Arsip Kategori: bout love
overview cinta, meski ga mungkin terjelaskan sekedar dengan kata
Ketika Rasa itu Begitu Menusuk
De, saat kamu tanya kepadaku tentang apakah cinta itu, mengingatkanku pada sebuah episode dimana aku bertanya hal yang sama kepada seniorku. Waktu itu aku masih tingkat satu dan menteeku di SMA bertanya: benarkah “ini” cinta? Aku yang hanya tahu mengagumi banyak orang (laki maupun perempuan) karena sifatnya semata tak begitu paham tentang cinta. Maka inilah jawaban beliau yang masih kuingat, “Kalau kamu belum merasakannya, jangan kamu paksa dirimu memahaminya sebab ia rasa sakit yang tak dimengerti oleh penderitanya. Kalau kamu sudah merasakannya, maka ibarat hati itu satu rongga, penuhilah rongga itu dengan satu cinta: Allah saja… sedangkan cinta lain merupakan konsekuensi cinta qta kepada Allah…”
De, awalnya aku tak paham apa maknanya sampai aku benar-benar mengalaminya sendiri. Sakit? Ya, ternyata ia hanya sakit jika tak ada ikatan yang menghalalkannya. Ia tak memiliki alasan untuk memiliki. Ia hanya memiliki konsekuensi rindu dan cemburu yang hanya membuat pikiran terkuras, waktu habis, dan tak berpahala! Ia membuang waktu produktif kita dan membuat kita seringkali meneteskan air mata sekedar untuk memendamnya. Memendamnya? Tak bolehkah kita menyatakannya?
De, jangan katakan “aku cinta” jika kita tak mengerti apa konsekuensinya. Berjuta alasan yang kita ungkap untuk mencari pembenaran menyatakannya, jika tak punya keberanian untuk menghalalkan cinta, nilainya di sisiNya hanya 0 semata. Nol? Yakinkah hanya nol atau jangan-jangan malah menjadi minus? Saat sang dia malah tertular penyakit kita, atau bahkan kita dan sang dia terjebak pada jeratan setan yang terhias begitu indah di nafsu kita, saat itu… benarkah Allah ridha? Apakah harga surga begitu murah sehingga maksiyat bisa membelinya?
De, saat kamu kata tak punya alasan logis untuk menangkalnya karena perasaan menjadi begitu dominan menguasai jiwa, memang itulah cinta. Maka, ingatlah kembali episode mereka yang meninggikan cintanya kepada Allah jauh di atas cinta lainnya. Semoga mereka bisa menjadi motivasimu dalam “melupakan” cinta. Setelah itu, sibukkanlah dirimu dengan aktivitas yang membuatmu lupa: aktualisasikan diri sampai kamu tak punya banyak waktu memikirkannya. Jika kamu sungguh ingin melepasnya dulu, bayangkanlah sang dia memiliki sifat buruk yang kita benci. Jika seribu ikhtiyar yang kamu lakukan belum cukup untuk menawar duka, tak ingatkah masih ada Dia tempat meminta?
De, bukankah kamu pun tahu bahwa Dialah yang Maha membolak-balikkan hati? Mintalah rasa itu ditunda jika waktu belum tepat untuk menghalalkannya… tapi jika memang jawabanNya adalah berjuang untuk menghalalkannya, apa lagi yang membuatmu menunda? Perjuangkan cinta tak setengah-setengah! Minta Allah untuk membantumu menuju kebaikan yang diridhaiNya walau itu dengan jalan yang tak disangka-sangka… jawabanNya? Bagaimana kita tahu Dia menjawab saat kita bertanya?
De, istikharahlah… jangan ragu bahwa Dia lebih tahu tentang diri kita bahkan dibanding diri kita sendiri. Dia yang Maha hidup dan tak pernah mengantuk, setiap waktu dalam kesibukan menjaga dan memelihara kita. Dia, De, satu-satunya yang tak jemu mendengar keluh kesah yang sama saat yang lainnya sudah menutup telinga. Masihkah kita sangsikan kebaikanNya? Masihkah kita ragu bahwa Dia takkan memilihkan yang terbaik saat kita meminta? Lupakan egomu, De, biarkan ego larut dalam tangis kepasrahan. Jangan biarkan ilah tertukar, jangan sampai cinta menjadi segalanya di atas Allah (na’udzubillah)! Bukankah cinta hanya sarana? Bukankah cinta hakiki hanya yang kekal di sisiNya? Dan tujuan kita masih pertemuan dengan Allah di surga?
