Arsip Kategori: campuzz
sepenggal kisah kampusku dan bekal untuk ade2ku yang masi ngampus^^
Memoar di ITB
Telah kutulis semuanya sebagai Yandi di sana… hmmm, Yan (tokoh fiksiku), aku dalam posisimu sekarang; masih ragu untuk memilih salah satu jalan karena terbentur banyak kepentingan… semoga ngampusku selama hampir 5 tahun ini tak sia-sia pasca kampus ini.
Tulisan yang mana, ya? Yang ini nih versi flash fict-nya (pernah kutulis di blogspot dan di myQuran:
===========================================
Campuz, I’m in love
Inilah dunia kampus, sebuah miniatur kehidupan nyata dan perjuangan yang beragam warna. Ada medan yang memerlukan kelembutan dan kepekaan rasa, ada medan yang membutuhkan sikap tegas dan tak pandang bulu, ada medan yang mengharuskan banyak peluh dan air mata terkorban.
Inilah dunia kampus, sepenggal alur yang begitu indah. Bermula dari ilmu dan pemahaman kemudian berbentuk sebuah keyakinan, menjelma pergerakan yang lembut tapi progresif. Berapa banyak catatan baik yang kecil maupun besar ditorehkan para pelakunya dalam sejarah kemahasiswaan.
Inilah dunia kampus, setetes cinta yang begitu samudera. Gelombang pergerakan yang tak henti membesar dan siap menelan kezaliman pemimpin baik di hisab pengadilan maupun mizan di hadapanNya. Gulungan ombak yang tak berhenti menyuarakan pembelaan untuk rakyat kecil.
Inilah dunia kampus, sekedar catatan kecil yang menjadi pembuka. Jalan apa yang akan kita tempuh selanjutnya?? Sektor publik, sektor privat, dan sektor NGO. Porsi sebesar apa dan ukiran yang bagaimana yang akan kita hujamkan sebuah catatan berikutnya yang menjadi pilihan dari hati.
Inilah kampusku dan aku harus mengakhirinya, bagaimanapun aku mencintainya. Roda waktu tak pernah berhenti berputar. sedangkan pintu-pintu lain menungguku selepas kudapatkan gelar sarjana. Kupandangi gedung ini untuk terakhir kalinya dengan toga di tangan. Aku akan kembali ke daerahku mulai esok, tapi perjuangan ini takkan pernah berhenti. Justru inilah permulaan kujemput syahidku. Aku memang belajar tentang kehidupan di sini, tapi setelah inilah kehidupan yang sesungguhnya. Syukur kupanjatkan karena Allah telah mengenalkanku jalan keimanan dan mencintainya sepenuh jiwa.
“Yan,” panggil kakakku yang sudah menungguku selesai mengobrol dengan sahabat-sahabatku tentang rencana pasca lulus, “foto sini!”
Kusambut panggilannya dengan segera setelah pamit sejenak dari forum obrolan. Sahabat-sahabatku sudah yakin dengan pilihan mereka: menjadi pengusaha, menjadi karyawan, melamar PNS, menjadi dosen, ikut riset pemerintah, dan banyak lagi. Aku hanya bisa mendoakan mereka agar mereka bisa mencapai cita-cita mereka tanpa melupakan parameter iman kepada nilai ukhrawi yang pernah kita kenal bersama.
“Yakinkanku bahwa kamu akan tetap istiqamah di jalan ini!” ucap Ikhsan.
Dengan senyum aku menangis tanpa air mata. Diam-diam aku berdoa agar kami semua yang memulai segalanya di sini kembali bertemu di jannahNya, sebagai pertemuan terakhir. Rabb, perkenankanlah harapanku untuk sua yang terindah dariMu, amin.
