Arsip Kategori: akpro
tentang dunia akademik dan profesi yang ochie tahu
Learning Management System (LMS)
Yup, masi nyambung dengan e-learning nih… masih soal kajian dalam TA-ku dulu… *dulu?
LMS (atau ada juga yang mengatakan LCMS) merupakan salah satu aplikasi e-learning yang fokus perhatiannya ada pada perolehan resources, entah itu pada jadwal perolehan resources, sumber resources, maupun tata cara perolehan resources. Resources di sini maksudnya adalah konten / materi pembelajaran.
Menurut sebuah situs (http://www.e-learningconsulting.com/products/learning-management-system.html) LMS adalah sebuah perangkat lunak yang mengelola administrasi, dokumentasi, pelacakan, dan pelaporan program-program pelatihan, kelas dan kegiatan online, e-learning program, dan isi pelatih. Adapun manfaat LMS ini sangat banyak di antaranya adalah menyediakan akses langsung, mengurangi biaya pengiriman per course, menghemat waktu bekerja, dan memberikan pelatihan yang lebih konsisten.
Dari buku thesis S2 IF ITB yang ochie pernah baca (punya ibu Hetty Hidayati) perancangan LMS meliputi kajian sistem pembelajaran yang ada (konvensional) dan sistem e-learning, mendefinisikan kebutuhan fungsional LMS, menganalisis kebutuhan perangkat lunak menggunakan processing model yaitu context model, data flow diagram serta data dictionary, perancangan basis data dengan menggunakan model lojik data berdasarkan record (Record base logical model); yaitu model relational database dengan menggunakan diagram entity relationship (ER), perancangan task menggunakan model Hierarcus user task dan perancangan antar muka perangkat lunak.
Dari langkah-langkah tersebut didapatkan sebuah LMS yang sesuai dengan domain persoalan yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan dari institusi. Sudah banyak otak yang merumuskan kebutuhan tsb dan mengimplementasikannya dalam LMS. Telah banyak LMS free yang dirumuskan dan masih terus berkembang sampai saat ini. Beberapa yang pernah ochie coba (secara online pada sample yang disediakan web mereka maupun instalasi sendiri di localhost), antara lain: Moodle, ATutor, Sakai, Claroline, dan LAMS.
Sekitar 80-90% institusi pendidikan di Indonesia mempergunakan moodle sebagai LMS. Satu milis pendidikan yang sangat ramai pun (rumahilmu@yahoogroups.com) telah beberapa kali mengadakan pelatihan khusus moodle (tidak dengan LMS lain) dari instalasi hingga penggunaannya. Kampusku sendiri pun mengembangkan moodle sebagai LMS. Moodle digemari sebab kemudahannya dalam instalasi dan core bahasa pengembangan yang umum dalam dunia web.
Akan tetapi, dengan semua kelebihan moodle, tetap saja ada kelebihan yang dimiliki LMS selain moodle. Sebenarnya ochie belum pernah bongkar banyak LMS lain, selain LAMS, tapi ini baru yang ochie pahami dari referensi… semuanya open source
ATutor
ATutor adalah sebuah LMS yang dirancang dengan kemampuan akses cepat dan kemudahan adaptasi. Admin dapat menginstall (juga mengupdate) ATutor, mengatur tema baru, dan dengan mudah mengembangkan semua fungsinya dengan modul fitur dengan mudah dan cepat. Siswa dapat dengan cepat menambahkan, mengemas, dan mendistribusikan ulang konten instruksi berbasis web, dengan mudah mengimpor konten paket kemasan baru, dan menggabungkan kursus secara online. Siswa belajar dalam lingkungan pembelajaran adaptif.