De, sekarang kamu sudah merasakan apa itu cinta. Ia adalah fitrah yang dikaruniakan sejak Adam merasa tak lengkap dengan hidupnya tanpa seseorang: Hawa. Ya, cintalah juga yang membuat Adam dan Hawa saling mencari setelah terusir dari surgaNya. Ia adalah kecenderungan agar hati merasa tentram saat bersamanya dan gelisah saat lama tak bersua. Akan tetapi, menumbuh dan menyuburkannya adalah pilihan! Maka, saat cinta diusung tinggi-tinggi, ingatlah saat ia harus jatuh, rasa sakitnya berbanding lurus dengan tingginya cinta… lantas jalan apa yang akan kita pilih agar ia tidak sakit atau justru barakah? Hmmm, betul, De, kamu sudah tahu jawabannya…
Memperjuangkan cinta ini hanya memiliki dua pilihan:
1. Bersungguh-sungguh mengembalikannya (mundur melupakannya)
2. Bersungguh-sungguh memperjuangkannya (maju menikahinya)
Maka, jalan mana yang kan kamu pilih saat ini? Aku yakin kamu sudah pintar menentukan pilihan. Ya, memperjuangkannya itu bukan setengah hati, bukan setengah ikhtiyar, dan bukan setengah tawakkal…
–
Konteks cinta sempit
Artikel yang semoga bisa menjawab pertanyaan beberapa orang yg berbeda^^
Surat yang pernah kukirimkan sebagai hadiah untuk sesama pejuang rasa, terutama ade2 yang mempercayakan teh ochie tentang fitnah di hatinya
pilihlah yang meninggikan derajatmu di sisiNya… Teteh bukan orang yang lolos dari perasaan sejenis ini, tapi Alhamdulillah pernah berhasil melepasnya… prinsip yang masih sama: pacaran hanya bisa pasca pernikahan dan cinta seistimewa itu hanya untuk suami saja
Salahkah Aku Mencintaimu??
Jangan tanyakan lagi aku tentang cinta karena ia ada di sini, di dalam hati, sehingga tak terbahasakan lagi selain oleh bahasa hati… kamu takkan bisa mendefinisikannya hingga kamu merasakannya…
Jika kau masih juga kukuh bertanya tentang cinta kepadaku, maka jawabanku adalah cinta itu saat kau selalu menginginkan kebaikan untuk kalian: pecinta dan yang dicinta…
–
Eiss, kata2 mutiara di atas begitu menyentuh relung2 hati dan mengetuk2 pintu jiwa (fufufu, bahasanya!). Konteks kebaikan pun sangat luas; generally: dunia dan akhirat, tentu. Ok, preambule ga usah panjang2. Udah dibahas dikitlah ya soal cinta, udah ada gambaran biar cinta ga dimaknai sesempit hubungan dua insan. But, kali ini ochie mau mengkupas cinta yang sempit ituh. Yup, ini edisi terakhir dari artikel bermodus cinta made in “Sabar Tiada Batas”, insya Allah (maaf kelamaan dari waktu yang dijanjikan)… tajuk kali ini mungkin agak sotoy coz ochie sendiri belom pernah pacaran dan merasakan cinta persis kaya begini… mudah2an ntarlah ma misua (woho, aamiiiiiiin). Sebenarnya buku pembahasan soal cinta ini banyak sangat dan ini cuma segores coretan anak IF yang mahiwal
. Semoga bermanfaat!
C.I.N.T.A
*Ket: mule dari sini (di artikel ini), kata “cinta” adalah buat pengertian sempit: arrijal-annisa!
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (al-Imran:14)
Dari ayat di atas, sangat jelas bahwa seluruh manusia diberi kecenderungan, keinginan, secara fitrah pada karunia Allah… dan posisi yang pertama adalah WANITA. Maksudnya kecenderungan kepada lawan jenis adalah suatu yang paling dominan. Berpasangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia.