=====================================
Ini sebenarnya curhatan geje yang mungkin bisa memulai topik campuzz yang harusnya udah basi bagi ochie sendiri. Ya gapapa, semuanya bisa jadi dimulai dari akhir. Catatan-catatan di kategori ini bisa jadi kenang2an klo dibaca kelak; semoga bisa jadi penyemangat dan refleksi juga buat para aktivis kampus di manapun…
Unit kegiatan dimana ochie pernah daftar (daftar only, beneran ga dijalanin lagi berikut2nya): KSR (korps suka rela) dan Kokesma (koperasi kesejahteraan mahasiswa). Kegiatan dimana ochie pernah aktif, tapi Cuma 1 semester: kompromi (komunitas keprofesian muslim) dan KM EO (kabinet mahasiswa, event organizer). Yang pernah agak lama dan sempat mengurus: Mata’, Gamais, MSTEI, Muslif, HMIF. Yang ga pernah pensiun: mentor (Cuma gonta-ganti mentee). Yang paling disukai: Media GoG TPB (paling aman damai, tapi kerjanya pun hobi: menulis). Yang disambi selain aktivitas kampus: bantu2 DS, kreativitas akhwat myQ, ngajar mandiri.
Mata kuliah yang paling nyeremin: fisdas, PRE, dkk. Mata kuliah yang paling disukai: AEI, Sastra, Kewirus. Mata kuliah IF? Relatiflah, yang paling disukai: Intelegensia Buatan (meski nilainya ga bagus). Dosen favorit: ibu legenda (masi bu Inge, hehe), pak miftah (dosen AEI). Yang paling ga disukai: praktikum (haha, jarang banget bisa jalanin prog.exe dengan benar). Yang paling berkesan: ketulusan seorang teman saat nubes, jualan sebulan dapet laba bersih 500ribuan. Yang paling susah masuk logika: i = i + 1; (wkwkwk ;D). Merasa terjebak masuk Informatika, mau mundur tapi ga ada yang dukung, akhirnya mencoba menikmatinya.
Hal yang paling menarik di kampus: gedung2nya yang unik, psikologi mahasiswa S1. Hal yang paling dibenci di kampus: anjing yang keliaran palagi ngedeketin, signal hotspot klo gi putnyam >.< Makanan dan minuman favorit: apapun yang di Salman (paling murah c :p). Terkenal sebagai ahli nagih data mentoring selama 3 semester di Gamais. Anti diajak karokean (karena suaranya terlalu bagus, wihiiii). Sering emte, tapi suka ga nyadar (awalnya). Punya masa-masa tertentu melihat fenomena di kampus (amat sangat peka-peka-ga peka-luar biasa ga peka).
Komentator unik orang2 selama ochie jadi mahasiswa: jalannya cepet (g nyadar sejak kpan), jalannya aneh (emank dari dulu c ini mah), ga nyadar bodi (suka bawa lepi yg katanya lebih gede ukurannya dariku), aneh klo ga nenteng sesuatu (lupa -___- bawa apa aja emank?), ga pernah beli buku kuliah (klo ga minjem, potokopi sndiri c), anak farmasi (salah satu komen terbanyak; hwaaa terharu! berarti ochie masi keliatan feminim), penghuni labdas (sbelum punya lepi tingkat 3), emte (bukan hanya karena masuk pm, haha), misterius (jarang bilang2 ini-itu, tapi sekarang udah lumayan sisi xtrovertnya; bersyukurlah jadi myQers).
Yah, itu hanya skelumit memoar dari sekian banyak yang tercecer (halagh bahasanya). Buat pejuang yg masi ngampus, (^o^)/ keep spirit high!
Urgensi Da’wah Prodi
Sebenarnya agak merasa kurang layak membahas ini di blog sebab meskipun menjadi salah satu pelaku dalam da’wah kampus, ochie merasa kurang optimal dalam menjalankan fungsi da’wah prodi. Akan tetapi, baiklah topik ini pun perlu kajian dan masih sangat sepi penggarapnya di blog… sekalian curcol apa aja yang pernah terjadi di jaman lampau
Dalam kacamata da’wah, kampus adalah miniatur sebuah Negara: hanya saja pelaku utamanya adalah mahasiswa (dosen juga ada, tapi berhubung ochie ga pernah, yasud pinggirkan dulu). Dalam kacamata da’wah pun, prodi merupakan miniatur kampus. Maka, sebagaimana kita menilai penting da’wah kampus, da’wah prodi pun sama pentingnya.