Sakai
Sakai dipergunakan untuk mendukung pengajaran dan pembelajaran, kolaborasi kelompok ad hoc, dan mendukung untuk kolaborasi riset dan portofolio. Sakai bersifat dibuat dan dipelihara oleh the Sakai community. Model pembangunan Sakai disebut Community Source karena banyak developer membangun Sakai merupakan community dari organisasi-organisasi yang mengadopsi dan mempergunakan Sakai
Dokeos
Dokeos memiliki layanan yang lebih pada SCORM-nya, yaitu dalam mengekspor dan mengimpor konten pembelajaran dari satu bentuk ke bentuk lain, misalnya excel dan ppt ke view html. Selain itu juga Dokeos memiliki videoconferencing sebagai alat pertemuan dan kelas virtual untuk sesi pelatihan.
Claroline
Claroline adalah sebuah platform eLearning dan eWorking yang bersifat open source yang membuat guru bisa membangun kursus online yang efektif dan mengatur aktivitas pembelajaran dan kolaborasi di atas web. Claroline diterjemahkan hingga 35 bahasa sehingga Claroline punya pengguna dan pembangun yang sangat luas di seluruh dunia.
LAMS
LAMS merupakan LMS revolusioner yang memudahkan guru menciptakan urutan kegiatan belajar dengan lingkungan authoring yang sangat intuitif secara visual. Kegiatan ini dapat mencakup berbagai tugas individu, kerja kelompok kecil dan kegiatan seluruh kelas didasarkan pada konten dan kolaborasi.
Setiap LMS di atas didukung bahasa dan tools tertentu. LAMS misalnya (karena pernah ochie pake), mempergunakan Java sebagai core bahasa pengembangan (berbeda dengan moodle yang hanya php dan html). Untuk database LAMS dapat mempergunakan mySQL atau oracle, untuk mempergunakan layanan chat dipergunakan wildfire atau openfire, dan untuk view harus didukung flash player.
Baiklah, artikel ini hanya sekilas info buat yang pengen tahu sedikit tentang LMS. Biar lebih tahu, silakan buka situs LMS masing-masing
yang properiotary masi belum dibahas lho…
–
Ternyata ada Indonesia punya, di Bandung (Antapani) lagi basecamp yayasan pengembangnya, namanya Jibas (Jaringan informasi bersama antar sekolah). Belum begitu paham c: apa sisfo yang satu ini bisa dikategorikan LMS atau bukan. Akan tetapi, beberapa sekolah udah mulai pake. Ayo dukung proyek e-learning Indonesia^^!
E-Learning
E-Learning merupakan satu topik yang sering dibicarakan baik di dunia pendidikan maupun dunia IT. Sama dengan “e” pada e-book, e-mail, e-commerce, dsj, yang dimaksud pada e-learning adalah electronic. Artinya e-learning mempergunakan media elektronik sebagai alat bantu dalam pembelajaran.
Ternyata e-learning pun memiliki framework!
Coba buka alamat ini: http://elframework.org untuk mengetahui framework dari e-learning… di sana ada sebuah skema dari tiga fokus yang diperhatikan dari framework e-learning:
a. sample agents
b. learning domain services
c. common services
Sample Agents merupakan contoh (jenis) aplikasi dari e-learning. Untuk kepentingan apa? Misalnya untuk menyimpan dan mengelola, seperti menambah, menghapus, dan mengubah nilai, bahkan mengoperasikan nilai satu relatif terhadap nilai lain yang diberikan kepada siswa dengan suatu ketentuan tertentu diperlukan assignment marking tools. Untuk mengelola pustaka elektronik atau e-book, menyimpannya sesuai kategori tertentu seperti topik, pengarang, dan tahun terbit dalam katalog diperlukan library sistem. Untuk mengelola semua konten (bahan ajar), laporan, bahkan evaluasi (hasil test) dari pembelajaran dari desain interaksi, basis data, hingga view diperlukan VLE / LMS.
Learning Domain Services merupakan layanan yang khusus disediakan sebagai pemenuhan kebutuhan pendidikan atau pembelajaran. Beberapa aplikasi e-learning pasti memiliki layanan ini. Contoh dari learning domain services, misalnya: pengelolaan aktivitas, flow dan susunan pembelajaran, kurikulum, jaminan kualitas, dan daftar materi pembelajaran.
