Arsip Kategori: da’watuna
tentang da’wah qta (mencoba menghindari ikhtilaf biar tujuan syi’arnya nyampe)
Menggunakan Bahasa Mad’u
Beberapa kegagalan para da’I dalam melakukan da’wah ilallah adalah sebagaimana kesalahan komunikasi juga, yakni tidak mempergunakan bahasa komunikan atau bahasa mad’u (yang menerima da’wah). Mempergunakan bahasa mad’u berarti harus memahami dulu seperti apakah si mad’u: latar belakangnya, kecenderungannya, dkk-nya.
Akan sangat aneh jika kita menda’wahi mad’u dengan bahasa mahasiswa padahal mereka tak memiliki background Perguruan Tinggi. Akan sangat sulit jika kita menda’wahi mad’u dengan bahasa Indonesia padahal mereka hanya memiliki kemampuan bahasa daerah dan atau hanya akan lebih akrab dengan da’I yang paham bahasa daerahnya.
Mempergunakan bahasa mad’u artinya kita melepas kacamata kita yang memiliki pemahaman setingkat lebih tinggi atau bahkan lebih rendah (ga bisa bahasanya) untuk menjadikannya setara dengan mad’u. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah dalam menda’wahi orang-orang di sekitarnya. Bahkan dengan bashirah yang tajam, beliau bisa memberikan nasihat yang berbeda kepada para sahabatnya meski pertanyaan mereka sama, “ya Rasulullah, berikanku nasihat…”
Kepada sahabat yang meminta agar tetap berzina meski beriman, Rasulullah menyadarkan jahatnya maksiyat ini dengan fitrah kasih sayangnya kepada keluarga yang perempuan. Kepada sahabat yang pemarah, Rasulullah melarangnya untuk marah berkali-kali. Kepada sahabat yang ingin nasihat terbaik, Rasulullah memintanya untuk istiqomah meski itu berat. Kepada sahabat yang putus asa terhadap dirinya sendiri, Rasulullah memberikan motivasi dengan kabar gembira dan ampunan yang besar. Kepada sahabat yang tampak berduka karena terlilit hutang, Rasulullah mengajarkan doa agar terlepas darinya.
Hal ini tak mungkin dilakukan jika Rasulullah tidak mencintai mad’unya. Beliau menyampaikan nasihat sesuai dengan pemahaman dan kemampuan si mad’u. Dengan demikian, mad’u dapat istiqomah dengan jalan Islamnya tanpa merasa terlalu berat tetapi ia merasa memberi manfaat kepada dirinya dan dinnya. Ada sahabat yang hanya diberikan nasihat kewajiban shalat sebab Rasulullah tahu ia tak mampu melakukan shawm dan zakat (keterbatasan fisik dan harta), tetapi di sisi lain ada sahabat yang diberikan nasihat keutamaan berjihad di jalan Allah siang dan malam sebab Rasulullah tahu pemuda di hadapannya memiliki kemampuan untuk itu.
Berda’wah mempergunakan bahasa mad’u memang sulit sulit gampang (hehe), tetapi itulah salah satu hikmah mengapa Rasulullah yang dijadikan uswatun hasanah juga manusia biasa (bukan malaikat). Artinya, kita yang sama-sama manusia pun dapat meneladani apa yang beliau lakukan. Maka meskipun sulitnya memang benar-benar sulit, tapi jika dijalani terus-menerus tanpa lelah seperti yang beliau lakukan, ada gampangnya juga koq, insya Allah
Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.” (al-Isra:95)
–
Fokusnya jadi ke Rasulullah, ya?? Gapapa, sebab beliau adalah model yang paling ideal, termasuk buat ini…
Sepenggal Nasihat untuk Para Pejuang
udah berapa hari ya ga update blog?? hmmm, bismillah kali ini ochie copas aja apa yang pernah chie post di efbe… umumnya buat smua pjuang, khususnya buat ade2ku di jurusan dan fakultas^^
———————————
Muslim Tangguh Pantang Mengeluh. Slogan muslif yang dicantumkan di jaketnya ini mengharuskan qta untuk belajar bersabar. Tahu bedanya bersabar dan ga? Ternyata cuma di satu hal, De: mampukah bertahan untuk tak mengeluh? Mampukah untuk tetap mensyukuri apa yang diberikanNya dengan optimal?
Tengoklah potret seorang Mushab bin Umair. Awalnya ia kaya raya, fisiknya terawat oleh pakaian bagus, parfum mahal, dan penghasilan mapan, berasal dari keluarga bangsawan, sangat gagah, dan menjadi idola para wanita di masanya. Setelah ia masuk Islam, tak ada penyesalan sedikitpun di hatinya meski harus meninggalkan serba kemewahan dan kasih sayang orang tuanya. Ia tak mengeluh: ia tersenyum dengan wajahnya yang bersinar… meski dengan pakaian compang-camping, meski tanpa parfum itu, meski diusir orang tuanya hanya karena ada iman dalam hatinya, meski title bangsawan itu dilepasnya… iman terlalu indah jika dibandingkan dengan semua itu di hatinya! Kelak surga yang menjadi jawaban kesabaran jasad yang koyak pada perang Uhud sebagai pemegang panji kaum muslimin.