Ceritaku…
Sewaktu tingkat satu dulu, ochie inget kalo itu masa2nya pembinaan begitu kenceng dari sana-sini: Gamais ngadain, Mata’ ngadain, LPD Salman ngadain, MSTEI ngadain, ikatan alumni ngadain. Begitu tingkat dua, setiap aktivis da’wah yang udah digodok ini itu tadi ditempatkan dalam beberapa pos. Waktu itu ochie memilih beraktivitas struktural di bagian da’awi, then Gamais jadi pilihan daripada Mata’ dan MSTEI sebab departemenku sepi peminat (BKM)…. Only one name there: it’s mine!
Tingkat dua dan semester awal tingkat tiga ochie mulai betah sangat di BKM dan bahkan bersiap2 untuk melanjutkan perjuangan korwat di sana. Tiba-tiba palu diketuk di tingkat tiga penghujung semester awal: ochie harus “pulang” ke prodi. Singkat kata, ochie yang awalnya ga punya kcenderungan berda’wah di wilayah memilih menjadi korwat MSTEI. Berat? Tentu. Tanpa bekal apapun (ochie bukan seorang tokoh di himpunan, akademikku kurang bagus, dan juga sebelumnya bukan aktivis MSTEI). Namun, ada satu yang seorang ochie kecil ini punya: kecintaan terhadap da’wah di manapun itu dengan semua keterbatasannya.
Setelah mencoba untuk pulang, meski dengan hati hancur (halagh), ternyata si ochie ini merasa sangat bersalah… kenapa tidak dari dulu memilih da’wah prodi? Kenapa begitu PDnya akan ditempatkan di da’wah pusat? Kenapa aku tak begitu memperhatikan akademikku? Kenapa kecintaanku kepada teman2 di prodi tak ditanam sejak dulu? Kenapa da’wah begitu lemah menyentuh mereka? Karena aku! Karena aku meninggalkannya, aku tak peduli, dan hanya merasa betah di tempat da’wah asalku!
Dengan semua kekecewaan terhadap diri sendiri, ochie yang tak pernah menjadi apa2 di prodi pun memulai langkahnya. Awalnya benar-benar perlu effort sakit hati bertubi2, tapi Alhamdulillah setelah kekebalan itu menjadi tebal, berikut2nya malah menikmatinya: sebab semua rasa nyeri itu akan dibalasNya, demi Allah, akan dibalasNya. Itulah keyakinanku! Selama perjalanan setahun bahkan plus2 tahun2 berikutnya (meski bukan di bagian struktural lagi), ochie mendata beberapa problem da’wah prodi yang sedikit unik daripada problem da’wah pusat:
Menghadapi heterogenitas
Berbeda dengan aktivitas da’wah pusat yang kebanyakan menjalankan amanah dengan orang-orang yang benar-benar sekufu, secetakan, sevisi, aktivitas da’wah prodi dijalankan oleh pelaku yang sangat-sangat beragam secara ilmu dan amal. Bahkan, yang paling ekstrim adalah saat harus menyadari bahwa NII sudah menyusup dalam struktur da’wah prodi. Di masa ‘ammah (non pengurus), bahkan, tak terelakkan lagi harus bersinggungan dengan pemegang idealism ekstrim: hedonis (yang sudah tak mengimani kehidupan akhirat) dan atheis (yang sudah tak mengimani adanya Allah).
SDM: kuantitas dan kualitas
Bukan hanya jumlah pejuang yang sedikit yang dimiliki da’wah prodi, melainkan juga secara power. Kenapa? It’s just my opinion: karena pejuangnya kurang dibina oleh pendahulu mereka. Ochie sendiri merasa kenapa tiba-tiba diberi amanah tanpa dibina dengan baik dan benar dulu? Ini bersumber dari kaderisasi yang lemah di tubuh MSTEI. Dengan alasan arogansi Muslif dan ME (sebagaimana HMIF dan HME), ada pembenaran untuk tidak menanamkan sense da’wah prodi sejak awal. Selain itu juga, ochie rasa animo kader Gamais 2006 yang memandang bahwa aktivitas da’wah pusat lebih keren daripada prodi, maka da’wah prodi sepi penghuni.