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. (an-Najm:45)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (ar-Rum:21)
Justru saat melepaskan hasratnya kepada sesama jenis, itulah yang dicela dalam al-Quran, seperti dalam kisahnya kaum nabi Luth yang kemudian diadzab oleh Allah. Hehe jadi inget candaan biasa anak2 if2006 soal topik homo (yakin koq sebenarnya pada normal
) ma kisah Sangkuriang (masa ayahnya seekor anjing?? -_____-). Ckckck, na’udzubillah tsumma na’udzubillah…. Jangan sampe ya, anak2! Baik, bu guru %peace%
Weh, meluas! Back to topic, jadi: salahkah aku mencintainya? Ada baiknya kita simak dialog Ali bin Abi Thalib ma Fatimah binti Rasulullah setelah pernikahan mereka (dengan redaksi kalimat ochie^^):
Fatimah : sebenarnya sebelum aku menikah denganmu, aku pernah mencintai seorang pria
Ali : (MUKANYA MERAH PADAM) alangkah tidak beruntungnya kamu menikah denganku dan tidak dengan pria itu
Fatimah : (TERTAWA SENANG MELIHAT SUAMINYA CEMBURU) bagaimana aku tidak beruntung?? Kamulah pria itu
Woho, DALEM! Hikmah dari dialog di atas:
- cinta adalah fitrah meskipun pra nikah >> so, mencintai-”nya” itu ga salah
- mereka berdua tidak pernah saling menyatakan cinta sebelum nikah >> jaga interaksi, jaga keberkahan, indahnya berlipat2
- akan sangat indah menikahi orang yang dicintai, tetapi mencintai orang yang dinikahi (sebelum nikah ga cinta) juga ga kalah indah >> dua2nya?? insya Allah berlipat2 lagi
Sebenarnya kisah Ali dan Fatimah ini sangat menarik untuk dikaji lebih jauh: kisah romantisnya (sekali lagi: pasca nikah), konflik rumah tangganya, saling pengertiannya, dan perpisahan mereka (saat ajal menjemput Fatimah dan Ali yang memandikan jasad istrinya). Wah, tapi artikel ochie ni ga cukup buat nyeritain semua. Yang mau ochie garis bawahi adalah, sebenarnya Fatimah ini dilamar banyak sahabatnya yang jauh lebih mapan daripada Ali (Ali terkenal sangat cerdas, tapi penghasilannya di bawah rata-rata). Akan tetapi, Rasulullah menolak semuanya dan menunggu Ali yang datang dengan pesimis untuk melamar puteri kesayangannya. Bahkan, diceritakan Ali sampai ragu dengan maksud “ahlan wa sahlan” yang diucap Rasulullah adalah jawaban mengiyakan.
Rasulullah dengan kepekaan perasaannya bisa merasakan apa yang puterinya rasakan (beliau pun sangat mencintai Ali dan ingin sekali menjadikan pemuda tersebut menantunya) sehingga menyambut Ali dengan “ahlan” dan “sahlan”: sesuatu yang tidak didapatkan para pelamar lainnya. Menariknya, Rasulullah tidak melihat harta sebagai parameter utama, melainkan cinta puterinya dan kebaikan akhlaq serta kecerdasan Ali, tentu aja.
Hikmah dari potongan kisah yang ini:
- jika berniat menikahi seorang wanita, bukan cuman bilang ke wanitanya, bahkan harusnya ke ayahnya dulu >> pasti berat ya, hehe, di sinilah tanggung jawab dan keseriusan diuji
- hendaknya ayah menjodohkan puterinya dengan laki-laki yang sekufu (setara), terutama dalam hal agamanya >> karena inilah kunci kebahagiaan dunia akhirat
- cinta bisa diperjuangkan dan cara memperjuangkannya adalah dengan menikah >> meski belum mapan, Ali tetap mencoba “melangkah”
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (an-Nur:26)
Inilah janji Allah, bahwa Dia menjodohkan hamba-hambaNya yang sama baiknya atau sama jahatnya. Untuk mendapatkan yang terbaik, ikhtiyarkanlah perbaikan diri yang terbaik. Begitupun sebaliknya sebagaimana Abu Lahab dan istrinya diabadikan dalam satu surat karena sama-sama jahatnya. Memang ada kekecualian, kalau dalam al-Quran seperti kisahnya Fir’aun yang sangat sombong dan istrinya ‘Asiyah yang mentauhidkan Allah… atau seperti kisahnya nabi Luth yang diselamatkan dari adzab beserta kaumnya yang beriman dan istrinya yang membantu kaum sodom berbuat maksiyat dan ikut diadzab. Ada manusia yang Allah istimewakan memang untuk menguji siapa yang bersabar dengan agamaNya dan dinaikkan ke dalam derajat yang tinggi. Akan tetapi, generally, kesetaraan ini adalah sebuah keniscayaan.
Ohya, asababun Nuzul ayat ini adalah berkenaan dengan fitnah yang disebar kaum munafiq: ‘Aisyah (istri Rasulullah) telah berselingkuh dengan Shafwan (salah seorang sahabat Rasulullah) padahal tidak sama sekali. Sampai ayat ini turun, Rasulullah ada di posisi yang antara cemburu dan curiga: bersikap dingin kepada ‘Aisyah. Makanya bunyi akhir ayat adalah demikian. Allah sendiri yang menjawab doanya ‘Aisyah yang terzhalimi karena dilanda fitnah besar saat itu.
Kalau suatu saat pasangan kita (suami/istri) tidak sesuai dengan keinginan kita (ada kebiasaan dkknya yang tidak kita sukai), maka berkacalah pada diri sendiri dan jangan buru2 menilai jelek pasangan tanpa tahu kenyataannya. Kita perlu berintrospeksi agar cinta ini kekal berlanjut hingga ke jannahNya.