Kisah qta memang masih jauh dari Mush’ab. Akan tetapi, aku melihatnya dari kesungguhan kalian pagi itu, siang itu, dan sore itu, bahkan malam itu. Kalian luangkan waktu untuk ke kampus dan memberi manfaat untuk ade2 qta. Padahal di waktu yang sama yang lain mungkin sedang menikmati waktu istirahatnya. Kalian diam-diam menginfaqkan harta. Padahal di waktu yang sama harta itu bisa saja kalian pergunakan untuk membeli barang yang kalian inginkan. Kalian sumbangkan tenaga untuk memikirkan rencana serta mengevaluasi. Padahal di waktu yang sama kalian masih harus mengurusi akademik yang tak mengenal interupsi. Kalian berusaha meyakinkan orang tua dengan jalan yang kalian pilih untuk tak melepas da’wah ini.
Setiap teringat akan pengorbanan kalian, air mataku menetes. Sungguh da’wah takkan pernah kehilangan pejuangnya. Apa itu da’wah, De? Bukan, da’wah bukan terorisme, da’wah bukan kebencian, da’wah bukan kecurigaan… Sederhanya bagi qta adalah mengajak teman-teman qta untuk shalat, mempelajari Islam bersama, dan memberi manfaat yang lebih luas untuk masyarakat. Entah berapa banyak yang telah melupakan shalatnya, entah berapa banyak yang melupakan identitasnya sebagai muslim bahkan tak tahu identitas muslim itu seperti apa, entah berapa banyak yang lupa bahwa memberi manfaat di dunia adalah untuk mendapat manfaat di akhirat… dan kuharap kamu tetap menjadi objek sekaligus subjeknya, bukan hanya objek semata.
Menjadi objek sekaligus subjek? Ya, De, tak mungkin pula qta hanya menjadi subjeknya karena qta pun pasti tak luput dari khilaf dan maksiyat. Karena itu, izinkan aku berbagi kisahku sebagai pengingat bagi qta bersama agar tak menyesal kelak. Kisah ini mungkin menjadi aib, tapi tak mengapa akan kubagikan karena ia telah berlalu. Kini aku telah bangkit dari semua keterpurukan itu, insya Allah, mohon doa agar da’wah pasca kampus tetap hidup dengan cinta. Seorang kakak bukan berarti yang lebih baik di sisi Allah; seorang kakak hanya seorang yang usianya lebih tua sehingga ia mengecap asam garam lebih banyak.
1. Siapa dan Apa yang harus didahulukan?
Ingatkah Asbabun Nuzul Q.S. ‘Abasa? Rasulullah saja ditegur, De, sebab beliau lebih memprioritaskan da’wah kepada para petinggi daripada kepada orang yang menyambut da’wah dengan segera meskipun ia buta. Adalah manusiawi jika qta memilih yang lebih berpengaruh luas ketimbang yang tampak tak ada harganya. Sementara itu, jawabanNya terbukti kemudian: Ibnu Ummi Maktum itu telah membuktikan iman dengan keterbatasannya dalam melihat; bandingkan dengan Abu Jahal yang tetap mati dalam kekafiran. Kesalahanku dulu adalah lebih memprioritaskan mereka yang tampak lebih strategis daripada mereka yang lebih kuat berniat memperbaiki diri. Kelak jika kalian mendapati harus memprioritaskan sesuatu, ingatlah pesan ini.
2. Prinsip da’wah: Lillah, Billah, Ilallah…
Lillah artinya karena Allah, karena qta ingin sua terbaik denganNya, bukan karena ingin ini dan itu…
Billah artinya beserta Allah, bukan beserta jalan yang tidak Allah ridhai…
Ilallah artinya seruan kita kepada Allah, bukan kepada harta, kedudukan, atau yang lainnya…
De, luruskan niat sebab lurusnya niat akan memudahkan progress qta! Da’wah ini bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk qta sendiri. Jagalah Allah di hati saat memperjuangkannya dan teruslah bertanya dan bertanya, “Apakah Allah ridha? Apakah ini untuk mendapatkan ridhaNya? Apakah yang diserukan murni tentangNya?” Aku sangat menyesal saat menyadari da’wah berjalan lambat saat prinsip ini jauh dari sempurna dalam hati.