Antara terlalu luasnya garapan dan kurangnya inisiatif
Yang membedakan aktivitas pusat dan prodi adalah pusat memiliki garapan yang sempit wabil khusus dengan sasaran yang luas, sedangkan prodi memiliki garapan yang luas dengan sasaran yang sempit. Paham? Contohnya BKM mengurus mentoring seluruh mahasiswa S1 (wow sasarannya sekampus gitu), tapi MSTEI mengurus mentoring, kaderisasi, pemetaan, syi’ar (web, bulletin, milis), kemuslimahan, danus, dll (tapi sasarannya ya hanya orang2 prodi). Celakanya, garapan yang sangat luas bin banyak ini banyak mandeg karena para pejuangnya kurang inisiatif: bikin ide dan eksekusi sendiri.
Penyakit internal
Penyakit ini terjangkit di tubuh pejuangnya: dari mulai faktor pembelok niat seperti VMJ, tak sehatnya komunikasi di tengah salah paham dan prasangka (rentannya ukhuwah), sampai ketidaktaatan kepada pemimpin. Penyakit internal ini sebenarnya lebih berbahaya daripada penyakit eksternal sebab ia sulit terdeteksi dan menjadi perusak flow keberjalanan semua proker. Hal ini dperparah oleh tiadanya sistem kontrol atau reminder bagi para pengurus da’wah. Boro-boro ada sistem kontrol, nyari orang buat ngontrol aja… siapa? MS yang harusnya tetap setia setelah pensiun dari pengurus pun kurang aktif bertanya. Penyakit internal pun menjangkiti seluruh muslim yang ada di prodi, entah itu karena sistem seperti prodiku IF yang memiliki arus akademik kuat dari arah tugas besar yang ga berhenti2… ataupun karena banyaknya paham yang masuk tanpa filter, sedangkan mentoring dan bentuk pembinaan lain tidak sehat….
Penyakit eksternal
Penyakit eksternal itu terkait dengan koordinasi kelembagaan. Sekali lagi, da’wah prodi merupakan tangan panjang dari da’wah pusat. Maka, ketika pusat memiliki agenda tertentu, prodi pun harus membantu. Demikian pun, jika prodi membutuhkan bantuan pengurus pusat, tidak boleh ada jawaban, “itu kan tugasmu… bereskan sendiri!” seakan amanah itu hanya didelegasikan tanpa hati dan visi da’wah yang seharusnya sinergis. Adapun yang dilakukan prodi dalam membantu itu dimulai dengan koordinasi ke pusat kemudian mengadakan koordinasi di tingkat prodi. Nah, koordinasi yang tidak sehat bisa menyebabkan penyakit yang sama dengan penyakit internal: rentannya ukhuwah hingga kepercayaan terkikis habis.
Repotnya teknis, dkk
Problem teknis ini sangat banyak jika dibahas satu per satu. Beberapa di antaranya antara lain: Struktur kepengurusan yang kurang fleksibel, masa kerja yang relatif singkat (1 tahun itu sebenarnya tak cukup agar mapan), frame kerja syi’ar untuk follow up kaderisasi kurang terinternalisasi pada setiap otak pengurus, memilih dan memilah proker rutin-insidental dengan skala prioritas, dan lemahnya dokumentasi: dari perancangan, eksekusi, sampai evaluasi sehingga proker selalu dimulai kembali dari nol setiap tahunnya (tidak ada progress signifikan yang terlihat).
Demikian saja yang bisa kusampaikan. Konteksnya masih terbatas pada da’awi dan khidamy, tetapi untuk konteks lain sebenarnya banyak problem yang sifatnya irisan. Pastinya masih banyak PR da’wah prodi dan perlu diingat bahwa setiap prodi memiliki karakter yang unik yang membuat mereka harus putar otak. Itulah manfaatnya ada sharing antar LDF-LDPS dimana yang kurang terbantu oleh yang berkelebihan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi mereka yang masih beraktivitas da’wah di kampus, terutama di prodi (Alhamdulillah Muslif hidup lagi dengan jaketnya). Adapun tentang tips-tips dan jenis prokernya akan disampaikan di artikel berikutnya mayb, insya Allah. (^o^)/ Semangka!
