Say NO to Pornografi!
Alhamdulillah, akhir bulan Juni kemarin ochie berkesempatan mendapatkan training of trainer kerjasama Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan yayasan Kita dan Buah Hati. Topik kali itu adalah pengembangan kesadaran pemuda terhadap faktor destruktif, wa bil khusus: pornografi. Ochie merasa sangat beruntung memperoleh ilmu dua malam tiga hari di hotel poster jalan suci (deket SMPku dulu nih). Target dari TOT 2011 ini adalah rekrutmen PKMI Gempita yang akan kembali “turun ke jalan” mempropagandakan sesuatu untuk pemuda Indonesia.
Hari pertama adalah pembukaan dan kami mendapat 3 materi utama, di antaranya:
a. Kebijakan Pemerintah
b. Menyiapkan pemuda tangguh di era layar (digital)
c. Mengenali dan meningkatkan kepercayaan diri
Jika hari pertama lebih ke persiapan keilmuan, maka hari kedua lebih fokus ke teknis, yaitu:
a. Skill komunikasi
b. Contoh training untuk remaja dalam penyadaran menolak pornografi
c. Macam-macam kelas (ceramah, seminar, penyuluhan, active training), manajemen kelas hingga seni menjawab pertanyaan anak; dll…
Di hari ketiga kami melakukan praktek kelas dan merancang kegiatan angkatan yang insya Allah akan dieksekusi kemudian. Yang paling mengharukan adalah penutupan, yakni saat Pak Wildan, ketua angkatan kami, memberikan kata sambutan. Beliau adalah seorang guru di daerah yang menghadapi persoalan anak didiknya yang punya banyak masalah. Di sisi lain, beliau adalah ayah seorang puteri yang mengkhawatirkan kekejaman zaman ini.
Yup. Preambulenya jadi terlalu panjang. Belum masuk cerita inti lho ini, teman2!
Pemuda, khususnya remaja, saat ini sedang dibombardir hal-hal negatif, seperti rokok, narkoba, aliran sesat, pornografi, hingga sex bebas. Yang menarik adalah kenyataan bagian otak yang dirusak oleh faktor-faktor destruktif! Ternyata pornografi lebih merusak daripada narkoba. Jika cocain dan methamphetamine hanya merusak tiga bagian (orbitofrontal, insula hippocampus temporal, dan cingalute)[BioPsy 2002, JNeurosc 2004], ternyata pornografi merusak lima bagian (tiga yang tadi ditambah nucleus accumbens patumen dan cerebellum)[JPsycRes 2007]. Akan tetapi, kecanduan narkoba dapat terlihat, sedangkan kecanduan pornografi tidak terlihat. Parahnya lagi, konsumen pornografi dapat mengakses “obat candu”-nya melalui memori di otaknya.
Apa itu pornografi? Pornografi berasal dari 2 kata, yaitu porno dan grafi. Porno arti “halus”-nya adalah mempergunakan alat reproduksi, sedangkan grafi artinya gambar (baik gambar statis maupun dinamis: kumpulan gambar-gambar pada setiap satuan waktu, dengan kata lain sejenis video dkk). Pornografi ini menjadi faktor penyebab terbesar dalam kasus pornoaksi (dengan nama lain zina).
Kinerja perusakan otak dengan pornografi pun dijelaskan dalam active training. Otak yang dibagikan menjadi dua fungsi, yaitu direktur dan responder. Direktur atau istilah sebenarnya pre frontal cortex merupakan bagian yang bertanggung jawab untuk merencanakan masa depan, pengorganisasian, kontrol diri dan emosi, serta pengambilan keputusan. Sementara itu responder atau sistem limbic merupakan keinginan dan hasrat untuk memperoleh kenikmatan. Remaja umumnya memfungsikan otaknya dengan perbandingan Direktur:Responder = 1:3, tetapi jika ia merupakan konsumen dari pornografi, fungsi Direktur akan menurun karena otaknya sibuk dengan fungsi Responder. Akibatnya ia tak memiliki kecerdasan yang seharusnya. Bahkan, otaknya akan minta dipuaskan terus-menerus oleh keinginannya.