3. Komunikasi dan Amal
Terkadang kelemahan qta adalah di lisan. Alangkah sulit bagi qta untuk mengajak yang lain. Maka, andai tak bisa berkata dengan lidah, maka katakanlah dengan amal dan itu adalah lebih baik. Itu menunjukkan sisi integritas yang memang sebenarnya Allah sukai. Kesalahanku adalah aku kurang terus terang sehingga yang ditangkap oleh mereka adalah eksklusivitas. Selain itu, seringkali komunikasi dan amal tak sejalan sehingga meninggalkan kesan ambigu. Saat kesalahan komunikasi dan amal terjadi pada kalian, akuilah bahwa itu salah dan perbaikilah diri: jangan terus-terus menyalahkan diri maupun mentolerir diri.
4. Merendahlah sebab taqwa itu di hati!
Adakah hati ini pernah merasa lebih baik daripada mereka? Benarkah lebih baik hanya karena qta lebih berpenampilan Islami, karena qta lebih lama mengaji Islam, karena qta lebih tahu ini dan itu. Sesungguhnya taqwa yang menjadi derajat seseorang itu ada dalam hati dan hanya Allah yang tahu. Mereka hanya belum tahu dan siapa tahu setelah tahu justru mereka lebih giat beramal daripada qta? Qta hanya lebih tahu dan siapa tahu dengan qta tahu bukannya menambah pahala malah justru dosa karena tak mengamalkannya? Karena itu, De, merendahlah di hadapan objek da’wahmu. Beritahu ia dan kabari dengan kabar gembira untuk setiap kesabaran yang disertai ketaatan.
5. Allah kan menjawab
Kadang hati qta lelah, kadang fisik qta lemah, kadang pikiran qta penat, maka berwudhulah, shalatlah, dan mengadulah… saatnya berdoa, De, saatnya mengemis kasihNya… qta telah sampai pada limit tertentu seorang manusia (bukankah da’i juga manusia? ya!)…
Mungkin ini pengalaman yang paling berkesan untuk pertama kali dalam karirku berda’wah: menggerakkan!
Saat itu masih banyak yang harus kukerjakan, aku baru mengetahui nilai fisdasku 38 (peringkat ke-7 dari bawah padahal aku merasa aku bukan anak yang bodoh) kupikir mentoring adalah tempat istirahat siang itu, tapi ternyata aku malah diminta melakukan sesuatu yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Aku yang masih duduk di tahun pertama, aku yang belum paham harus bagaimana, aku yang masih hijau… AKU TAK BISA! awalnya hatiku menolak, tetapi kemudian otak memintaku untuk tidak panik, kucoba mengimingi diriku dengan surga yang penuh kedamaian, maka dengan sebuah doa dan air mata kulakukan ia. TERNYATA AKU BISA! ingatlah janji Allah, De, Allah akan menolong hamba yang menolong agamaNya… meskipun menurut orang lain itu persoalan sepele, tapi bagiku itu prestasi. Kalian pernah dan ingin kembali merasakannya??
Fafirru ilallah…
Berlarilah kepada Allah (51:50) minta perlindunganNya selagi masih di dunia sebab di akhirat tak ada lagi tempat untuk sembunyi.
Berlarilah bukan menjauh, melainkan mendekat karena Dia sangat senang saat hambaNya kembali.
Berlarilah, De, berlarilah… sambut peluang amal untuk menebus surga qta.
semoga kelak qta kembali dihimpun di tempat terbaik
–
Saat teteh bikin ini, teteh inget kalian satu-satu (klo sempet lupa yang mana, teteh tengokin profil picture ato wallnya)… syukron katsir sudah meramaikan da’wah ini sehingga proker2 itu berjalan. Semoga proker itu bukan hanya proker yang begitu selese ya udah, tapi terinternalisasi dalam diri qta dan ade2 qta bahwa Allah adalah yang pertama di atas segalanya.
[NII part 2] Interaksiku dengan Mereka
Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan catatan-catatan yang kuketahui tentang pergerakan ini. Catatan tersebut merupakan hasil interaksiku dengan mereka. Beberapa kali ochie mengalami interaksi dengan pergerakan ini (bersinggungan, diajak, dan berusaha mengajak balik). Baiklah, ini cerita yang serba sepenggal dan ochie tak sebutkan nama-namanya.
1. Rahasia yang Tak Mampu Kupendam
Ini terjadi saat SMA. Salah seorang sahabat yang paling karib bercerita hal yang tak kumengerti sama sekali di hadapan seorang teteh yang selisih satu kelas dengan kami. “Mereka memang akan memintamu merahasiakannya, tapi selalu diskusikanlah dengan teteh apa yang mereka sampaikan itu…” tutur beliau. Beliau telah mengaji sejarah salaf cukup lama dan ternyata bisa membantah setiap argument teteh lainnya yang mengajak temanku untuk bergabung ke harakah berjudul NII. Waktu itu aku tak begitu menyimak karena memang tak paham apa yang mereka bicarakan. Tak pernah terlintas olehku satu brand NII meskipun di luar itu, aku pun mengaji tiga sekaligus: tarbiyah, HTI, dan Salafy. Hanya satu kalimat dari lisan sahabatku yang sampai saat ini kuingat adalah, “Aku merasa ada penolakan dalam diriku yang membuat akalku tak puas jika rahasia ini hanya kupendam.”