Hmmm, meleber lagi ga, ya? Maaf aga loncat2, biasa ochie gini klo kambuh lemah manajemen idenya. Jadi gimana kesimpulannya? Cinta itu fitrah dan untuk memperjuangkannya agar diridhaiNya adalah dengan cara menikah. Tahukah kamu? Cinta yang dihiasi dengan semakin dekatnya kepada zina adalah jalan-jalan maksiyat, sedangkan cinta yang terfasilitasi dalam koridorNya justru dipenuhi pahala (keutamaan shalat orang yang sudah menikah dengan yang belum itu lumayan lho).
Jika kamu tidak bisa maju memperjuangkan cinta (menikah) dengan sungguh-sungguh, maka mundurlah (jangan malah dipupuk) dengan sungguh-sungguh
–
termasuk yang memegang prinsip anti pacaran sebelum pernikahan, hehe
maaf klo aga ngawang ![]()
selese pada 15 Oktober 2010, tengah malam, kayanya ada kemungkinan diedit lagi
*padahal ada UTS di hari yang sama
Jika kau masih juga kukuh bertanya tentang cinta, maka jawabanku adalah saat kau selalu menginginkan kebaikan untuk kalian: pecinta dan dicinta…
–
Eiss, kata2 mutiara di atas begitu menyentuh relung2 hati dan mengetuk2 pintu jiwa (fufufu, bahasanya!). Konteks kebaikan pun sangat luas; generally: dunia dan akhirat, tentu. Ok, preambule ga usah panjang2. Udah dibahas dikitlah ya soal cinta, udah ada gambaran biar cinta ga dimaknai sesempit hubungan dua insan. But, kali ini ochie mau mengkupas cinta yang sempit ituh. Yup, ini edisi terakhir dari artikel bermodus cinta made in “Sabar Tiada Batas”, insya Allah (maaf kelamaan dari waktu yang dijanjikan)… tajuk kali ini mungkin agak sotoy coz ochie sendiri belom pernah pacaran dan merasakan cinta persis kaya begini… mudah2an ntarlah ma misua (woho, aamiiiiiiin). Sebenarnya buku pembahasan soal cinta ini banyak sangat dan ini cuma segores coretan anak IF yang mahiwal
. Semoga bermanfaat!
C.I.N.T.A
*Ket: mule dari sini (di artikel ini), kata “cinta” adalah buat pengertian sempit: arrijal-annisa!
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (al-Imran:14)
Dari ayat di atas, sangat jelas bahwa seluruh manusia diberi kecenderungan, keinginan, secara fitrah pada karunia Allah… dan posisi yang pertama adalah WANITA. Maksudnya kecenderungan kepada lawan jenis adalah suatu yang paling dominan. Berpasangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia.
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. (an-Najm:45)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (ar-Rum:21)
Justru saat melepaskan hasratnya kepada sesama jenis, itulah yang dicela dalam al-Quran, seperti dalam kisahnya kaum nabi Luth yang kemudian diadzab oleh Allah. Hehe jadi inget candaan biasa anak2 if2006 soal topik homo (yakin koq sebenarnya pada normal
) ma kisah Sangkuriang (masa ayahnya seekor anjing?? -_____-). Ckckck, na’udzubillah tsumma na’udzubillah…. Jangan sampe ya, anak2! Baik, bu guru %peace%
Weh, meluas! Back to topic, jadi: salahkah aku mencintainya? Ada baiknya kita simak dialog Ali bin Abi Thalib ma Fatimah binti Rasulullah setelah pernikahan mereka (dengan redaksi kalimat ochie^^):
Fatimah : sebenarnya sebelum aku menikah denganmu, aku pernah mencintai seorang pria
Ali : (MUKANYA MERAH PADAM) alangkah tidak beruntungnya kamu menikah denganku dan tidak dengan pria itu
Fatimah : (TERTAWA SENANG MELIHAT SUAMINYA CEMBURU) bagaimana aku tidak beruntung?? Kamulah pria itu
Woho, DALEM! Hikmah dari dialog di atas:
cinta adalah fitrah meskipun pra nikah >> so, mencintai-”nya” itu ga salah
mereka berdua tidak pernah saling menyatakan cinta sebelum nikah >> jaga interaksi, jaga keberkahan, indahnya berlipat2
akan sangat indah menikahi orang yang dicintai, tetapi mencintai orang yang dinikahi (sebelum nikah ga cinta) juga ga kalah indah >> dua2nya?? insya Allah berlipat2 lagi
Sebenarnya kisah Ali dan Fatimah ini sangat menarik untuk dikaji lebih jauh: kisah romantisnya (sekali lagi: pasca nikah), konflik rumah tangganya, saling pengertiannya, dan perpisahan mereka (saat ajal menjemput Fatimah dan Ali yang memandikan jasad istrinya). Wah, tapi artikel ochie ni ga cukup buat nyeritain semua. Yang mau ochie garis bawahi adalah, sebenarnya Fatimah ini dilamar banyak sahabatnya yang jauh lebih mapan daripada Ali (Ali terkenal sangat cerdas, tapi penghasilannya di bawah rata-rata). Akan tetapi, Rasulullah menolak semuanya dan menunggu Ali yang datang dengan pesimis untuk melamar puteri kesayangannya. Bahkan, diceritakan Ali sampai ragu dengan maksud “ahlan wa sahlan” yang diucap Rasulullah adalah jawaban mengiyakan.
