Arsip Harian:Agustus 2, 2011

Memoar Ramadhan…

Ramadhan menatapku lembut kemudian seolah bertanya, “Bukankah kau menanti-nantikanku sejak beberapa bulan yang lalu?” Aku hanya bisa menunduk dan tak menjawab. Malu aku menatap wajahnya yang begitu bening, terlebih hanya sekedar memandang matanya yang jernih. “Bukankah kau merindukanku?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa menikmati isak tangis yang begitu nyeri menghimpit.

Ramadhan tahu aku membagi perhatianku tidak hanya kepadanya, tetapi juga kepada mereka yang seharusnya tidak kupikirkan berlebihan sekarang. “Apakah kau mau memaafkanku? Apakah kau masih mau menjadi pembelaku saat tak seorang pun membelaku? Apakah kau akan tetap antarkanku sampai di depan pintu ar-rayyan?” tanyaku bertubi-tubi. Meskipun aku sebegini kurang ajar, aku tetap mengharapkan ia menjawab iya.

Namun, Ramadhan tak menjawab iya. Hanya kulirik sejenak senyumnya yang tetap tulus dan aku kembali menunduk. “Itu tergantung dirimu…” jawabnya, “masih ada waktu tinggalku tahun ini. Sekarang, terserah kamu mau memilih untuk menahan keinginanmu untuk memperhatikan segala sesuatu di luar peranmu sebagai seorang hamba…”

Itu versi cerpennya beberapa tahun lalu (lupa pas tingkat berapa ditulisnya pertama kali). Nah, ini versi diarynya mungkin (lupa juga dulu naruh diary dan mutaba’ah yaumian Ramadhan di mana, astaghfirullah).

MEMOAR RAMADHAN SELAMA DI KAMPUS GAJAH DUDUK

Ramadhan 1427
Masih jadi mahasiswa TPB yang lucu dan ngekor senior. Pengalaman yang berharga di sini adalah kunjungan ke panti bersama tim DSM Gamais. Seingatku oci bungsu sendirian di akhwat, itu pun dadakan. Mengharukanlah poko’e, tapi sayangnya ga punya dresscode yang sama dengan kk2 tingkat. Hmmm, pertama kali juga ngerasain ifthar jama’i sekampus. DAHSYAT! Waktu itu klo ga salah abis pengumuman nilai UTS yang “bagus” :D

Ramadhan 1428
Tingkat dua! Mulai ngurusin syi’ar Ramadhan, tapi masi ikut instruksi (ga inisiatif banget). Apa yang berkesan di sini ya? Kayanya kgiatan MSTEI yang pesantren Ramadhan de, ya? Belajar apa c itu namanya… ngelas? bukan, bukan… nge… apa ya namanya? pokonya itu yang nyambungin kabel sama kabel, mpe nyetrum ke kaki :D special thanks buat pngajar2 berbakat: ashr, gilang, beri, dkk.

Ramadhan 1429
Lupa, tahun ini apa tahun before? Aga parah ngurus bukbarnya PM HMIF ma anak panti. Ga jelas jadi panitia apa, pokonya dkerjain rame2 semua: kurang orang kayanya. Jobku mayan juga waktu itu: nyerahin proposal dan minta tanda tangan Pak Rin, jadi MC pas hari-H (dadakan!), bantuin Austin bawa2 konsumsi dari Salman (dahsyat ni temen padahal dia Katolik), sampe ngemeng geje dpan anak2 pas bagiin hadiah kecil.

Ramadhan 1430
Ramadhan yang paling menyakitkan (halagh). Ga usah diceritain deh, hehe, pokonya penuh dengan deraian air mata sebab akhir tingkat 3 dapet putusan yang ga diduga, efeknya kbawa di awal tingkat 4, bahkan mpe Ramadhan. Setelah kupikir2, jadi titik balik terpaksa koleris (mungkin sbenarnya udah tuntutan sejak lama c, tapi baru terkeksplorasi di sini).

Ramadhan 1431
Yang berkesannya mungkin pra Ramadhan: saat ikhtiyar pemulihan dari sakit begitu keras. Karena sempat drawat 9-10 hari di RS, makan serba ga enak, shalat rasanya tak mampu berdiri lama, sesekali duduk: pusing kaya anemia dan pengennya baringan terus. Itu ngebayangin ga bisa itikaf rasanya pengen nangis aja. Namun ternyata, Alhamdulillah, Allah berikan tenaga pada waktunya. Ada memoar unik juga c, tapi ga bisa bilang2, hehe.

Ramadhan 1432
Sekarang… hmmm, masih diikhtiyarkan. Semoga ada yang lebih di Ramadhan kali ini^^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.