2. Tolong Aku, Aku Bingung…
Ini terjadi saat aku duduk di kursi TPB (mahasiswa tingkat 1). Salah seorang teman camping zaman SMA menelepon, “Ukht, aku ingin mengobrol… aku sedang diajak bergerak dalam sesuatu pergerakan dan bingung…” Karena aku khawatir, meskipun aku lupa lagi bagaimana wajahnya, akhirnya kami janjian di salah satu masjid kampus. Ternyata ia tak hanya sendiri, malah membawa seorang teteh lainnya. Di sanalah aku merasa dijebak dengan permintaan belas kasihan. Kupikir kami bisa bicara berdua, tapi kenyataannya adalah ia membawa seseorang untuk mengajakku “berdiskusi”. Aku mulai mengenal apa yang dimaksud dengan NII dan beberapa brand lainnya. Akan tetapi, itu tak lama: aku segera melepaskan diri dari jebakan mereka: aku hanya merasa mendapat doktrin kerja tanpa didukung motivasi spiritual. Sejak itulah aku tahu metode utama pergerakan mereka dan tipe orang seperti apa yang mereka ajak.
3. Aku Tak Bodoh…
Tingkat tiga, tepatnya saat aku menduduki kursi tertinggi kekaisaran akhwat di LDF, ujian itu datang kembali. Kali ini tentaraku sendiri yang mengajakku berdialog tentang ini. Dialog? Tidak, sebenarnya bukan dialog, melainkan debat yang tak berujung. Aku sengaja banyak mengalah untuk menariknya, tetapi ternyata itu tak membuatnya bergeming. Berhari-hari kami melakukannya berdua dan aku merasa ia masih berniat menyeretku kesana; begitupun aku berusaha menyeretnya keluar dari sana. Satu kalimat yang waktu itu hanya aku tangisi tanpa perlawanan adalah kalimatnya, “Aku tak bodoh sehingga mau saja berjalan di jalanku!”. Mengapa aku tak lantas bertanya, “Apakah menurutmu teteh begitu bodoh sehingga sebegitu berusaha untuk mengajakmu keluar dari jalan itu?” Akan tetapi, aku disarankan untuk tak terlalu sibuk mengurusi harakah itu sebab masih banyak pekerjaan yang lebih penting untuk dikerjakan. Singkat kata, terutama setelah amanahku berpindah, aku tak lagi bertemu dengan tentara itu.
4. Pancasila, selamatkan mereka!
Masih tingkat tiga, dalam hitungan bulan setelah poin tiga terjadi. Status YM seorang senior ini membuatku curiga. Kalimat beliau yang terkesan mengejek itu dipertanyakan oleh seseorang yg mengintip status semua list teman YMku, “Memangnya Islam juga bisa menyelamatkan tanpa muslimnya? Bukankah Pancasila dan Islam sama-sama bukan makhluk hidup yang tak bisa berbuat apa-apa? Daripada pasang status begitu, mengapa dia sebagai muslim tak pergi ke sana untuk membantu dan hanya sekedar komentar??”. Aku sebenarnya ikut tersindir, tapi aku mengakuinya sebagai bagian dari muslim, “Ya, Sob, kamu benar… ayo qta bantu kesana langsung!”. Allah menjawab kecurigaanku tak lama kemudian: salah seorang sahabatku meski tak menyebut nama beliau menyatakan sesuatu yang memperlemah alibi beliau. Tak kusangka beliau ternyata memang sudah menjadi warga NII juga.
5. Mereka Bilang Aku Kafir
Judul buku yang dibeli pada pameran buku Gramedia ini (berkisah tentang seorang warga NII yang keluar dan melepas bai’atnya) bernada sama dengan pernyataan seorang yang mengaku warga NII setelah dialog panjang hingga hampir tengah malam (aku mengetahuinya karena ada di barisan yang sama untuk memfilter pengaruh NII di kampus). “Aku hanya ingin pernyataan tegas: apa itu artinya jika kami tak berbai’at kepada pemimpinmu kami divonis kafir?” tanya temanku yang non warga NII, “meskipun kami syahadat, shalat, shawm, zakat, bahkan naik haji?” Akhirnya dijawab oleh warga NII dengan tegas setelah berputar-putar, “Iya.”
6. Aku Dikucilkan Karena Banyak Bertanya
Ini adalah cerita salah seorang warga NII yang kukenal terlebih dulu di dunia maya (sebelum akhirnya kami bertemu langsung). Ia mengisahkan bahwa ia tak disukai dan dijauhi teman-temannya, bahkan dicela oleh beberapa di antaranya, karena ia terlalu banyak mempertanyakan hal yang membuatnya ragu. Selain itu, ia merasa ukhuwah di antara warga begitu renggang. Ia merasa asing dimanapun: di rumah ia beriman sendiri (keluarganya diasumsikan masih kafir), sedangkan di tempat orang beriman ia aneh sendiri. Betapapun ia memohon ketetapan hati kepada Allah, dia tak mendapatkannya. Sampai akhirnya ia keluar karena tak pernah puas dengan jawaban pertanyaan dalam dirinya. “Aku masuk dengan kesadaran, maka aku pun keluar dengan kesadaran…” Beliau akui bahwa hubungan beliau dengan mereka yang warga NII sudah tak sebaik dulu, tapi bukan berarti beliau berniat memutus silaturahim apapun pandangan mereka terhadapnya.