Pornografi ini bahkan telah menyerang anak-anak kita di usia yang seharusnya otak mengalami perkembangan kecerdasan yang akseleratif. Bayangkan! Anak-anak malah dipaksa menjadi “dewasa” sebelum waktunya. Mereka belum siap untuk mendapatkan tanggung jawab, bahkan otak mereka sudah tidak lagi jernih, tetapi mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan keji karena terinspirasi oleh pornografi. Parahnya pornografi ini menyusup ke dalam konsumsian mereka, seperti komik, novel, games, film, dll.
Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam menyadarkan anak-anak dan remaja terkait kasus pornografi ini?? Inilah pentingnya dilakukan active training yang menyadarkan siapa mereka dan apa peran mereka sebagai manusia yang seutuhnya. Anak-anak harus disibukkan dengan mengeksplorasi keistimewaan mereka dan belajar meningkatkan kapasitas daripada sekedar melakukan hal yang tidak bermanfaat. Selain itu, anak-anak harus menyadari bahwa ia adalah hamba Allah. Anak-anak harus diawasi pergaulannya, tapi bukan dalam rangka memagari ia agar tak berteman dengan siapapun, melainkan memilih lingkungan yang baik untuknya. Di sinilah peran orang tua dalam membina anak-anak mereka.
Hmmm, bagaimana dengan peran kita yang belum menjadi orang tua? Kita dapat menggabungkan diri ke barisan yang menyadarkan orang tua atau bahkan langsung ke anak dan remaja dengan menjadi seorang trainer atau mentor… (^o^)/ yuuuuuuuuuk!
–
phew, masih sangat banyak PR kita!
Posted on Juli 10, 2011, in diary ummat. Bookmark the permalink. 6 Komentar.
kayaknya bagus buat OASIS gamais ato kaderisasi himpunan. Jadi sebelum dilantik, mereka harus ngasih penyuluhan tentang bahaya pornografi terhadap kecerdasan kpd anak2 SMA… ya, minimal masuk materi mentoring lah…
*lagi cari inspirasi di blog adik2 gamais
wah? masi bantu kmpus, k?
ide bagus! turun ke sekolah2 buat sosialisasi^^
klo perlu bantuan, kontak oci aja!
sip, ci. jadi tugas kita semua ini mah, apalagi yg udah berstatus parent. met berjuang buat kita semua ^_^
*udah lama ci gak ninggalin jejak di blog teteh, hehehe
met berjuang, bun! (^o^)/ jgn lupa kabar2i lahirannya…
*ups, lama ga blogwalking, teh… maklum: pengacara <- bisa aja ngeyelnya
ochie, mau tanya.
selama ini pornografi selalu yang menjadi “produsen” adalah wanita, sedang konsumennya “pria”. menurut ochie, apa motif segelintir wanita tsb selain utk tujuan komersil?
karena tidak semua pornografi itu komersil. mungkin kita bisa mengobati setelah tahu motif nya apa.
trus, menurut pandangan ochie, apa terjadi juga hal sebaliknya? yaitu wanita sebagai konsumen dan pria sebagai produsen. jika ya, apa juga motifnya?
kita bener2 harus serius menyelesaikan hingga ke akar masalah.
demi keselamatan generasi muda kita ^^
sebenarnya produsennya itu wanita dan pria, kang, kan “adegan” yang terjadi pun pria dan wanita (justru kayanya “otak” dari free-nya pornografi adalah pria) tapi ochie sepakat:
- wanita yang jadi model static graf
- target utama konsumennya adalah pria.
kenapa? karena alasan psikologis (mungkin k irfan lebi paham) dimana pria kecenderungan visualnya lebih kuat daripada wanita yang cenderung kuat audio
di balik itu, c “otak” (yang jadi produsen yang sebenarnya) sebenarnya mungkin punya alasan:
- hedonis (pengennya semua orang sepaham dengannya soal “halal”-nya zina)
- politik (singkat kata buat qta yg ud paham mah: ghawzul fikr) dimana yang diserang di daerah “jajahan” adalah budaya dan fikrahnya.