Kamu sudah tahu keutamaannya, tetapi kamu enggan maju menjadi hafizhah karena kamu mencintai maksiyat?” tanya sisi lain dalam jiwaku.

“Bukan mencintai maksiyat! Aku hanya takut tak bisa menjaganya… aku takut al-Quran menuntutku kelak di hadapanNya,” jerit sisi lemahku melawan.

“Di sisi lain kamu lupa bahwa al-Quran akan menjadi pembela orang-orang yang sibuk dengannya saat tak lagi ada yang bisa membela selain yang Allah kehendaki!”

Aku tergugu. Suara perang dalam diri yang dari tadi berkecamuk tiba-tiba mereda. Namun, tangisan yang sedari tadi ditahan tiba-tiba harus pecah. Siapakah yang bisa menjamin kita akan tetap mencintai al-Quran? Meskipun saat ini jujur hatiku sangat mencintainya, siapa yang bisa menjamin cinta ini akan tetap istiqomah bersarang di sana? Siapa?? ALLAH! Hanya Dia! Akhirnya kuputuskan untuk memantapkan hati menjadi seorang pecinta al-Quran. Hatiku hanya membisikkan doa agar cinta ini tetap kekal dan membawa kebaikan hingga ke surga, “Rabbi, tsabbit qalbi ‘ala diniK, tsabbit qalbi ‘ala tha’atiK, tsabbit qalbi ‘ala mahabbatiK…”

Jangan jadi pesimis, Jiwa, saat masih ada peluang untuk optimis dalam kasus apapun! Bahkan untuk kasus ukhrawi… Jangan lekas menyerah, karena itulah watak seorang mukmin… Ingatlah ga ada miftahun najah (kunci kesuksesan), melainkan pada tiga hal: ikhtiyar (terus berusaha optimal) + doa (agar tetap istiqomah) + tawakkal (menyerahkan urusan ini kepada Allah)


edisi revisi; yg kmaren blom lengkap (alamat URL-nya juga keliatan “nimpa” artikel laennya)
syukran katsiran and jazakunnallah khairan buat yang ngasi inspirasi rasa saat menulis diary ini :’)

Egois!

Aku egois? Ya, aku sangat egois! Dan aku ingin tetap egois jika makna egois adalah mendahulukan kepentingan sendiri di atas kepentingan orang lain, tetapi hanya untuk KEHIDUPAN UKHRAWI!

Benarkah aku egois? Ya, aku sangat egois! Aku yakin saat berada di padang mahsyar yang kuingat pertama kali adalah bagaimana nasibku di sisiNya? Surga atau neraka? Akankah ada sua denganNya tanpa hijab??

Tapi aku tidak mau egois melekat dalam diri saat kepentingan duniawi yang bicara. Aku ingin sekali merasakan itsar meski dalam kondisi yang sempit; meski orang yang didahulukan kepentingannya tak tahu apa yang telah kulakukan untuk mendahulukannya. Aku ingin merasakan cinta dengan makna fillah yang sebenarnya. Bukan, bukan dari orang lain untukku, melainkan dariku, dalam hatiku sendiri, untuk orang-orang yang Dia pilih untuk kucintai.

Aku juga tak mau egois jika hanya inginkan masuk surga seorang diri dan tanpa mengajak orang lain. Aku ingin masuk surga bersama orang-orang yang pernah kukasihi, pernah menjadi sahabatku, pernah menjadi keluargaku di manapun, bahkan sosok yang mungkin tak kutahu siapa, yang pernah mendoakan untuk kebaikanku diam-diam. Karena surga yang luasnya seluas langit dan bumi (langit yang belum pernah ditemukan ujungnya sampai saat ini) terlalu sunyi jika egois sejenis ini merongrongi.

Biarkanku berkisah tentang sesuatu, berlepas dari kenyataan atau bukan. Ambil hikmah di dalamnya. Kisah ini tentang seorang hamba Allah yang setiap harinya ia isi dengan ibadah utama. Ia sangat sibuk dengan ibadahnya sehingga ia tak mampu membagi waktunya untuk kepentingan saudaranya, keluarganya, tetanggannya, dan masyarakat di lingkungan rumahnya.

Ia ingin tahu posisinya di sisi Allah: surga atau neraka? Maka, ia meminta kepada saudaranya yang dianugerahkan satu risalah kenabian, “Tanyakanlah pada Allah, apakah posisiku di sisiNya?”

Tak lama kemudian jawaban hadir, “Neraka.”

Ia terperanjat kaget dan pulang dengan perasaan yang kecewa, sedih luar biasa. “Ah, ibadahku yang seperti ini saja tidak diterimanya, lantas bagaimana nasib saudara-saudaraku kelak?” begitu pikirnya. Ia pun kembali lagi kepada saudaranya untuk meminta sesuatu.