7. Kekayaan itu tak Membawa Ketentraman
Ini adalah cerita seorang ustadz yang telah keluar dari NII setelah menjabat sebuah kedudukan tinggi di sana (setara posisi Walikotalah). Beliau mengisahkan bahwa jama’ah memfasilitasi beliau dengan segala macam harta benda, tetapi entah mengapa perjuangan yang beliau rasakan bgitu hampa. Beliau tahu harta yang didapatnya adalah dari warga NII kelas bawah yang menginfaqkan hartanya tanpa tahu dana mereka dialokasikan untuk apa. Mereka hanya tahu uang itu untuk berjuang para petinggi tanpa tahu sebenarnya bagaimanakah perjuangan itu: stagnan. Bahkan beliau tak tahu apa saja kerja atasannya (Gubernur dan Presiden beserta staff2nya). Beliau seringkali merasa tak mengerti dengan sistem yang entah kapan bisa memenangkan Islam dengan cara yang demikian. Beliau merasa aneh dengan sirriyatud da’wah yang berkepanjangan. Akhirnya beliau melepas kemewahan yang dirasakan, bahkan dikejar ancaman2, demi mendapat ketentraman. “Bagi saya lebih baik masuk jama’ah yang sering dikritik sehingga ia tahu dimana kesalahannya jika memang salah daripada masuk jama’ah yang tak pernah dikritik sebab ia tak menampakan dirinya selamanya…”
8. Aku Diancam Dibunuh karena “Murtad”
Murtad artinya keluar dari NII, tidak menjadi warganya, tidak berjuang bersamanya (tidak merekrut orang lagi), dan tak membayarkan zakat kepada NII. Cerita ini telah banyak didengar dari mereka yang keluar. Rupanya dua orang temanku juga mengalaminya. Awalnya mereka keluar rumah dengan peraasaan takut karena ancaman itu tak juga berhenti mampir ke hape mereka, tetapi Alhamdulillah akhirnya mereka dapat melaluinya. “Ternyata itu hanya gertakan karena sudah banyak yang keluar dan kami baik-baik saja,” aku salah satunya. Akan tetapi, mereka akui bahwa ancaman itu terkadang memang bukan hanya gertakan. Mereka bisa melakukan hal nekat dalam menggertak, yaitu melukai. Hal itu dilakukan agar mereka takut keluar dari NII.
Demikianlah 8 fenomena yang langsung ochie dan teman-teman ochie saksikan. Semoga menambah informasi untuk mereka yang sedang mencari… wallahu a’lam
[NII part 1] Beberapa Penyimpangan
Akhir-akhir ini topik NII di kalangan pelajar mencuat lagi. Ada mahasiswa yang hilang dikabarkan dalam media karena gerakan ini. Sebelumnya juga pernah terjadi dan bahkan bertahun-tahun mereka menghilang tak diketahui kabarnya. NII mengaku mereka mengikuti manhaj yang lurus, tetapi mereka kurang meneliti sejarah. Seringkali ayat yang dibawakan juga ditafsirkan tanpa melihat asbabun nuzul dan keterkaitan dengan ayat lain sehingga mereka tidak memahami maksudnya sesuai kondisi.
Baiklah. Sesuai janji, akhirnya ochie selesai bikin tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi mereka yang bertanya dan ingin tahu. Mungkin juga tulisan ini menjadi sebuah kontroversi bagi mereka yang masih terlibat di sana. Setidaknya ada selusin catatan khusus NII setelah interaksiku dengan mereka. Berikut ini adalah catatan tsb:
1. Akhlak bukan hal utama
Menurut mereka akhlak bukanlah hal yang utama. Mereka akan mengerdilkan pengajaran nilai-nilai akhlak. Tuntunan pertama mereka pasti tentang harus taatnya kepada aturan Allah melalui loyalitas kepada jama’ah, sekalipun jama’ah tsb tidak mereka ketahui bagaimana pergerakannya.
Bantahan:
Akhlak adalah hal yang utama dalam agama. Rasulullah diutus pun untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak itu konteksnya luas, kepada Allah dan RasulNya, kepada keluarga kerabat, kepada non muslim, bahkan kepada makhluk Allah yang lain. Islam sendiri dengan semua ajarannya sebenarnya berisi akhlak.
