Arsip Bulanan: Agustus 2011
Ta’awun
Membicarakan ukhuwah imaniyah (persaudaraan karena iman) memang tiada habisnya. Selalu ada topik yang bisa diceritakan tentangnya. Sesuai dengan judul artikel ini pun, ada subtopik ukhuwah yang berjudul ta’awun. Apa itu ta’awun?
Mari review sejenak tentang tahapan ukhuwah imaniyah yang sering qta dengar:
a. Ta’aruf
Ta’aruf merupakan tahap pertama. Pada tahap ini kita mengenal segala cap milik saudara qta. Cap ini sifatnya persisten dan mudah diketahui hanya dengan bertanya , membaca biodatanya, dll. Misalnya qta mengetahui yang mana orangnya, siapa namanya, apa jurusannya, angkatan berapa, kampus mana, dimana alamatnya, tanggal lahir, dll.
b. Tafahum
Nah, tafahum ini akan terbangun jika kita sudah berinteraksi intens dengannya. Kita akan mengetahui apa warna favoritnya, bagaimana seleranya, apa kesukaan dan kebiasaannya, kapan dia marah, kenapa dia melakukan ini dan itu, dll.
c. Ta’awun
Singkatnya pada tahap ini qta akan rela menolongnya jika ia dalam kesulitan. Kita akan membantunya keluar dari kesulitan dan ikut senang jika ia telah lepas dari persoalannya. Next qta akan bicarakan banyak hal tentang ini, insya Allah.
d. Takaful
Takaful merupakan tahap yang setingkat lebih tinggi daripada ta’awun. Ada juga yang menjadikannya sepaket dengan ta’awun. Pada tahap ini qta akan memberi kepercayaan kepada saudara qta sesuatu yang tidak qta berikan kepada sembarang orang. Entah itu secret story, amanah, titipan barang, dll.
Sebagai tambahan di awal dan akhir tahapan yang sangat banyak itu ada kalimat ini: Serendah-rendahnya ukhuwah adalah husnuzhan (berbaik sangka) dan setinggi-tingginya adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri).
Sudah paham? Back to ta’awun… paan tu? Ta’awun dalam salah satu ayat dalam al-Quran disebut sebagai ta’aawanuu, artinya saling menolong.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (al-Maidah:2)
Saling? Yup, artinya resiprok: jika satu pihak kesulitan, yang lain membantunya. Poin yang terpenting: sebab ukhuwah qta berlandaskan iman, aturannya juga jelas: dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan pelanggaran. Sekali lagi, bukan buat menzhalimi diri sendiri apalagi orang lain, baik di dunia maupun akhirat.
Tolong menolong dalam konteks kebaikan dan taqwa… seperti apakah itu?
Lets’ see case study!
Ini cerita dari salah seorang senior (K Hafizh Elektro ‘98) bahwa jika ukhuwah itu benar-benar karena iman, ta’aruf dan tafahum bahkan bisa langsung dilampaui. Alkisah dua orang ikhwan bertemu, sebutlah Akhi dan Fulan. Mereka berdua baru berkenalan hari itu juga di sebuah pengajian. Akhi bawa mobil, sedangkan Fulan hanya pejalan kaki. Akan tetapi, karena ada panggilan tugas yang mendesak Fulan harus bersegera meminjam mobil untuk membawa sesuatu dari dan ke lokasi yang agak jauh dari sana. Dengan mudahnya, Akhi meminjamkan mobilnya dengan suka rela, sedangkan ia memilih pulang dengan kendaraan lain (nah tuh kan makanya beririsan ma takaful juga).
Lebih lanjut, mari qta lihat cara orang-orang zaman dulu dalam menunaikan ta’awun ini…
Saat itu Muhajirin (orang mukmin yang hijrah dari Mekah) dipersaudarakan dengan Anshar (orang mukmin yang menolong muhajir di Madinah). Kaum Anshar benar-benar menolong saudaranya secara finansial, tempat tinggal, perbendaharaan, dkk dengan suka rela. Bantuan mereka sangat luar biasa, Kawans! Semuanya serba dibagi dua, bahkan seringkali mereka rela andai saudaranya memilih yang lebih baik di antara dua pilihan yang ditawarkan.
