Adalah indah, ketika kegiatan-kegiatan itu menjadi kebiasaan yang dilakukan Aisyah, sebagai bagian dari episode-episodenya dalam merangkai hari. Mulai dari membangunkan, atau dibangunkan, kakak-kakak kos untuk sembahyang malam, menyambut mentari dengan nasyid-nasyid Islami, hingga saling memberi nasihat dengan sahabat.
Begitu banyak waktu yang Aisyah habiskan dengan kedekatan yang nyaman dengan Illahi, merasakan bagaimana indahnya menangis dalam sujud, bagaimana nikmatnya menjaga pendangan. Tak jarang pula ia menghabiskan waktu di Daarut Tauhid untuk meneruskan bacaan Al-Qur’annya atau sekedar membaca buku untuk menghirup nuansa surga. Aisyah merasa, seolah surga yang jauh itu begitu dekat dengannya.
Hal yang sama pun terjadi pada hari ini, hingga ibunya menelepon, mengajaknya pulang akhir pekan nanti.
=====
Suasana ruang keluarga cukup membuatnya merasa tak nyaman. Di sana, selain ibu, ayah, kakak dan kakak iparnya, juga terdapat paman dan bibi. Mereka semua datang.
Aisyah mencoba mengingat kembali pinta ibunya tadi malam, mengingat pula tolakan halusnya. Ia rasa karena tolakan itulah seluruh keluarga datang.
“Gimana, Syah? Ayolah, ini kesempatan besar! Dengan kuliah di sekolah itu kamu bisa langsung jadi pegawai negeri! Langsung ditempatkan kerja, lagi! Kakak sudah cari infonya, ternyata memang gratis dan bahkan dibiayai!” Kata kakaknya.
Pamannya ikut menimpali, “Iya, sekarang cari kerja susah, Syah. Swasta susah diandalkan. Satu-satunya harapan tinggal jadi pegawai negeri.”
Aisyah terdiam. Membayangkan dirinya masuk di sekolah militer, artinya ia harus mengorbankan sesuatu yang menurutnya amat penting, keistiqamahannya dalam menjaga hijab. Ia mencari alasan lain.
“Tapi, jadi guru juga pegawai negeri, kan?” ujarnya mencoba menyanggah dengan halus.
“Iya,” sambung bibinya, “Tapi buat jadi guru, kamu musti kuliah 3 tahun lagi. Sama aja, kan? Bedanya, di Bandung musti bayar. Terus musti tes dulu. Kenapa nggak coba? Paling nggak, tes masuknya dulu, aja…”
===
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya, ia amat berharap tak lulus dari suatu tes. Ia berharap namanya tak ada dari 70 orang yang akan ia lihat daftarnya. Tapi saat membaca pengumuman di koran, namanya tercantum. Aisyah menjerit dalam hati.
===
Dalam ruangan itu, suasana amat pelik. Aisyah masih menolak, sementara Paman, bibi, kakak dan kakak iparnya, serta ayah dan ibu, semuanya berharap agar ia mengambil kesempatan ini.
Aisyah menatap Raka, Adik sepupunya, yang saat ini tertidur pulas di pelukan ibunya. Dalam hati ia berharap sesuatu yang tak mungkin, Raka, bantu teteh…
“Syah, bapak tau, kamu udah enak di tempat kuliah yang sekarang. Tapi dengan kamu pindah, bapak sama mamah kebantu…” sahut sang ayah. Ia lalu mengusap tangan istrinya, “kasian mamah..”
Wajah sang ibu memudar. Matanya tampak berair sebelum ia berkata, “Syah, dengan Syah kuliah di sana, Insya Allah meringankan beban mamah sama bapak. Mamah seneng kalo Syah juga jadi pegawai negeri sama kayak kakak… Seneng banget.”
Melihat ibunya hampir menangis, Aisyah menitikkan air mata. Ia bimbang.
Akhirnya Aisyah berkata lirih sambil menatap wajah ibunya, “Mah… Apa mamah tega, melihat anak mamah yang udah pakai jilbab harus kembali ke kerudung biasa? Apa mamah tega ngebiarin anak mamah yang udah pakai baju ini harus berpakaian ketat?”
Aisyah tertunduk. Air matanya jatuh tak terbendung. “Apa mamah berani melanggar perintah Allah yang menyuruh kita menutupi aurat?”
Perkataan Aisyah membuat ibunya menangis, “Mamah nggak berani…”
Perkataan itu serta merta diikuti perkataan lain dari kakak, paman, dan bibinya. Mereka berkata kalau toh kuliah di sana, Aisyah masih akan memakai kerudung. Mereka pun meyakinkan kalau itu tak akan bertahan lama, hanya tiga tahun. Setelah itu gelar pegawai negeri akan dimiliki bersamaan dengan pekerjaan. Dan Aisyah bisa kembali seperti sedia kala.
Aisyah pasrah. Ia terpaksa harus memilih antara membahagiakan orangtuanya atau menjaga hijab yang telah ia jaga sebelumnya.
Isak tangis ibunya yang tak berhenti dan penjelasan-penjelasan dari keluarga membuat Aisyah tak bisa membantah lagi. Ia akhirnya memilih yang pertama, sambil berucap dalam hati,”Ya Allah… Mengapa engkau memberikan cobaan yang begitu berat ini untukku…?”