Rasulullah dengan kepekaan perasaannya bisa merasakan apa yang puterinya rasakan (beliau pun sangat mencintai Ali dan ingin sekali menjadikan pemuda tersebut menantunya) sehingga menyambut Ali dengan “ahlan” dan “sahlan”: sesuatu yang tidak didapatkan para pelamar lainnya. Menariknya, Rasulullah tidak melihat harta sebagai parameter utama, melainkan cinta puterinya dan kebaikan akhlaq serta kecerdasan Ali, tentu aja.
Hikmah dari potongan kisah yang ini:
jika berniat menikahi seorang wanita, bukan cuman bilang ke wanitanya, bahkan harusnya ke ayahnya dulu >> pasti berat ya, hehe, di sinilah tanggung jawab dan keseriusan diuji
hendaknya ayah menjodohkan puterinya dengan laki-laki yang sekufu (setara), terutama dalam hal agamanya >> karena inilah kunci kebahagiaan dunia akhirat
cinta bisa diperjuangkan dan cara memperjuangkannya adalah dengan menikah >> meski belum mapan, Ali tetap mencoba “melangkah”
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (an-Nur:26)
Inilah janji Allah, bahwa Dia menjodohkan hamba-hambaNya yang sama baiknya atau sama jahatnya. Untuk mendapatkan yang terbaik, ikhtiyarkanlah perbaikan diri yang terbaik. Begitupun sebaliknya sebagaimana Abu Lahab dan istrinya diabadikan dalam satu surat karena sama-sama jahatnya. Memang ada kekecualian, kalau dalam al-Quran seperti kisahnya Fir’aun yang sangat sombong dan istrinya ‘Asiyah yang mentauhidkan Allah… atau seperti kisahnya nabi Luth yang diselamatkan dari adzab beserta kaumnya yang beriman dan istrinya yang membantu kaum sodom berbuat maksiyat dan ikut diadzab. Ada manusia yang Allah istimewakan memang untuk menguji siapa yang bersabar dengan agamaNya dan dinaikkan ke dalam derajat yang tinggi. Akan tetapi, generally, kesetaraan ini adalah sebuah keniscayaan.
Ohya, asababun Nuzul ayat ini adalah berkenaan dengan fitnah yang disebar kaum munafiq: ‘Aisyah (istri Rasulullah) telah berselingkuh dengan Shafwan (salah seorang sahabat Rasulullah) padahal tidak sama sekali. Sampai ayat ini turun, Rasulullah ada di posisi yang antara cemburu dan curiga: bersikap dingin kepada ‘Aisyah. Makanya bunyi akhir ayat adalah demikian. Allah sendiri yang menjawab doanya ‘Aisyah yang terzhalimi karena dilanda fitnah besar saat itu.
Kalau suatu saat pasangan kita (suami/istri) tidak sesuai dengan keinginan kita (ada kebiasaan dkknya yang tidak kita sukai), maka berkacalah pada diri sendiri dan jangan buru2 menilai jelek pasangan tanpa tahu kenyataannya. Kita perlu berintrospeksi agar cinta ini kekal berlanjut hingga ke jannahNya.
Hmmm, meleber lagi ga, ya? Maaf aga loncat2, biasa ochie gini klo kambuh lemah manajemen idenya. Jadi gimana kesimpulannya? Cinta itu fitrah dan untuk memperjuangkannya agar diridhaiNya adalah dengan cara menikah. Tahukah kamu? Cinta yang dihiasi dengan semakin dekatnya kepada zina adalah jalan-jalan maksiyat, sedangkan cinta yang terfasilitasi dalam koridorNya justru dipenuhi pahala (keutamaan shalat orang yang sudah menikah dengan yang belum itu lumayan lho).
