Hifzhil Quran
Tidak semudah itu menjadi seorang hafizh (pemelihara) Quran. Menjadi seorang hafizh bukanlah sekedar menghapalkannya di dalam otak, melainkan justru menjaganya dalam ingatan, diulang2nya dalam lisan, bahkan diwujudkan dalam amal. Dalam amal? Ya, dalam amal pun! Rasulullah bahkan dikatakan sebagai al-Quran berjalan sebab akhlaq beliau adalah akhlaq Quran. Dan begitulah para pemelihara Quran dituntut untuk terus mempelajari al-Quran untuk diamalkan, dijadikan akhlaq, sampai akhir hayatnya.
Yang terberat dari menjadi seorang pemelihara al-Quran adalah mengamalkan ini. Ochie sendiri merasa bukan seorang kompeten untuk membahasnya (secara, masih banyak penyimpangan c, mohon doa agar istiqomah belajar). Maka, di sini ochie hanya mengetengahkan beberapa tips menghapal yang mungkin jika teman-teman telah membaca buku2nya, penjelasan ini menjadi tak perlu.
Sebelum menghapal, perhatikan beberapa adab yang menjadikan aktivitas menghapal ini afdhal, yaitu:
1. menyediakan waktu khusus untuk menghapal (rutin)
2. melupakan semua problem yang membebani pikiran selama menghapal (konsentrasi penuh)
3. berwudhu dan menjaga wudhu (agar segar sambil memuliakan al-Quran juga)
4. siapkan alat bantu yang sesuai (mushaf, recorder, partner menghapal)
Tidak dikerjakan semua tidak mengapa, tetapi mungkin takkan seproduktif jika qta memenuhi semua adab di atas. Ok! Mari qta mulai menghapal, bismillah… adapun tips di bawah ini juga disesuaikan dengan tipe belajar qta masing2…. Yang mana yang enak? Cobalah satu-satu…
Mengulang-ulang
Mengulang-ulang ayat yang ingin dihapal adalah metode general yang pasti dilakukan oleh semua penghapal al-Quran. Lakukanlah pengulangan sebanyak mungkin tanpa niat menghapalnya dulu. Setelah itu, berusahalah menghapal ayat-ayat tersebut sampai lancar. Jangan maju dulu jika pada satu ayat kita masih macet. Bersabarlah jika kemampuan qta agak lambat. Jika sudah hapal, gunakan ayat yang dihapal tersebut dalam shalat-shalat qta agar tetap terpelihara hapalannya.
Untuk tipe yang dominan visual:
Menggunakan satu mushaf
Ini sangat penting bagi para penghapal bertipe visual sebab jika mushaf berlainan ukuran dan berlainan letak huruf, ia akan kesulitan melakukan mapping hapalan di otaknya. Kan tipe visual itu tipe yang lebih mudah menghapal gambar? Maka, pilihlah mushaf yang menurut teman2 membuat semangat untuk menghapal: yang berwarna, yang ukuran hurufnya besar, yang 1juznya berapa halaman, atau yang seperti apa?
Menuliskan ayat yang dihapal
Ini juga cukup membantu para penghapal bertipe visual sebab ia dapat langsung memvisualisasikan hapalannya dengan tulisan sendiri. Gunakan beberapa alat tulis yang membuat menghapal terasa menyenangkan, semisal pulpen warna-warni, kertas tertentu, dsb.
Untuk tipe yang dominan audio:
Mendengarkan dari orang lain
Penghapal bertipe audio perlu partner dalam aktivitas menghapalkannya. Ia lebih suka mendengarkan dari orang lain dulu sebelum menghapal. Oleh karena itu, pilihlah partner yang bacaan al-Qurannya lancar dan tidak tersendat-sendat sebab itu mempengaruhi daya hapalnya.
Memilih nagham tertentu yang cocok
Jika tak ada partner, rekaman para qari/qari’ah dan imam tertentu juga bisa dipergunakan. Bahkan, merekam suara sendiri untuk didengarkan pun oke juga. Nah, pilihlah nagham (lagu/nada) yang enak berdasarkan versi masing-masing karena ini akan sangat membantu. Biasanya tipe audio mudah menghapal lagu yang cocok didengarnya.
Untuk tipe yang dominan kinstetik:
Menggunakan/sambil melakukan gerakan tertentu
Metode taba taba’I yang mempelopori metode ini dan di daerah timur tengah metode ini sangat laris untuk anak-anak berusia sangat belia. Seperti yang qta tau metode ini adalah kerja keras sepasang orang tua dari Muhammad Taba Taba’I yang berhasil mencetak anaknya menghapal al-Quran di usia 5 tahun. Selain menjadi metode penghapal, gerakan juga bagi tipe kinestetik menjadi memori pengalaman. Temanku di Pondok Quran, Bilal, dan Muchtar mengisahkan mereka menghapal dengan sambil berjalan-jalan, melihat pemandangan alam, dsb.
Pahami dulu artinya, kaitkan dengan bahasa arabnya
Metode ini juga cenderung untuk tipe kinestetik dan sangat cocok bagi kaum akademisi yang ingin tahu esensi dan tujuan dulu baru terdorong untuk memeliharanya. Apalagi bagi mahasiswa yang belajar di lembaga yang mempelajari lughah ‘arabiyah, metode ini sangat favorit dan super cepat nempel di otak.
Alhamdulillah. Itu saja yang bisa ochie bagikan dan ochie harap teman-teman yang membaca bisa mempraktekkannya sesuai kemauan dan kemampuan masing-masing. Satu tips lagi yang ochie sebutkan terakhir ini diingatkan oleh beberapa asatidz-asatidzah kemarin Ramadhan:
Setorkanlah kepada asatidz/asatidzah pada lembaga Hifzhil Quran
Ini penting sebab jika qta menghapal sembarangan dan qta tak tahu apakah al-Quran yang qta punyai itu tak kehilangan satu huruf pun. Dan dengan cara seperti ini pula qta akan mendapatkan gelar yang sama dan dapat menjadi penyimak calon hafizh/hafizhah berikutnya. Gelar al-Hafizh bukan merupakan gelar yang diberikan sembarangan: ia akan memperoleh ijazahnya dengan ujian. Selain itu, dengan mengikuti lembaga hafizh yang sudah teruji, kita akan bertemu teman sejawat yang satu cita-cita dan bisa saling mengingatkan cita-cita tersebut. Wallahu a’lam
Posted on September 22, 2011, in dll deh. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.
Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)