Common Services merupakan layanan yang disediakan untuk banyak aplikasi (tidak terbatas pada aplikasi e-learning), misalnya untuk rumah sakit, bisnis, layanan web komunitas, bahkan yang lebih umum lagi (hingga desktop base). Contoh dari common services, antara lain: chat, forum, login, pengelompokan, assign peran, kalender, dan pengarsipan.
Dalam merancang sebuah aplikasi e-learning diperlukan analisis terhadap kebutuhan dan ketersedian sumber daya pada sebuah instansi terkait. Ohya, aplikasi e-learning ini tidak hanya diterapkan pada institusi pendidikan, tetapi juga bahkan diterapkan pada institusi lainnya (pemerintah, bisnis, perusahaan, komunitas, dll). E-learning dibangun dengan harapan dapat mengakselerasi pembelajaran seseorang sehingga seorang pegawai baru tidak perlu waktu lama untuk mempelajari perusahaan dan pekerjaannya.
Khusus untuk pembelajaran di dunia pendidikan, sebenarnya aplikasi e-learning telah banyak disebarkan secara free di internet. Akan tetapi, banyak institusi tidak tahu bagaimana cara mengimplementasikannya di lingkungan mereka. Akibatnya institusi tertinggal dari akselerasi dengan pemanfaatan optimal media elektronik.
Ada pula yang mengimplementasikan dengan mengikuti trend semata tanpa menganalisis sebenarnya kebutuhan dari institusi dan kebutuhan pendukung yang diperlukan. Akibatnya aplikasi tersebut menganggur tanpa dimanfaatkan karena tidak sesuai dengan kebutuhannya. Singkat kata: boros.
Lebih jauh lagi, setelah ochie diskusi dengan anak tekpen UPI, sebenarnya e-learning tidak sesempit web based. Dalam e-learning web hanyalah salah satu media saja! Ada media elektronik lain yang bisa dimanfaatkan (bukan hanya jaringan). Misalnya saja: desktop only (tanpa web), e-book materi, rekam materi, bahkan hingga radio dan televisi.
Hanya saja, aplikasi e-learning yang web based memiliki kelebihan dari sisi kolaboratif atau kerja sama. Karena terhubung pada satu jaringan, pelajar bisa saling share dengan cepat sejauh apapun jarak mereka. Inilah satu alasan mengapa aplikasi e-learning yang banyak berkembang adalah web based.
Framework
Apa itu framework? Kerangka kerja? Heuheu, abstraknya…
Banyak banget artikel yang bahas pengertian framework, tapi ochie ga akan bahas. Coba googling aja ya, dengan keyword: framework (khususnya yang topiknya nyambung ke library, teori OO, atau domain models). Singkatnya framework itu representasi objek-objek yang saling berinteraksi.
Jadi artikel ini bahas apanya framework?
Klasifikasi framework dalam berbagai buku banyak sangat. Ada yang klasifikasinya berdasarkan jenisnya, ruang lingkupnya, metode pengembangannya, dan spek domainnya. Nah, yang terakhir ini mungkin yang bisa ochie sedikit ceritakan, khusushon terkait TA.
a. Horizontal framework
Framework ini bersifat lebih umum sehingga dapat digunakan untuk membangun berbagai tipe aplikasi. Contoh framework pada kategori ini adalah GUI toolkit. Framework ini dipergunakan untuk membangun antarmuka berbagai aplikasi.
b. Vertical framework
Framework ini digunakan untuk kebutuhan aplikasi yang lebih spesifik terhadap suatu domain. Contoh framework pada kategori ini adalah framework untuk analisis statistic suatu data ekonomi yang spesifik pada aplikasi keuangan.
Dua kategori di atas ini adalah kata Robert.
Kata lain dari horizontal dan vertical adalah framework sistem dan framework aplikasi. Klo ngomongin sistem kan sesuatu yang gede ya (meskipun sistem itu subsistem dari sistem yang lebih gede), tapi klo ngomongin aplikasi itu lebi spesifik pada satu persoalan yang jadi fokus.