2. Bohong? Wajar…
Mereka takkan mengakui bahwa mereka NII, bahkan mereka akan menjelek-jelekkan NII, tapi pada akhirnya semua akan terungkap dari diksi dan cara mengajak mereka. Mereka akan mengajak untuk hijrah dan mengikrarkan janji. Mereka terbiasa berbohong untuk menyembunyikan identitas mereka. Sang da’I pengajak akan mengaku sebagai Nisa kepada seseorang, sedangkan kepada orang lainnya mengaku sebagai Nida, Nita, Nina, dll.
Bantahan:
Para sahabat Rasulullah yang menyembunyikan identitas kemusliman mereka adalah mereka yang lemah dan nyawa mereka terancam jika diketahui keimanannya. Jika mereka mengajak saudara dan sahabatnya ke dalam agama Islam, mereka melakukannya dengan terang-terangan sebagai diri mereka sendiri.
3. Hijrah
Hijrah dimaknai dengan berpindah lokasi. Pada waktu lampau calon warga NII diminta menutup mata sampai tempat “pelantikan”. Zaman ini mereka “hanya” dibawa ke tempat tertentu sebagai symbol hijrah. Di sana mereka diminta melakukan syahadat ulang dan mendaftar menjadi anggota dengan biaya tertentu. Dulu biayanya itu sangat mahal parah sehingga mereka mencuri atau meminta orang tua dengan alasan dibuat-buat; sekarang lebih “standar”, tetapi tetap saja alokasinya tidak bgitu jelas untuk apa.
Bantahan:
Ada hadits tentang tiadanya hijrah lokasi sepeninggal Rasulullah. Maksudnya hijrah dari agama asal ke agama Islam tak perlu disertai dengan perpindahan lokasi kecuali aqidah dan nyawa mereka terancam di lokasi asal. Terlebih lagi, para sahabat yang baru masuk Islam (muallaf) tidak dimintai uang apapun, termasuk uang pendaftaran. Jika mereka diminta untuk menafkahkan harta mereka di jalan Allah, mereka dapat melihat langsung alokasi dana yang mereka sumbangkan untuk apa: untuk membeli perlengkapan, untuk disumbangkan kepada pejuang yang mana, untuk mendanai delegasi, dll. Rasulullah sebagai pemimpin pun tidak hidup bermewah-mewah dalam memperjuangkan agama Allah.
4. Tahapan perjuangan: Makiyah-Madaniyah
Mereka akan mengelompokan tahap perjungan dalam 2 fase, yaitu makiyah dan madaniyah bukan hanya secara karakter atau esensi, melainkan pada praktik keseluruhannya. Ketika fase makiyah, mereka tidak diwajibkan shalat sebab perintah shalat itu setelah amul huzni (tahun kesedihan, yakni meninggalnya Khadijah dan Abu Thalib) dan itu dekat sebelum fase madaniyah.
Bantahan:
Herannya, di fase makiyah warga NII sudah diberi perintah zakat…
Kondisinya adalah: Al-Quran sudah turun lengkap zaman ini, berbeda dengan zaman Rasulullah yang diturunkan sedikit demi sedikit. Jikapun harus mengadaptasi keseluruhan tahapan manhaj seharusnya NII tahu mana ayat yang turun duluan sebelum yang lain. Akan tetapi, di awal da’wahnya saja mereka sering membawa-bawa ayat madaniyah. Selain itu, waktunya pun harusnya disamakan: fase makiyah 12 tahun, fase madaniyah 10 tahun. Sudahkah mereka melakukannya?
5. Militansi dalam tekanan
Mereka bangun malam untuk merancang strategi da’wah. Qiyamullail mereka adalah evaluasi keberjalanan program masing-masing. Mereka bekerja dan bekerja tanpa dukungan spirit yang seharusnya. Siang malam ada SMS yang menagih kerja mereka tanpa henti. Kadang warga menjadi “murtad” karena lelah dengan rutinitas ini.
Bantahan:
Pada masa awal da’wah Rasulullah, shalat lail adalah wajib (1 tahun). ini membuat para sahabat memiliki ketahanan mental yang kuat saat dihempas berbagai ujian. Malam mereka alokasikan untuk charger spirit (mengadu, berdoa, berdzikr, bermunajat kepada Allah) untuk berda’wah di esok harinya.
6. Mereka tak saling mengenal = ukhuwah yang rapuh
Karena sifatnya yang sangat rahasia, bisa jadi mereka tersebar tanpa tahu siapa saja teman mereka yang sama-sama warga NII. Yang mereka tahu hanyalah yang mengajak, yang menda’wahi, dan yang mendaftar bersama mereka. Jika mereka saling kenal pun, mereka akan tidak terlihat akrab di hadapan objek yang akan diajak.
Bantahan:
Makna ukhuwah terberai karena sifat eksklusivitas NII. Bahkan di kalangan internal mereka sering terjadi konflik karena materi ukhuwah tak menjadi santapan materi mereka. Potret Ikrimah bin Abu Jahal dan kedua saudaranya mungkin asing bagi mereka.