Jika kamu tidak bisa maju memperjuangkan cinta (menikah) dengan sungguh-sungguh, maka mundurlah (jangan malah dipupuk) dengan sungguh-sungguh
–
termasuk yang memegang prinsip anti pacaran sebelum pernikahan, hehe
maaf klo aga ngawang ![]()
selese pada 15 Oktober 2010, tengah malam, padahal ada UTS hari ininya
Masih Tentang Cinta
Topik yang ga ada habis2nya ini ternyata di pengantar buku al hubb wal Islam Abd Nashih Ulwan dikatakan jarang dibahas. Mungkin maksudnya, cinta yang dalam perspektif sebenarnya (bukan cinta sesempit hubungan dua orang). Buku ini menginspirasi kembali chie menulis topik ini.
Terkait topik ini, Q.S. Al-Imran:14 cinta merupakan sisi fitrah yang memang Allah karuniakan ke dalam hati manusia:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Dan Q.S. At-Taubah:24 turun memberikan rambu-rambunya:
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Maka, berangkat dari ayat ini pulalah cinta terbagi menjadi tiga macam:
- Cinta yang mulia dan tinggi: kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya
- Cinta yang posisinya menengah: kepada keluarga, harta, bisnis, rumah
- Cinta yang rendah dan hina: kepada syaithan, sesembahan selain Allah, musuh Allah
Cinta yang pertama adalah cinta yang mengangkat derajat pecintanya kepada kedudukan yang tinggi, baik di dunia dan terutama di akhirat. Penjelasan cinta ini terlihat dari kesungguhan amal para pejuang dari zaman dulu hingga sekarang. Bagaimana cara mereka mengejar mardhatillah dan jannahNya sangat luar biasa. Tak bisa disebutkan satu per satu bagaimana mereka menjemput syahidnya dengan berbagai seni kematian.
Cinta yang kedua akan menjadi utama jika landasannya karena Allah dan tidak dijadikan yang pertama jika berbenturan. Cinta ini masih ada harganya jika alasan cintanya karena Allah pun mencintainya. Contohnya, saat suami melihat istri melakukan kelalaian atau orang tua melihat anaknya melakukan kenakalan (yang tentu tidak Allah ridhai) atau yang sejenisnya, di sinilah kehakikian cinta diuji: apakah dia lebih memelihara hubungannya dengan manusia yang ia cinta atau memilih untuk mencintai manusia yang dicintainya karena Allah? Contoh lainnya adalah wajar kita mencintai harta, tetapi menjadi tidak wajar cinta itu jika kewajiban zakat tidak dipenuhi (dan dengan harta terbaik yang dicintai). Ya, jika berbenturan, sedangkan cinta yang kedua ini diprioritaskan daripada cinta yang pertama, cinta ini akan menjadi jenis cinta yang ketiga.
Sementara cinta ketiga tidak pernah akan bisa menjadi cinta yang utama, bahkan harus dihancurkan. Cinta ketiga ini tak memiliki manfaat apa-apa selain kebinasaan dan kesengsaraan. Coba baca sekali lagi ayat di atas! Ternyata eh ternyata, cinta jenis ketiga sama sekali tidak disebutkan. Ini artinya, cinta ini tak ada harganya selain nafsu dan syahwat.
Untuk pembahasan selanjutnya, mari qta gali lebih jauh tentang cinta yang ketiga. Siapa tahu, secara tidak sadar atau secara tidak tahu kita telah merasakannya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah…
1. Mencintai sesembahan selain Allah
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqoroh:165)
Sesembahan itu di zaman dulu seperti patung, batu, pohon, yang angker2 dan keramat2, baik sesembahan itu dinamai atau diberi sesajen atau sekedar dimintai sesuatu. Kemudian sesembahan itu berubah (baca: bertambah bentuknya) menjadi keris, menyan, jimat, dsj. Dewasa ini, bentuknya lebih “modern” menjadi ilmu pengetahuan (ilmu pengetahuan kosong yang mengingkari adanya Pencipta), kedudukan dan golongan (bwat mahasiswa, hati2lah dengan acara kaderisasi -orientasi- yang mengganggu waktu shalat hingga bablas), alat elektronik (seperti TV atau internet saat dia melalaikan qta dari kewajiban ibadah qta).
2. Mencintai musuh2 Allah
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al-mumtahanah:1)
Siapakah musuh2 Allah itu? Yaitu mereka yang mengusir, berlaku tidak adil, dan menzhalimi orang2 beriman hanya karena orang2 beriman menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. Adapun orang-orang kafir yang tidak berlaku jahat, maka berlaku baik dan adil kepada mereka adalah perintahNya karena Dia menyukai perlakuan adil (keterangan jelasnya ada di surat yang sama: baca lengkap deh biar berkah).
3. mencintai nafsu dan syahwat
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah:23)
Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf:30)
Mereka yang terjebak pada cinta ini hidupnya tidak beda dengan hewan, bahkan bisa lebih hina lagi. Mereka hanya tahu hidup untuk mengisi perut (tidak peduli dengan halal dan baik tidaknya), memiliki kedudukan (untuk ujub dan takabur), melampiaskan keinginan seksual mereka (tanpa jalan yang Allah ridhai: nikah).