–
Wahai pejuang da’wah, di antara mereka yang sudah melupakan kehidupan ukhrawinya selalu ada teman2 qta sebenarnya ingin sekali diajak berislam lebih baik, diajak mentadaburi ayat-ayatNya, dan diajak mencintai Allah dan RasulNya (terutama saat merindukan kedamaian hakiki)… mungkin tangan kita terlalu kaku dan khawatir tangan mereka terlalu rapuh sehingga kita ragu untuk meraih tangan mereka (tanyakan hati kita apa kita benar menyayangi mereka atau sekedar tak ingin kehilangan kepercayaan?)… atau mungkin ada kesalahan masa lalu yang membuat kita tak merasa diterima oleh mereka (meski sebenarnya mereka mungkin memaklumi itu dan memaafkan kesalahan kita)…
Tiga Potensi Manusia
Saat pertama kali menjadi mentor dalam OSKM (berarti waktu itu TPB-nya masih angkatan 2008), waktu itu chie nulis di buku para mentee buat reminder bahwa yang perlu nutrisi itu bukan cuma badan, tapi juga otak dan spirit. Hmmm, jadi inget lagi abis baca satu buku
It’s about human! Dalam sebuah kajian, chie denger potensi (skill) manusia itu ada 3: hard skill, soft skill, dan life skill. Klo hard skill itu lebi bersifat teknis dan secara keilmuan dia jelas, klo soft skill itu lebi nyeni (baca: bernilai seni) dan seringkali abstrak plus unik, maka life skill lebi ke karakter dan ketahanan mental menghadapi ujian hidup. Ada juga yang bilang potensi itu: indra, akal, dan rasa. Namun, sebenernya ochie lebih punya frame (karena emank tahunya lebi dulu) bahwa potensi manusia itu secara individu (bukan sosial ya) ada 3: jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah.
Jasadiyah
Jasadiyah maksudnya ya jasad, fisik, faal, tubuh, badan. Kemampuan indra dan kesempurnaan bentuk juga fungsi (anatomi-fisiologi) termasuk di dalamnya. Seperti yang telah kita ketahui bersama, ia perlu nutrisi bernama gizi (zat makanan). Jika tidak, ia akan sakit.
Fikriyah
Fikriyah sering diartikan akal, kemampuan berpikir, menganalisis dan bersintesis. Ia juga menuntut diberikan nutrisi agar tidak sakit, agar ia tidak haus (gelisah). Nutrisi untuk fikriyah bernama ilmu. Ilmu akan menjawab tanda tanya di dalam otaknya bahkan hingga memuaskan hatinya.
Ruhiyah
Ruhiyah singkatnya adalah spirit dan emosional. Ia yang paling luput diberikan nutrisi oleh pemiliknya padahal potensi ini adalah potensi yang menggebrak dan mengeluarkannya dari potensi umum miliknya ke potensi luar kebiasaannya. Nutrisinya bagi seorang mukmin adalah nutrisi iman, berupa nasihat, motivasi, dan pengingat.
Orang yang sehat jasadiyahnya, tetapi tidak fikriyahnya palagi ruhiyahnya, seperti orang gila. Orang yang sehat fikriyahnya atau ruhiyahnya saja bisa jadi terus-terusan di RS karena penyakit yang dideritanya. Orang yang ga punya ruhiyah, bisa jadi pembunuh berdarah dingin (punya strategi dan sehat, tapi tak punya “hati”). Manusia yang utuh membutuhkan kesehatan ketiganya secara lengkap.
Nah, sudahkah kita memberi “makan” ketiga potensi yang dikaruniakanNya secara seimbang? Dalam kehidupan kampus sendiri ada banyak mahasiswa yang sebenarnya tengah merasakan depresi, stress, atau apapun namanya, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mayb ada kewajiban yang belum ditunaikan untuk dirik kita sendiri, entah itu jasadiyah, fikriyah, atau ruhiyah.
–
ngasi materi ini di blog bukan berarti ochie udah tawazun (seimbang)…
masi belajar, mohon dimaklumi
semoga bermanfaat!
