Nikah?? Siapkah Kita??

Goseeeeeeeeeeeeeeeep! Sekitar tengah bulan lalu, ochie dapet SMS dari salah seorang akhwat ITB, “ochie, ana mau tabayun: benarkah ochie gi proses ta’aruf dengan akang piiiiiiiiiiiiiiiiip?” (nama dsensor, pokonya salah seorang seniorku di kampus). Kaget setengah mati ochie! Wew, gosip dari mana itu?? Kenal aja cuma nama, jurusan, dan angkatan. Lagian sempat pernah ngerasa jadi “musuh” beliau di suatu momen. Mungkin ochie yang laen (ochie kampus laen atau ochie plus-minus 1 huruf di depan-tengah-blakangnya, hehe). Honestly, ochie pernah digosipin (lebi tepatnya di-ceng2-in) ma si anu, si fulan, si itu, tapi modernnya ini mah gosipnya ta’aruf! Sama akang piiiiiiiiiiiiiiiip pula! Dahsyat pisan… parah we klo beneran tu gosip beredar di kalangan tman2ku! Kalaupun ada gosip ochie proses, bukan sama ikhwan ITB harusnya.

Udah ah c ochie nih, nyeritain diri sendiri we terus. Seperti yang pernah kusinggung-singgung dalam artikel lain, bagiku dan akhawat sejenis pacaran adalah pasca pernikahan. Jadi, selama ini cuma nyiapin mental pacaran dulu dengan nyari ilmunya. Abis itu, baru aplikasiin! Pastinya aplikasi itu lebi sulit dari sekedar teori, tapi bismillah mari kita coba! Coba apa, chie? Coba kupas sedikit ilmunya dululah :yihaa:

Sebelum memulai langkah pertama, yaitu mencari calon suami yang sekufu (paan c sekufu? insya Allah dibahas di next artikel), ada beberapa yang harus dicek sebagai parameter kesiapan. Apa aja emank? Dari beberapa buku yang pernah kubaca, kira2 inilah resumenya:

a. kesiapan jasadiyah atau fisik
Kesiapan ini dimiliki laki-laki dan wanita yang telah menginjak usia akil baligh (laki-laki ditandai dengan mulai diproduksinya sperma, sedangkan wanita ditandai dengan dimulainya haidh atau menstruasi). Itu artinya organ reproduksi mereka sudah aktif. Dengan demikian, kesiapan pertama sudah dipenuhi.

b. kesiapan fikriyah atau ilmu
Kesiapan ini dilakukan dengan mencari pengetahuan tentang fiqh pergaulan, fiqh ta’aruf, fiqh munakahat, dan advancednya mungkin tarbiyatul aulad / mendidik anak. Termasuk di dalamnya pengetahuan basic, doa-doa, adab perilaku, hingga konflik puncak di dalamnya (talak, ila’, khulu’, zihar). Ilmu ini sangat penting untuk memelihara kebahagiaan di dunia dan tentu saja juga di akhirat.

c. kesiapan ruhiyah atau mentalitas
Kesiapan ini adalah yang paling abstrak menurutku, tapi setiap orang punya parameternya masing2. Ada yang mengukurnya dengan rapinya amalan yaumi, ada yang mengukurnya dengan siap menerima seorang baru yang masuk total dalam kehidupan qta dan menerima 1 keluarga lagi sebagai keluarga qta (siap? hmmm, binun ya dengan kata siap ini). Ada juga yang mengukurnya dengan kontrol emosi. Dkk. Inti ksiapan ini adalah siap memelihara dan mempertahankan pernikahan agar langgeng.

d. kesiapan maaliyah atau kemandirian
Kesiapan ini singkatnya adalah kesiapan finansial; hidup terpisah dari orang tua, mencukupi kehidupan berdua dan anak2 kelak, serta melaksanakan kewajiban zakat dll dengan uang sendiri. Biasanya kesiapan ini dibebankan di pundak kaum adam, sedangkan kaum hawa lebih cenderung dibebankan harus sudah siap dengan perencanaan dan pengelolaan keuangan keluarga.

e. kesiapan ijtima’iyah atau sosial (plus2)
Sebagai tambahan, ada beberapa buku yang menambahkan ini sebagai kesiapan. Inti dari kesiapan ini adalah berperan aktif di lingkungan masyarakat. Artinya, pasangan baru harus siap menerima konsekuensi bahwa status mereka bukan anak dari orang tua lagi, melainkan keluarga baru yang memiliki hak dan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat.

Ok, bismillah…
Sebagai langkah pertama, meski ochie belum mulai praktek (kalau kata sebuah milis mah nilai SKSnya masi T, tapi insya Allah mudah2an bentar lagi jalan menuju dapet nilai A), mudah2an ini jadi inspirasi bagi teman2 yang kebingungan. Kalau jodoh belum datang juga, kita persiapkan aja apa yang kita bisa dari sekarang!

Tentang Rosyidah Kh. N.

annisa biasa2 yang bercita2 menjadi luar biasa, khususnya di kehidupan setelah kematian kelak: aamiiiiiiiiiin

Posted on Juli 7, 2011, in seri munakahat. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. ochie kapan nyusuuuuul? :D

  2. termasuk kesiapan mental adalah kesiapan memimpin, ukht, khususnya untuk para ikhwan seperti saya :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.