4. mencintai (menyembah) syaithan
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu“ (Yasin:60)
Dalam bukunya, Abd Nashih Ulwan mengatakan arti dari menyembah syaithan adalah menuruti sugestinya dan menerima bisikannya. Akan tetapi, saat ini ternyata memang ada kelompok penyembah syaithan yang jelas sesat dan hanya memberikan janji-janji duniawi yang berujung pada cinta pada nafsu dan syahwat.
5. Saat cinta yang lain melebihi cinta kepada Allah, RasulNya dan jihad di jalanNya
Sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Lantas, apakah orang atheis benar tidak memiliki sesembahan? Tidak, sebenarnya mereka memilikinya! Kepada siapa mereka memberikan loyalitasnya, itulah sesembahan mereka: harta, “ilmu pengetahuan”, atau diri mereka sendiri (seperti fir’aun yang sombong)…
–
*masi to be continued
*maaf kalau nulisnya aga lompat2 idenya
Cinta yang Karena Allah
[lanjutan dari tulisan "Cinta yang Sederhana"]
Pada tulisan sebelumnya, diutarakan:
- cinta mengenal keinginan memiliki
- cinta memiliki landasan nilai
- cinta perlu pembuktian
Baiklah. Mari kita bahas cinta karena Allah sebagai konsekuensi cinta kepada Allah. Jelas ya bedanya?? Yang satu alasannya adalah Allah, sedangkan yang satunya objek cintanya adalah Allah. Cinta kepada Allah memiliki bahasan yang berbeda karena cinta itu adalah cinta agung yang berbeda dimensinya dengan cinta antarmakhluk. Nah, yang akan kita coba ketengahkan adalah cinta yang karena Allah. Artinya, cinta ini adalah dimensi antarmakhluk yang sempat disebut tadi.
Cinta mengenal keinginan memiliki. Inilah yang membuat seorang ibu merasa kehilangan saat anaknya mulai meninggalkan rumahnya untuk hidup yang baru. Ini juga yang membuat seorang istri cemburu dan curiga saat suaminya pulang tidak tepat waktu. Ini jugalah yang membuat seseorang iri saat melihat tetangganya berkelebihan sesuatu (yang dicintai) daripada dirinya. Begitulah cinta meminta kehadiran dan perhatian objek cintanya.
Maka, cinta seorang mukmin yang karena Allah juga mengenal keinginan memiliki, bahkan bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat. Mungkin teman-teman pernah mendengar cemburu yang lain?? Yaitu, saat sang pecinta tidak rela dengan perilaku maksiat yang dicintainya. Itu juga merupakan bagian dari cinta yang berkeinginan meski memiliki dengan standar berbeda dengan cinta biasa^^.
Cinta karena Allah akan mengantarkan keselamatan bagi pecinta dan yang dicintainya. Orientasi mereka adalah sama: apa yang terbaik dariNya! Cinta ini membuat pecinta ikhlas melepas yang dicintainya karena ia yakin bahwa akan ada sua yang indah milik mereka (pecinta dan dicinta) di sisiNya. Inilah yang membuat seorang Khansa dan wanita luar biasa sejenisnya begitu gembira mendengar kematian keempat puteranya di medan jihad qital.
Cinta memiliki landasan nilai. Karena itu, jika yang dicintainya tidak sesuai dengan landasan nilai, pecinta akan berusaha untuk membuatnya tidak jauh dari landasan nilai itu. Contohnya adalah orang tua yang berharap anaknya sukses dengan pendidikan tinggi, pekerjaan layak, atau berprestasi dalam suatu hal. Contoh lainnya misal suami yang ingin agar istrinya tampil cantik dan pintar saat menghadiri undangan kantor, dsb.
Maka, cinta seorang mukmin yang karena Allah juga memiliki landasan nilai: apa yang diridhaiNya adalah segalanya. Jika Dia telah menetapkan aturan agar tidak mengikuti bisikan jiwa yang buta, melarang berdua-duaan untuk non mahram, dan menghindari zina, maka pecinta akan memelihara agar cintanya tidak akan terjerumus ke luar koridor yang telah Dia tentukan. Bagi sang pecinta ini, cinta Allah lebih utama untuk dijaga di dalam hati daripada sekedar cinta dari yang dicintainya.
Cinta karena Allah membuat cinta yang tidak diridhaiNya tertolak! Mukmin yang dikuasai rasa cinta ini akan menjadikan aturannya di atas segalanya. Dia akan beredar di dunia bersama nilai ini sebagai prinsip hidupnya. Dia tak mempertanyakan urgensi apalagi meremehkannya dengan kesombongan. Sang pecinta akan berhati-hati agar cintanya kepada yang dicintainya tidak lebih dari cintanya kepada Allah dan kebijakan (aturan)-Nya.