Aktivitasku
Menuju 7000 views (^o^)/ *yeeeeey dikit lagi, Alhamdulillah
“Chie, koq di blogmu perasaan ga ada catatan aktivitasmu c??” protes seseorang yang baru jadi pengikut blog (tapi ga pernah komen di sini :p). Chie diem. Ah masa? Perasaan ada banyak da cerita aktivitasku, macem2 pula. Lagian, da emank blog ini mah bukan buat catatan aktivitas, tapi blog yang “itu” juga da amat sangat jaraaaaaaaaaaaang banget pisan update. Emank kudu cerita apanya?? -______-
Mule dari peran. Ochie adalah seorang anak keempat dari lima bersaudara keluarga Abdul Rahman. Ochie mahasiswi tingkat akhir (AAMIIIIIIIIIN >.<) di Teknik Informatika ITB angkatan 2006. Ochie pejuang kehidupan yang masih mencari kesejatian dirinya (halagh). Ochie… palagi, ya? Alumnus DKM al-Furqon, wew ralat, alumnus SMAN 3 Bandung, SMPN 16 Bandung, SDN Neglasari IV, SD YPKS (dulu bareng Multazam). Ochie… mmm, au ah gelap
Tiga hal yang jadi fokus dan prioritasku sekarang: TA, A3, SDNC. Neon si eta??
TA: Tugas Akhir
Makanan paan c? Makanan? Hehe, alangkah bagusnya klo bisa dianggap makanan. TA is satu syarat kelulusan seorang mahasiswa UGD (“universitas gajah duduk”, fufu, nama lain itebe selain “universitas negeri Bdg” yg populer di film Jomblo). Sejenis skripsi, tapi bedanya orientasinya bukan cuma penelitian, tapi harus ada sejenis “produk” buat problem solve atau give prospect.
TA-ku soal apa? Pernah denger Learning Management System? Coba buka http://kuliah.itb.ac.id! Nah, itu salah satu bagian dari LMS. Honestly, awal tahu situs kampus yang sgede gaban (neon c gaban? Oot lagih) ochie ngerasa excited. Wow kk wow, anak IF yg bikin inih keren sangat! Lama2, owh ternyata selain moodle (LMS yg dipake kampusku), masi ada LMS jenis laennya. Emank c nyaris semua institusi pendidikan di tanah air pake moodle, tapi ish… eh, sssssstttttttt… LMS laennya bukannya ga kalah keren, cuman beda spek. Ada banyak ya, yang free misalnya: Sakai, ATutor, Claroline, dll.
Moodle c bilangnya dia pake pedagogical prinsip. Hmmm, i think it’s only bout publication and easy to install… LMS free laennya juga ga mau kalah ma Moodle, bahkan ada yang lebih dari sisi yang laen. Misalnya LAMS, lebih kerasa manajemen aktivitasnya; pendesain kelas juga lebih gampang klo mau bikin skenario pembelajaran online, fufu^^. Nah, klo TA ochie ni selain mengkaji virtual class, pengennya membuat framework baru buat LMS yang melupakan satu sisi penting. Apa itu? Ah, ga seru klo diceritain semua di sini. Ntar klo udah jadi bukunya (insya Allah April udah ada), maen ke perpus IF dan baca di sana ya
ga jago koq, cuman iseng di momen TA!
A3: Arisan Akhwat A3 (rekursif nih)
Klo yang jadi friend-ku di fesbuk mayb udah pada tahu soal inih. Ini adalah satu konsep inisiasi jejaring bisnis berdasarkan ukhuwah dan memberi kemanfaatan. Hmmm, ceritain gitu ya? Wah, ntar banyak pesaing dunk! Hehe, dikit aja gapapa deh demi ikut melengkapi kekurangan enterpreneur di tanah air dari 0.1% menjadi 2%.
Lima orang mahasiswi “unit gawat darurat”
menggagas ide dibentuknya sejenis sekolah kemuslimahan. Di sini peserta diajarkan 8 jenis keterampilan mule dari yg cewe banget, kreatif banget, mpe multimedia banget (hehe iya “banget” gtu??). Ntar, peserta masuk klub keahlian buat bikin ide and kreasi. Goal qta di akhir adalah bisnis jaringan! Perusahaan kecil yang dibikin para peserta sekolah di daerah masing2 dan memberdayakan masyarakat tertinggal akan diiklankan dengan sebuah situs bersama. Finally jadi koperasi syari’ah online yang memberikan peluang dan kemudahan bagi member (insya Allah membernya not only peserta sekolah) untuk membeli dan menjual barang2nya^^.