“Aku harap di nerakaNya nanti tubuhku membesar sehingga tak seorang pun dari saudaraku yang seiman disiksa di dalamnya selain aku sendiri,” pintanya sungguh-sungguh, “mohonkanlah kepadaNya…”

Lagi-lagi tak lama. Saudaranya itu kemudian tersenyum dan berkata, “Karena doamu barusan, Allah akan memasukkanmu ke dalam surgaNya…”

Rabbi, ampunilah berbagai keegoisan yang pernah terwujud dalam diri ini karena melupakan nasib ummat Muhammad di belahan bumiMu yang lain… ampunilah berbagai kelemahan yang pernah mengerak saat aku tak bisa mengatakan secara langsung kepada saudara-saudara yang belum seiman, “Berislamlah, bersyahadatlah, rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”… ampunilah berbagai kebodohan yang pernah mendasari amal yang entah yang mana yang Kau terima atau tidak, aku pun tak pernah tahu sampai Kau perlihatkan di yaumil mizan kelak…

Rabbi, memang aku tak layak masuk ke dalam surgaMu, tapi aku takkan sanggup bersabar untuk masuk ke dalam nerakaMu… kupinta sifat RahimMu untuk menjadi pembebas dari neraka dan penebus untuk surga… kabulkanlah, Rabb, aamiiiiiiiiin.

:’(

Karena surga dan neraka itu bertingkat-tingkat, maka beramal baiklah sebesar hajatmu kepada surga… dan beramal buruklah sebesar kesabaranmu terhadap neraka… sekali-kali kamu takkan pernah bisa bersabar terhadapnya!

Doa Seorang Muallaf

Ya Rabb, Ya Ilahi, Ya Allah, aku memang baru mengenal agamamu ini dengan benar di usiaku yang ke-30. Akan tetapi, aku berharap Kau tinggikan kedudukanku di sisiMu karena keinginanku untuk mengenalMu meski aku terlambat dari saudara-saudariku yang lain yang telah mengenalMu bahkan sejak di buaian karena orang tua mereka memang muslim.

Ya Rabb, Ya Ilahi, Ya Allah, telah kutinggalkan keluargaku setelah mereka masih juga berusaha merusak agamaku. Maka, kekalkanlah iman ini dalam hatiku hingga aku menemuiMu dengan ‘ainul yaqin. Jangan Kau kembalikan aku kepada kekafiran yang membutakan. Sungguh, andai mereka memiliki seluruh isi dunia (aku yakin mereka takkan pernah punya) dan hendak menukarnya dengan imanku, niscaya aku takkan mau!

Ya Rabb, Ya Ilahi, Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah utusan Engkau…
Hidup masa laluku yang begitu kelam: makan dan minum yang Kau haramkan, bahkan zina telah meracuniku, apalagi ritualitas penyembahan yang tidak pernah sampai kepadaMu. Alangkah hinanya diriku dan tiada yang bisa menyelamatkan diri ini dari adzabMu selain Engkau sendiri. Aku mohon, ya Allah, aku mohon… Ampuni semua kesalahanku di zaman dulu dan jika memang kesalahan itu perlu ditebus, tebuslah di dunia dan jangan di akhirat! Izinkan aku masuk ke dalam surgaMu meskipun sebenarnya aku tak layak mendapatkannya. Jika aku tidak beriman kepadaMu, aku yang jijik dengan diriku sendiri pada dosa dan maksiyatku sendiri akan memilih untuk bunuh diri. Maka, jangan Kau buat aku putus asa dari rahmatMu! Tetapkanlah aku kembali menjadi NOL seperti bayi yang baru lahir dan setelah “pengembalianku” ini, kenalkanlah aku dengan iman yang dalam.

Ya Rabb, Ya Ilahi, Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah utusan Engkau…
Kini sibukkanlah aku untuk kehidupan akhiratku. Cukupkanlah kehidupanku di dunia sebagai bekal menuju ke sana. Andaipun aku tak memiliki apa yang pernah kumiliki sebelumnya: kemewahan, harta, dan kedudukan, maka buatlah aku bersabar sekaligus bersyukur dengan apa yang Kau karuniakan. Aku mohon, ya Allah, aku mohon… Terimalah semua amalku yang baru sedikit ini dan lipatgandakanlah di sisiMu sehingga aku layak bersua denganMu, wahai Pemilik Segala Keindahan. Balaslah kebaikanku di dunia dengan sedikit saja selain untuk bertahan hidup dan beribadah kepadaMu. Sisakan untukku kehidupan akhirat yang indah (meski dengan amal yang terbata-bata), bukan dasar kerak neraka yang gelap! Sungguh aku telah putus asa kepada diriku sendiri, tetapi tidak kepadaMu… Kaulah satu-satunya tumpuan harapanku. Kepada siapa lagi aku memohon hal ini jika bukan kepadaMu??

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.