Bahkan ta’awun yang telah mencapai tahap itsar telah sering qta dengar…
Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr telah membuktikannya di Perang Yarmuk. Saat itu ketiganya terluka parah dan ajal yang menjemput laksana raksasa yang mencekik kerongkongan. Apa yang dilakukan Ikrimah saat ia hendak diberi minum oleh seorang mukmin anggota tim medis? Ia menolak dan mempersilakan saudaranya yang lain dulu, begitupun saudaranya yang lain. Pada akhirnya ketiganya syahid tanpa meneguk setetes air pun.
Sebaliknya, ada larangan ta’awun dalam konteks kejahatan dan kezhaliman. Kasus sederhana yang dari SMA sering kudengar adalah saling memberikan contekan. Kasus ini klasik, tapi pernah benar2 terjadi parah: bahkan guru dan kepsek pun membantu siswanya mencontek di momen UN. Mungkin ini juga yang menjadi sebab penurun keberkahan negeri ini. Siswa-siswi itu belajar dan dididik korupsi bersama-sama.
Kalau overview sejarah, mari qta lihat bagaimana para kafir Quraisy saling bahu-membahu memboikot Rasulullah dan keluarganya secara ekonomi. Mereka tidak diperbolehkan melakukan jual beli dan diasingkan hanya karena dalam dada mereka ada iman kepada Allah dan hari akhir. Bahkan orang-orang kafir Quraisy itu saling mendukung untuk menyiksa budak dan hamba sahaya yang beriman. Skenario puncak adalah saat mereka sama-sama merancang pembunuhan kepada Rasulullah yang pernah mereka amanahi al-amin (yang terpercaya) sebelum kenabian beliau.
Di hari akhir kelak berbahagialah mereka yang pernah ta’awun dalam konteks kebaikan dan taqwa sebab Allah pun akan menolong mereka. Sementara mereka yang justru melakukan ta’awun dalam konteks sebaliknya akan mendapatkan azab yang pedih. Tak lagi ada persahabatan, tak lagi ada persaudaraan, tak lagi ada saling menolong, selain yang Allah kehendaki… selain yang landasannya iman…
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu[1023], dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (al-Mukminun:101)
[1023]. Maksudnya: pada hari kiamat itu, manusia tidak dapat tolong-menolong walaupun dalam kalangan sekeluarga.
–
Sengaja nulis ini karena permintaan bos sebagai iqob ga dateng kmpul tim
Bole dposting kan, bos? Topiknya general inih! Bole, chie, bole bole… :p
*sedang sangat sangat malas nulis artikel -_____- padahal gi Ramadhan ni
Rabithah
~ by izis (Izzatul Islam) ~
adaptasi dari doa Rabithah tambahan dzikr ma’tsurat
sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu,
bertemu dalam ketaatan,
bersatu dalam perjuangan,
menegakkan syari’at dalam kehidupan
kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya,
terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam
ya Rabbi, bimbinglah kami
lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal padaMu,
hidupkan dengan makrifatMu,
matikan dalam syahid di jalanMu,
Engkauhlah pelindung dan pembela
Memoar Ramadhan…
Ramadhan menatapku lembut kemudian seolah bertanya, “Bukankah kau menanti-nantikanku sejak beberapa bulan yang lalu?” Aku hanya bisa menunduk dan tak menjawab. Malu aku menatap wajahnya yang begitu bening, terlebih hanya sekedar memandang matanya yang jernih. “Bukankah kau merindukanku?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa menikmati isak tangis yang begitu nyeri menghimpit.