Di satu artikel Frisco menceritakan tentang posisi framework dalam sistem informasi. Dilanjutkan oleh artikel dosen pembimbingku, Pak Husni, dari sebuah momen KNSI yang memperlihatkan posisi framework dengan model, perancangan aplikasi, sampai aplikasi instan. Nah, mereka ini ngomongin system framework (horizontal).
Agak beda dengan bahasan Fayad. Coba baca bagian deriving from domain knowledge, framework langsung diceritakan secara teknis dari domain persoalan ke mapping objek dalam framework… spesifik! Lha iya, emank bukunya ngomongin application framework (vertical).
Mulai kerasa ga perbedaan feel-nya?
Makanya ntar jangan heran klo baca artikel kok kayanya framework yang dimaksud agak beda. Sebenernya mah sama, tapi perhatikan speknya: domain besar atau kecil? Eh, maksudku… domain umum atau khusus?
–
Sengaja ga pake bahasa resmi biar ga dijadiin referensi “petugas” TA ![]()
Semoga bisa jadi gambaran dalam menerjemahkan artikel lain^^
Buat ade2ku yang mau ambil keyword ini, pilih-pilih yang spesifik pembahasan framework apanya, ya, biar ga bingung… ntar klo perlu definisikan batasan2… klo ga yakin, jangan pake keyword ini (honestly: teteh sendiri cape menerjemahkan satu kata ini pas ngerjain TA. Dilarang tanya lagi >.< da teteh juga masi bodo… ini mah yang setahu teteh aja! Jangan dijadiin referensi tunggal)
Rekomendasi buku punya Mohamed E. Fayad, Don Robert
After Basis Data
Postingan kali ini adalah tulisan yang oci post di blog “stei.itb.ac.id/chie135” awal semester lalu, tapi ternyata itu blog udah hangus tak bersisa saking ditinggal para penghuninya dan spam comment-nya udah mpe 2-3ribuan (wew!)
–
Setelah sekian abad ga nulis di blog ini -______-’ lama pisanlah pokonya, baiklah mari qta mulai bicarakan satu topik: basis data! Benda apakah itu?? Dia satu nama kuliah: bener si, hehe, tapi pengertiannya kan… jadi yang mau dibahasnya apa sih ini?? Basis datanya apa kuliahnya?? Let’s see! Mudah2an bisa bermanfaat bagi ade2ku yang tertarik ambil kuliah ini. WARNING: ini artikel blom bener2 valid koq, jadi ga usa dipercaya 100%, ya ^^v
“Anak” dari kuliah basis data di IF ITB ada 4 (CMIIW): SBD, BDNR, TBD, BDT. Apa lagi tuh? Baiklah, sudah kuputuskan: artikel ini akan bercerita secara singkat tentang cabang2 setelah mempelajari Basis Data, terutama buat mahasiswa IF ITB:
0. Basis Data (kuliah wajib)
Di sini kita mengenal apa itu basis data, bagaimana representasinya secara logik dengan berbagai macam model (tapi yang akan lebih dipelajari hanya ERD a.k.a entitiy relationship diagram), dan efisiensi setiap studi kasus. Perlu diketahui, kuliah ini hanya membatasi pada basis data relasional yang terdiri dari tabel2.
1. Sistem Basis Data (kuliah wajib pada kur2003 dan pilihan pada kur2008)
Namanya juga sistem, pasti ada elemen2 dan ada interaksi di antara elemen2 dalam sistem (masi perlu review pengertian sistem?? gaklah, ya). Di kuliah ini dijelaskan bagaimana struktur fisik dan logik, pemrosesan, transaksi antara memori dan storage. dari sini, ntar qta belajar gimana supaya semua proses itu berjalan dengan optimal (hemat waktu, memori, dan kerja).