7. Polisi? TNI? No way!
Polisi dan TNI akan mereka hindari untuk dida’wahi. Entah alasan apa yang membuat mereka tak diperkenankan untuk mengajak polisi dan TNI ke dalam NII.
Bantahan:
Da’wah Islam tak mengenal profesi, status, warna kulit, suku, atau apapun. Maka, siapapun mereka seharusnya menjadi objek da’wah, sekalipun itu orang yang permusuhannya kepada da’wah ilallah sekeras Fir’aun.
8. Brand lainnya
Mereka akan menjelek-jelekkan NII meskipun sebenarnya mereka berasal dari NII. Setahuku untuk Jawa Barat ada dua brand yang menggantikan nama NII, yaitu: Mang**la**ti dan Za**r*ya. Di wilayah lainnya pasti ada brand lain yang entah apa. Masih belum bgtu paham dengan pembagian KW mereka; ada yang mengatakan bahwa tak semua KW buruk. Hanya saja, untuk di Jawa Barat, apapun KWnya masih banyak catatan khususnya yang membuat harakah ini perlu “digarisbawahi”.
Bantahan:
No comment
9. Takfiri
Mereka mengafirkan orang yang ada di luar NII (takfiri) meskipun kita syahadat, shalat, zakat, shawm, bahkan naik haji. Akibat dari tindakan takfiri ini, menjadikan orang di luar mereka halal kehormatannya, halal hartanya, dan halal darahnya. Maka, mencuri, membunuh, dan mencela orang di luar mereka adalah halal. Padahal jika kita meneliti sejarah pun, Rasulullah tak pernah melakukan kezhaliman apapun kepada tetangganya meskipun ia beragama lain. Ayat tentang membunuh dan merampas perbendaharaan dan perlengkapan pun itu terkait kondisi perang.
Bantahan:
Alangkah beratnya dosa mengafirkan muslim yang lain… dalam sebuah riwayat disebutkan bahkan Rasulullah sangat marah kepada muslim yang membunuh musuh yang bersyahadat di tengah perang.
10. Sisi manusiawi yang kurang dihargai
Dari 2 buku yang kubaca sedikit tergambar apa saja sisi manusiawi yang kurang NII hargai. Seharusnya Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin, tetapi dalam NII yang dibawakan dalam 2 buku ini malah membuat rahmat itu menjauh. Anak yang tadinya manis dan ceria menjadi pendiam dan tertekan. Anak yang tadinya rajin membantu orang tua menjadi pembangkang dan marah jika tidak diberi uang. Ibu kehilangan anaknya sebab pelayanan kesehatan yang begitu pelit.
Bantahan:
Islam memberi perhatian yang besar dalam urusan pernikahan, perkembangan anak, perniagaan, pengaturan kepentingan umum, dsb. Bahkan, Islam tidak segan-segan memberi perhatian pada urusan sekecil memberi senyum, berprasangka, dsj.
11. Kontradiktif!
Masih banyak hal kontradiktif lainnya dari gerakan ini, tetapi satu saja yang mungkin kugarisbawahi adalah: mereka menjelek-jelekkan kita yang bergerak dalam jama’ah (selain mereka) sehingga menghancurkan persatuan ummat Islam, sedangkan mereka sendiri justru jama’ah yang paling keras terhadap jama’ah lain (ya soalnya di mata mereka yang lain itu salah total dan kafir). Mereka menguatkan sesamanya dengan kata “terasing” padahal sebenarnya yang mereka lakukan adalah “mengasingkan diri”.
12. Adaptasi konsep syi’ah dalam lingkup kecil
NII mengadaptasi syi’ah dalam beberapa konsep, misalnya loyalitas pada imam (syuro hanya symbol karena keputusan tetap tergantung keputusan imam, imam tak pernah salah, apa yang imam perintahkan apapun itu harus dipatuhi, dll), di luar pendukung mereka adalah kafir (bahkan beberapa dikatakan la’natullah sekalipun muslim), dan tata cara ibadah yang menafsirkan dari hadits tertentu dengan menolak hadits yang lain (diistilahkan sebagai ingkar hadits: maksud lainnya adalah hanya menerima hadits dari perawi yang mereka terima). Bahkan, dalam hal aqidah pun ada NII yang sudah melenceng (contohnya menyebutkan al-Quran sebagai makhluk, padahal al-Quran itu kalamullah). Bedanya dengan syi’ah, NII ini hanya berlaku di Indonesia saja.
Konklusi
NII zaman ini meminjam istilah NII zaman dulu yang padahal karakter perjuangannya berbeda. NII terbagi menjadi 9 KW (koord wilayah). Yang banyak memiliki catatan buruk di berbagai media adalah NII KW9, yakni MAZ. sedangkan KW yang lain tersembunyi catatannya. Akan tetapi NII KW manapun dan dengan brand apapun, NII yang memiliki catatan khusus seperti disebutkan di atas, perlu diwaspadai. Semoga Islam tidak tercitrakan menjadi semakin buruk karena ajaran2 sesat, apalagi yang menanam kebencian kepada orang di luar golongan mereka.