SDNC: Suka Duka Negeri Cinta
Buat bagian ini, mangga kunjungi blog kami^^ di http://sukadukanegericinta.blogspot.com
Intinya ini adalah mimpi sebuah tim untuk membuat buku yang menginspirasi seseorang terlibat dalam pementoringan, baik sebagai mentee, mentor, maupun pengurus mentoring. Atas bantuan teman2 lain buat publikasi dan atas bantuan teman2 penulis yang mengecap mentoring secara emosional, kami berhasil menutupnya di akhir tahun kemarin. Sekarang masih dalam masa evaluasi (editing karya terpilih) bersama dua juri lain. Doakan ya bisa goal ke penerbit yang qta harapkan!
Tiga amanah tambahan: membina, membina, dan membina^^
Alhamdulillah masih dipercayai menjadi seorang mentor dan trainer mentor. Ada tiga kelompok yang masih kukelola, dua di antaranya di kampus dan satu di antaranya di masyarakat. Satu amanah tambahan yang tawarannya baru diterima adalah trainer mentor akhwat di SMA. Mudah-mudahan bisa istiqomah mencintai mentor dan mentee, amin, mencintai pengurus mentor juga tentu. Klo membina di organisasi sekarang mungkin sekedar sebagai “swasta” yang ngasi tausiyah dan masukan perbaikan (di muslif dan mstei).
Tiga poin itu adalah: struktural, membina, dan kultural!
Aktivitas yang disebut di atas baru yang sifatnya struktural (terorganisasi di institusi atau lembaga) dan membina (jadi mentor dan trainer). Ada satu lagi sebenernya: kultural! Paan tu? Peran tadi, Kawan, karena qta ga diciptain sendiri dan terlepas dari semua entitas laen! Jadi inget status seorang sobat di kampus who says (kurang lebih), “amanah yang ga bisa dilepas: jadi anggota keluarga!” padahal coba lihat at-Tahrim:6! Yang harus qta pedulikan tentang kehidupan ukhrawi setelah diri sendiri adalah keluarga, then tetangga, then orang2 di sekitar komunitas qta.
Seorang sahabat pernah bilang dengan tegas bahwa seseorang bernilai nol besar jika ia dihormati di lingkungan kerja, tapi tidak di rumahnya, di keluarganya, di sekitar rumahnya. Semakin banyak ia memberi kemanfaatan ke komunitas yang paling dekat secara kekerabatan dan kedekatan jarak, semakin mulia harganya. Aktivitas kultural (atau istilahnya membudaya, melebur ke masyarakat) adalah aktivitas yang sering dilupakan oleh banyak pihak. Palagi mahasiswa kosan yang apatis dan sering ga peduli lingkungannya (ups! sorry, man, klo ad yg tersungging).
*gimana si ochie ni malah berteori lagi, katanya mo ngomongin diri sendiri??
Penguat itu bernama komunitas!
Dengan segudang aktivitas, terkadang seorang aktivis semakin tipis… eh, udah ngehank ni… maksudku: dengan segudang aktivitas, terkadang aktivis merasa futur (lemah iman, turun spirit) dan ia perlu charger energi. Buat ochie (yang sebenernya ga layak dibilang aktivis selain karena kantongnya tipis, hehe) itulah pentingnya komunitas. Komunitas: ada yang mengingatkan bersyukur saat mudah, ada yang mendampingi kesabaran saat sulit, dan ada yang menanamkan 3 vitamin bernama khauf, raja’, dan mahabbah untuk emosi. Cari komunitas itu, Kawan, dimanapun kamu berada dan bentuklah komunitas kebaikan lain dimana kamu inisiatornya.
–
dulu c dominan melankolis plegmatis (meski ada sisi lain tereksplor), tapi ga tau ya klo sekarang. hehe, merasa aga berubah jadi mayan sanguinis dan koleris. Hmmm, ga penting juga c ngomong tipe ginian: poko’e IT’S ME AND MY ACTIVITIES (^o^)/ SEMANGKA!