2. Basis Data Non Relasional (kuliah pilihan)
Kuliah ini melengkapi kuliah BD dalam mengenal jenis2 BD. Adapun BDNR yang ditekankan dipelajari di kuliah ini adalah: BD Deduktif, BD Temporal, dan BD berorientasi objek. Ternyata dalam dunia nyata, BD relasional kurang efektif dalam merepresentasikan data tertentu sesuai kebutuhan. Oleh karenanya, BD Deduktif sangat membantu saat data-data sangat saling terkait satu sama lain, BD Temporal sangat membantu saat data sangat memperhatikan aspek waktu, dan BD OO sangat membantu saat data menjadi lebi efektif dan efisien direpresentasikan sebagai objek. Selain mengenal jenis2 BD ini, kita juga belajar bagaimana merepresentasikannya secara logik
3. Teknologi Basis Data (kuliah pilihan)
Kuliah ini sudah lebih advanced lagi. Yang dipelajari di TBD adalah data warehouse, data mining, dan data view. TBD menjelaskan bagaimana memenuhi kebutuhan enterprise saat berhadapan dengan BD yang sangat besar dan yang diperlukan bukanlah seluruh data, melainkan sebagian saja untuk mendukung kemajuan enterprise.
4. Basis Data Terdistribusi (kuliah pilihan)
Kuliah ini se-advanced TBD. Di kuliah ini lebih ditekankan pada bagaimana mengekstrak informasi dari BD yang berbeda2. Jika pada TBD, data memang disimpan dalam bentuk yang “lebih sederhana” sesuai kebutuhan, maka pada BDT data seolah2 disimpan padahal hanyalah diproses dari BD-BD yang ada. Khusus yang ini, penulis ga pernah ambil kuliahnya (baru meraba2)
curhat:
• penulis pas ngambil kuliah BD pertama kali ngeblank and ngawang, tapi sekarang udah mayan upgrade << jangan terlalu percaya ![]()
• btw jadi inget drama calon asisten lab basdat, hehehe… meski gagal jadi asisten, tapi itu berkesan sangat (terutama dialognya davsam ma irma, haha)
• katanya gaji seorang admin DB paling gede lho dibanding programmer atau pembuat SI (jadi?? tapi ga niat ah: pusing juga)
Beda Hacker dan Cracker
Ini bisa dijadikan satu artikel ga ya? Cuma sekedar meluruskan pengertian kata sih. Sejauh ini masih saja ada yang salah menggunakan istilah. Yup, ini pun cuma kesotoyan seorang ochie yang padahal ga masuk ke keduanya.
Keduanya sama-sama berusaha memahami sistem, kemudian masuk ke dalamnya dalam rangka melakukan sesuatu. Jenis aktivitas itu beragam: menambahkan konten, melakukan defacing, berlaku seolah admin padahal bukan, mendapatkan akses root dari sebuah OS, dll. Nah, jika seorang hacker itu sebenarnya tidak melakukan aksi apa-apa selain masuk, mengetahui, dan keluar tanpa merusak sistem tersebut, maka seorang cracker menyusup dengan tujuan merusak sistem tersebut.
Seorang hacker parah-parahnya mengambil (jeleknya: mencuri) data perusahaan. Namun, seorang cracker parah-parahnya mengacaukan data perusahaan dan menyerang “jantung”-nya. Keduanya memang penyusup, tetapi “kelebihan” seorang cracker adalah ia melakukan hal yang lebih dari sekedar menyusup. Setelah mengetahui kelemahan sistem, ia masukkan suatu “tambahan” untuk tujuan yang buruk.
Keterampilan dasar hacker dan cracker sebenarnya sama. Akan tetapi, menjadi hacker itu dilegalisasi (ada sekolahnya), bahkan ada sertifikasi khusus yang bernama CEH (certified ethical hacker). Artinya, hacker justru penting diadakan untuk suatu tujuan, tetapi memiliki kode etik tertentu yang harus ditaati. Sementara itu cracker menajamkan keterampilannya sendiri. Cracker mungkin awalnya seorang hacker etik yang kemudian terjerat pada aktivitas cybercrime.
–
yang jago, please CMIIW >.<