Just Information buat yang mau diskusi: NII Crisis Center – 08985151228, 021-91178046. Jika ingin terlepas dari “cengkraman” mereka, katakanlah dengan tegas: “saya tidak mau ikut dengan Anda!” dan jangan merasa tak enak untuk tegas (biasanya yg diajak itu emank yg baik hati tapi ga tegaan atau sulit menolak).
–
Ada kemungkinan diedit lagi
Maaf baru sempet bikin; smoga ga bikin blog ini jadi ga damai
Menyikapi Keragaman
Keragaman adalah keniscayaan. Di sanalah Allah memperlihatkan kekuasaannya dalam menciptakan berbagai macam perbedaan. Dengan adanya perbedaan justru ada istilah hidup berwarna dan saling melengkapi.
Adalah tidak mungkin memang membuat semua orang suka kepada qta sebagaimana qta tidak mungkin suka pada semua orang. Sebuah keniscayaan perbedaan cara pandang, pola pikir, selera dengan apa yang kita bawa, apa yang qta punya, dan apa yang kita tampilkan serta sembunyikan: cocok dan tidak cocok.
Memang ada yang qta tularkan atau qta adaptasi dalam rangka menyocokkan diri dengan komunitas yang qta senangi. Qta juga ingin agar komunitas qta mendukung perbaikan versi qta, maka qta mengajak agar ada persamaan yang disepakati. Akan tetapi, keragaman itu tetaplah mustahil untuk dihilangkan. Maka, dalam menyikapi perbedaan diperlukan kebijakan, kedewasaan, dan toleransi terhadap hal yang dapat dimaklumi.
Begitupun ketika kapal berada di laut yang sama, bahkan awak kapal dalam kapalnya: semua pun berbeda. Apa yang terjadi jika satu kapal menyerang kapal yang lain hanya karena alasan yang begitu kekanakan? Padahal mereka memiliki tujuan yang sama dan siapapun yang meletakkan jangkar duluan harus menarik kapal lain untuk meletakkan jangkarnya. Atau apa yang terjadi jika ada awak suatu kapal yang ada di bawah “dek” tak bersabar menunggu air dari awak kapal yang di atas “dek” lantas melubangi kapal tersebut? Bukankah karena kelakuan “kecil”-nya justru ia membuat tenggelam seluruh kapal, isi kapal, termasuk awak kapal? Padahal penyebab ketidaksabaran itu mungkin hanya beberapa orang saja, tetapi seluruh isi kapal harus tenggelam bahkan bersama si pembuat lubang.
Ilustrasi di atas adalah perumpamaan. Laut yang sama adalah samudra da’wah: sebab di sana banyak kapal jama’ah berlayar. Sementara itu awak dan dek adalah pejuang dengan posisinya sebagai pembuat kebijakan atau sebagai pengikut: sebab di sana ada visi bersama.
Mari belajar dari perumpamaan itu: tak perlulah qta menembaki kapal lainnya agar awak kapal tersebut berpindah kapal. Yakin benar mereka akan pindah ke kapal qta? Bahkan mungkin mereka menjauh dari kapal qta karena sikap qta yang begitu kasar. Masih syukur mereka pindah kapal lain dengan selamat, bagaimana jika mereka memilih tenggelam? Selain itu, qta yang di bawah dek perlu bersabar saat orang di atas dek tak segera mengirimkan air… jangan lantas langsung melubangi kapal… jangan-jangan qta menyepelekan satu lubang kecil yang justru ternyata itulah penyebab semua tenggelam?
Biarlah orang-orang yang berenang memilih sendiri kapal yang mana yang akan dinaikinya. Orang yang telah naik ke suatu kapal jangan dicegah jika ingin naik ke kapal lainnya. Setiap orang punya kecenderungan dan keyakinan akan jalan kapalnya, maka biarlah ia segera memilih kapal daripada tenggelam seorang diri. Lantas bagaimana jika awak kapal lain menembaki kapal qta? Bukankah Allah juga yang mengajarkan qta tentang akhlaq antar kapal? Terima saja pelurunya dan perbaiki arah haluan serta doakan agar mereka bisa lebih baik saat ingin menasihati. Lantas bagaimana jika saat qta di atas dek melihat teman qta di bawah dek hendak melubangi kapal? Tegur ia dengan cara yang ahsan, ingatkan tentang visi… jika ia membantah, mintalah ia kembali berenang sendiri daripada kapal tenggelam. Terkadang qta tak mau mengumbar kesalahan mengapa sang ia dikeluarkan dari kapal, tapi seringkali qta harus memberi tahu alasannya kepada teman qta yang lain saat bertanya.
–
Mudah2an bahasanya ga terlalu berat…
Saatnya melapangkan hati untuk memaafkan, De^^