Cinta perlu pembuktian. Bukti cinta itu beragam, tetapi inti pengorbanan yang dilakukan sang pecinta adalah untuk kebaikan yang diyakini sang pecinta untuk yang dicintainya. Dia akan berusaha agar yang dicintai tidak kekurangan cintanya. Kadang cinta ini membuat yang dicintainya tak tahu apa saja yang sudah dilakukan oleh orang yang mencintainya. Beberapa orang menyebutkannya dengan ketulusan atau tanpa pamrih.
Maka, cinta seorang mukmin yang karena Allah juga perlu pembuktian dengan ujian-ujian yang tak ringan: benarkah cinta ini karena Allah?? Atau hanya sekedar nafsu?? Jika cinta ini muncul di hati seorang mukmin, ia akan berkorban dengan semua yang dimilikinya. Ia rela dibenci sesaat, dihina sesaat, dimusuhi sesaat, diperlakukan tidak baik sesaat (ya karena dunia hanya sebentuk fana) untuk keselamatan yang dicintainya.
Cinta karena Allah menuntun pecinta mengorbankan apa yang ia miliki agar yang dicintainya itu sesuai tuntunan jalan Allah jua. Cinta inilah yang membuat para da’i yang tulus terenggut rasa kantuknya dan tidak memikirkan dirinya lebih banyak daripada kondisi ummat di masanya. Bahkan, lebih jauh lagi, cinta inilah yang membuat para syuhada yang ikhlas itu rela merasakan sakaratul maut berkali-kali karena keindahan balasan yang disertai ‘ainul yaqin.
Pendek kata, cinta yang karena Allah itu hanya mengharapkan apa yang terbaik di sisi Allah (mardhatillah dan jannahNya), dengan cara yang diridhai Allah, dan memiliki tujuan cinta terakhir hanyalah Allah
–
Bandung, selesai puku 14.45 pada 23 Juni 2010 (teredit jam22.30)
mendambakan cinta yang lillah, billah, ilallah…
bukan pernyataan yang sederhana mengucapkan: “cinta karena Allah”. Akan tetapi, harus karena apa lagi seorang mukmin mencintai mukmin yang lain jika bukan karena Allah??
Cinta yang Sederhana…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Puisi yang sudah sangat populer menceritakan sebuah persepsi mengenai cinta. Tersirat makna pengorbanan yang luar biasa dari puisi tersebut. Akan tetapi, benarkah cinta hanya mengenal pengorbanan?? Ternyata, berdasarkan hasil diskusi dan ucapan senior2 yang berpengalaman
, cinta juga berkeinginan untuk memiliki. Hal ini diindikasikan dengan ingin berjumpa, mengetahui keadaannya, mendapatkan perhatiannya, dsj. Pengorbanan yang dilakukan pun sejatinya karena ingin memiliki (dengan standar “memiliki” yang berbeda).
Cinta yang sederhana adalah cinta yang tak rumit (ya iyalah, chie, cuma pake antonim itu). Heuheu, sabar… Maksudnya cinta yang tak rumit menurutku adalah cinta yang bisa dideskripsikan, dikelola, dan dijadikan spirit oleh hati dalam berkata, berekspresi, bahkan bertindak. Mungkin seringkali cinta memang hanya bisa dideskripsikan oleh hati, tapi ternyata ia bisa bahkan penting untuk diutarakan melalui lisan dan diungkapkan dengan perbuatan.
Ya, cinta perlu pembuktian dan keberanian di antara kesetiaan dan kesabaran. Oleh karena itu, seringkali ada ujian yang melanda sang pecinta sehingga cinta itu memang lulus sebagai cinta yang tinggi atau cinta yang wujudnya tidak sempurna. Meskipun ada berbagai implikasi yang sama bernama rindu, cemburu, dsb, cara mencintai seorang dari seorang lainnya berbeda. Hal yang membedakannya adalah nilai yang melandasinya!
Seringkali mungkin teman2 sering mendengar istilah “uhibbuka/ki/kum fillah”. Mencintai karena Allah?? Seperti apakah dia??
Nah, tulisan ini sampai sini dulu: sampai teori singkat yang masi melangit di tingkat emosi yang general
. Jadi, akan bersambung dengan tulisan berjudul “Cinta yang Karena Allah”. Tulisan berikutnya akan lebih memaknai cinta seorang mukmin dan insya Allah akan lebih membumi dengan sifat teknisnya…
–
bandung, 22 Juni 2010 lewat jam00.30
ochie yang gi belajar ngomongin benda abstrak bernama cinta