oci udah mulai jenuh, tapi selama liburan ini ia memang melalaikan tugas besarnya bikin job scheduling. partnernya si blacky (nama kompinya) udah bosen ngompile bagian yang itu-itu juga. sudah hampir sejam oci memandangi layar hitam bin command prompt yang udah dibikin path ke compiler favorit anak if itb: “MinGW/bin/”
oci mengerutkan dahi. bagaimana mungkin si partner bilang yang salah adalah library-nya? aneh, dimana2 juga library yang udah ada tuh tinggal dipake… oci tetap berjuang memahami bahasa si partner. “halo?? kenapa kamu, blacky? masakah karena ada virusnya?”
alhamdulillah. akhirnya oci tahu kesalahannya apa. apa coba? hanya karena yang diniatkan jadi komentar di halaman berextensi “.c” itu tidak punya tanda “/” di awal kalimatnya. haha, lucu sekali, padahal ini bukan pertama kalinya oci mengalaminya, tapi tetap saja proses mencernanya sama lamanya dengan pengalaman pertama.
mungkin bagi anak if kejadian-kejadian sejenis itu sudah mendarah daging. hanya karena kurang satu tanda dalam program, bisa fatal akibatnya…
sama seperti membaca AQ, jika huruf qa dan ka (haduh, gimana nulis arabnya di sini) tertukar, maka qul yang artinya katakanlah bisa menjadi kul yang artinya makanlah… atau saat qta menyebut ‘adzabun aliim (pake alif) menjadi ‘adzabun ‘aliim (pake ‘ain), sama saja qta mengubah satu kalimat “azab yang pedih” menjadi “azab yang mengetahui”. nah, lho??
itulah alasannya menteeku PL07 di AAEI semester lalu sampai sekarang ingin memperbaiki tahsin (bacaan tilawahnya)… salut dengan semangat mereka! meskipun akhirnya, dengan berat hati ci pindahkan mereka ke “tangan” Elih. yah, dengan berat hati, karena ci sudah memegang dua binaan di SMA dan ITB. yup, semester ini oci mau balik lagi ke almamater. kangen rasanya ketemu masjid, mushala akhwat, sekre, koridor, aula, dll
back to topic, maaf nih meleber, ci tersentuh juga dengan kalimat, “code is not everything, but we can code anything” yang ada di kaos angkatan if 2006. ci menyadari itu bukan hanya saat ngoding, tapi juga dalam kehidupan. ibarat program, hidup pun sebenarnya punya solusi baik itu berupa prosedur maupun fungsi (halah, ampun si oci). terkadang qta mendapatkan nilai kembalian (fungsi) atau sekedar perubahan diri/ kedewasaan (prosedur yang punya parameter output) atau tidak ada sesuatu apapun selain memperlihatkan sesuatu (prosedur yang mengeprint sesuatu).
di luar kemampuan qta bisa “code anything” itu, meski memang bikin mindset kaya yang di “the secret” ada benernya, tapi secara fitrah (alami, naluriah), qta pasti meyakini ada suatu Dzat yang mengatur apakah qta berhasil mendapat tujuan dari code yang qta lakukan atau tidak. “karena pena telah diangkat dan tinta telah kering…” yang bisa qta lakukan adalah berikhtiyar. ya, hanya itu!
saat program yang qta rancang tidak berjalan sesuai keinginan qta dan qta teringat suatu konsep bahwa tidaklah baik saat orang lain bisa mengerjakan lebih cepat dan qta lebih lemot atw telmi, apakah teman2 mau berhenti? berhenti untuk memahami karena merasa sia2 dan buang waktu? memang benar jika ada yang bisa qta lakukan dan lebih berarti, tapi jika qta tetap bertahan pun, itu tidak salah. yakinlah, ada buah kesabaran untuk qta.
desember 2008 (liburan akhir tahun di rumah)