Ramadhan tahu aku membagi perhatianku tidak hanya kepadanya, tetapi juga kepada mereka yang seharusnya tidak kupikirkan berlebihan sekarang. “Apakah kau mau memaafkanku? Apakah kau masih mau menjadi pembelaku saat tak seorang pun membelaku? Apakah kau akan tetap antarkanku sampai di depan pintu ar-rayyan?” tanyaku bertubi-tubi. Meskipun aku sebegini kurang ajar, aku tetap mengharapkan ia menjawab iya.
Namun, Ramadhan tak menjawab iya. Hanya kulirik sejenak senyumnya yang tetap tulus dan aku kembali menunduk. “Itu tergantung dirimu…” jawabnya, “masih ada waktu tinggalku tahun ini. Sekarang, terserah kamu mau memilih untuk menahan keinginanmu untuk memperhatikan segala sesuatu di luar peranmu sebagai seorang hamba…”
–
Itu versi cerpennya beberapa tahun lalu (lupa pas tingkat berapa ditulisnya pertama kali). Nah, ini versi diarynya mungkin (lupa juga dulu naruh diary dan mutaba’ah yaumian Ramadhan di mana, astaghfirullah).
MEMOAR RAMADHAN SELAMA DI KAMPUS GAJAH DUDUK
Ramadhan 1427
Masih jadi mahasiswa TPB yang lucu dan ngekor senior. Pengalaman yang berharga di sini adalah kunjungan ke panti bersama tim DSM Gamais. Seingatku oci bungsu sendirian di akhwat, itu pun dadakan. Mengharukanlah poko’e, tapi sayangnya ga punya dresscode yang sama dengan kk2 tingkat. Hmmm, pertama kali juga ngerasain ifthar jama’i sekampus. DAHSYAT! Waktu itu klo ga salah abis pengumuman nilai UTS yang “bagus”
Ramadhan 1428
Tingkat dua! Mulai ngurusin syi’ar Ramadhan, tapi masi ikut instruksi (ga inisiatif banget). Apa yang berkesan di sini ya? Kayanya kgiatan MSTEI yang pesantren Ramadhan de, ya? Belajar apa c itu namanya… ngelas? bukan, bukan… nge… apa ya namanya? pokonya itu yang nyambungin kabel sama kabel, mpe nyetrum ke kaki
special thanks buat pngajar2 berbakat: ashr, gilang, beri, dkk.
Ramadhan 1429
Lupa, tahun ini apa tahun before? Aga parah ngurus bukbarnya PM HMIF ma anak panti. Ga jelas jadi panitia apa, pokonya dkerjain rame2 semua: kurang orang kayanya. Jobku mayan juga waktu itu: nyerahin proposal dan minta tanda tangan Pak Rin, jadi MC pas hari-H (dadakan!), bantuin Austin bawa2 konsumsi dari Salman (dahsyat ni temen padahal dia Katolik), sampe ngemeng geje dpan anak2 pas bagiin hadiah kecil.
Ramadhan 1430
Ramadhan yang paling menyakitkan (halagh). Ga usah diceritain deh, hehe, pokonya penuh dengan deraian air mata sebab akhir tingkat 3 dapet putusan yang ga diduga, efeknya kbawa di awal tingkat 4, bahkan mpe Ramadhan. Setelah kupikir2, jadi titik balik terpaksa koleris (mungkin sbenarnya udah tuntutan sejak lama c, tapi baru terkeksplorasi di sini).
Ramadhan 1431
Yang berkesannya mungkin pra Ramadhan: saat ikhtiyar pemulihan dari sakit begitu keras. Karena sempat drawat 9-10 hari di RS, makan serba ga enak, shalat rasanya tak mampu berdiri lama, sesekali duduk: pusing kaya anemia dan pengennya baringan terus. Itu ngebayangin ga bisa itikaf rasanya pengen nangis aja. Namun ternyata, Alhamdulillah, Allah berikan tenaga pada waktunya. Ada memoar unik juga c, tapi ga bisa bilang2, hehe.
Ramadhan 1432
Sekarang… hmmm, masih diikhtiyarkan. Semoga ada yang lebih di Ramadhan kali ini^^