Menggunakan Bahasa Mad’u
Beberapa kegagalan para da’I dalam melakukan da’wah ilallah adalah sebagaimana kesalahan komunikasi juga, yakni tidak mempergunakan bahasa komunikan atau bahasa mad’u (yang menerima da’wah). Mempergunakan bahasa mad’u berarti harus memahami dulu seperti apakah si mad’u: latar belakangnya, kecenderungannya, dkk-nya.
Akan sangat aneh jika kita menda’wahi mad’u dengan bahasa mahasiswa padahal mereka tak memiliki background Perguruan Tinggi. Akan sangat sulit jika kita menda’wahi mad’u dengan bahasa Indonesia padahal mereka hanya memiliki kemampuan bahasa daerah dan atau hanya akan lebih akrab dengan da’I yang paham bahasa daerahnya.
Mempergunakan bahasa mad’u artinya kita melepas kacamata kita yang memiliki pemahaman setingkat lebih tinggi atau bahkan lebih rendah (ga bisa bahasanya) untuk menjadikannya setara dengan mad’u. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah dalam menda’wahi orang-orang di sekitarnya. Bahkan dengan bashirah yang tajam, beliau bisa memberikan nasihat yang berbeda kepada para sahabatnya meski pertanyaan mereka sama, “ya Rasulullah, berikanku nasihat…”
Kepada sahabat yang meminta agar tetap berzina meski beriman, Rasulullah menyadarkan jahatnya maksiyat ini dengan fitrah kasih sayangnya kepada keluarga yang perempuan. Kepada sahabat yang pemarah, Rasulullah melarangnya untuk marah berkali-kali. Kepada sahabat yang ingin nasihat terbaik, Rasulullah memintanya untuk istiqomah meski itu berat. Kepada sahabat yang putus asa terhadap dirinya sendiri, Rasulullah memberikan motivasi dengan kabar gembira dan ampunan yang besar. Kepada sahabat yang tampak berduka karena terlilit hutang, Rasulullah mengajarkan doa agar terlepas darinya.
Hal ini tak mungkin dilakukan jika Rasulullah tidak mencintai mad’unya. Beliau menyampaikan nasihat sesuai dengan pemahaman dan kemampuan si mad’u. Dengan demikian, mad’u dapat istiqomah dengan jalan Islamnya tanpa merasa terlalu berat tetapi ia merasa memberi manfaat kepada dirinya dan dinnya. Ada sahabat yang hanya diberikan nasihat kewajiban shalat sebab Rasulullah tahu ia tak mampu melakukan shawm dan zakat (keterbatasan fisik dan harta), tetapi di sisi lain ada sahabat yang diberikan nasihat keutamaan berjihad di jalan Allah siang dan malam sebab Rasulullah tahu pemuda di hadapannya memiliki kemampuan untuk itu.
Berda’wah mempergunakan bahasa mad’u memang sulit sulit gampang (hehe), tetapi itulah salah satu hikmah mengapa Rasulullah yang dijadikan uswatun hasanah juga manusia biasa (bukan malaikat). Artinya, kita yang sama-sama manusia pun dapat meneladani apa yang beliau lakukan. Maka meskipun sulitnya memang benar-benar sulit, tapi jika dijalani terus-menerus tanpa lelah seperti yang beliau lakukan, ada gampangnya juga koq, insya Allah
Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.” (al-Isra:95)
–
Fokusnya jadi ke Rasulullah, ya?? Gapapa, sebab beliau adalah model yang paling ideal, termasuk buat ini…
Posted on Juli 5, 2011, in da'watuna. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.
Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)