I Believe

I believe… You always drive me to the best place
I believe… You always give me the best things
I believe… You choose me at the best time
I believe… You and Your choice is the best for me

because I believe, I won’t complain again
because I believe, I won’t pessimist again
because I believe, I won’t regret again
because I believe, I will always believe You

I won’t doubt to You again
always and forever


pernah ditulis di blog satunya lagi: chie135.blogspot.com

senada dengan salah satu lagu favoritku ini:

iman itu benar2 sesuatu yang kompleks dan tak terdefinisikan selain oleh hati yang dikaruniai olehNya nikmat (kebahagiaan) terbesar… Hope all we do b’coz we believe in Him!

Mukjizat Al-Quran

Mukjizat tak bisa ditempelkan di sembarang orang. Ia keistimewaan para nabi, sedangkan pertolongan yang dirasakan orang-orang beriman meskipun sifatnya istimewa hanya dikatakan karamah. Mukjizat itu sesuatu yang Akbar, memiliki karakter zamannya saat nabi diutus, dan sifat pengaruhnya massif.

Rasulullah Muhammad saw pun diberikan beberapa mukjizat, tetapi al-Quranlah yang merupakan mukjizat terbesar beliau. Hal ini disebabkan al-Quran terjaga kemurniannya sampai saat ini. Ya, hanya al-Quran yang dijanjikan kemurniannya langsung oleh Allah sehingga ia utuh di tangan kita tanpa campur tangan manusia. Selain itu, al-Quran memiliki banyak keistimewaan baik secara sastra (level bahasa Arab yang paling tinggi), secara konten (sejarah dan fenomena kauniyah yang teruji), secara daya magis (pengaruhnya kepada para pendengar meskipun tak paham apa maknanya).

Kali ini ochie ingin membagikan apa yang ditulis oleh Ust Jalal pada satu agenda yaum ma’al Quran di masjid Bilal di Ramadhan kemarin. Akan tetapi, tulisan aslinya itu disarikan menjadi full bahasa Indonesia karena ochie masih tak mampu (baca: malas) menulis font arab di mari. Judul aslinya: Mahabbatul Quran wa ‘Ulumul Quran.

MENCINTAI DAN MEMPELAJARI AL-QURAN
1. Hakikat Al-Quran

a. Quran adalah ruhnya orang beriman. Ruh adalah rahasia kehidupan dan tidaklah hidup seorang mukmin di setiap waktu dan tempat tanpa ruhul Quran.
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS Asy-Syura:52)

b. Quran adalah obat dan rahmat bagi orang beriman. Bahkan ia adalah hidayah bagi alam semesta, sedangkan yang mengingkarinya mendapat kerugian.
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al-Isra:82)

*Tambahan: bahkan kata ustadz obat itu bukan hanya untuk penyakit hati, melainkan juga untuk penyakit tubuh.

c. Quran adalah petunjuk bagi orang bertaqwa
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS Al-Baqoroh:2)

Yang dengannya terwujudlah jalan hidayah terhadap segala urusan
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS Al-Isra:9)

d. Quran adalah penglihatan yang memperlihatkan yang terwujud dan tercipta dan dapat dilihat di alam semesta (serius bahasa arabnya bukan gini de, ini bener2 kasar artinya)
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu) (QS. Al-An’am:104)

e. Quran adalah cahaya dan sinar yang mencerahkan akal dan menyejukkan hati
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS Asy-Syura:52)

2. Kewajiban terhadap Al-Quran
a. Membacanya, baik sendiri, bersama keluarga, maupun bersama-sama khusus pada waktu malam dan siang, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
b. Mendengarkan dengan seksama disertai kemampuan akal dan penghayatan hati sehingga menghadirkan rahmat
c. Tartil membacanya, maksudnya pelan-pelan dan jelas huruf dan pengucapannya sehingga dapat dibaca dan dipahami
d. Mentadaburinya sehingga pikiran kita istiqomah dan pemahaman kita sehat (lurus) tentang Allah ta’ala, yang kuncinya adalah mengkhusyukkan hati, menghadirkan pengagungan kepada Allah, sehingga naiklah derajat ma’rifat dan keyakinan kita
e. Mempelajari dan mengajarkannya
Allah mengajarkan Rasulullah saw al-Quran yang dengannya mengajarkan iman, islam, syari’at, manhaj, yang kemudian Rasulullah kembali mengajarkannya sehingga para sahabatnya menjadi ulama dengan al-Quran
f. Menda’wahkannya dan berda’wah dengannya sebagaimana sabda Rasulullah sampaikanlah dariku* walaupun hanya 1 ayat (ket: dimaknai sebagai al-Quran sebab hadits tidak menggunakan istilah ayat)
g. Mengagungkan dan menyucikannya
h. Membahasnya
i. Beramal dan berhukum dengannya
j. Mengkaji manhajnya berjama’ah


Poin g – j belum diterjemahkan lengkap, insya Allah diedit lagi

Hifzhil Quran

Tidak semudah itu menjadi seorang hafizh (pemelihara) Quran. Menjadi seorang hafizh bukanlah sekedar menghapalkannya di dalam otak, melainkan justru menjaganya dalam ingatan, diulang2nya dalam lisan, bahkan diwujudkan dalam amal. Dalam amal? Ya, dalam amal pun! Rasulullah bahkan dikatakan sebagai al-Quran berjalan sebab akhlaq beliau adalah akhlaq Quran. Dan begitulah para pemelihara Quran dituntut untuk terus mempelajari al-Quran untuk diamalkan, dijadikan akhlaq, sampai akhir hayatnya.

Yang terberat dari menjadi seorang pemelihara al-Quran adalah mengamalkan ini. Ochie sendiri merasa bukan seorang kompeten untuk membahasnya (secara, masih banyak penyimpangan c, mohon doa agar istiqomah belajar). Maka, di sini ochie hanya mengetengahkan beberapa tips menghapal yang mungkin jika teman-teman telah membaca buku2nya, penjelasan ini menjadi tak perlu.

Sebelum menghapal, perhatikan beberapa adab yang menjadikan aktivitas menghapal ini afdhal, yaitu:
1. menyediakan waktu khusus untuk menghapal (rutin)
2. melupakan semua problem yang membebani pikiran selama menghapal (konsentrasi penuh)
3. berwudhu dan menjaga wudhu (agar segar sambil memuliakan al-Quran juga)
4. siapkan alat bantu yang sesuai (mushaf, recorder, partner menghapal)

Tidak dikerjakan semua tidak mengapa, tetapi mungkin takkan seproduktif jika qta memenuhi semua adab di atas. Ok! Mari qta mulai menghapal, bismillah… adapun tips di bawah ini juga disesuaikan dengan tipe belajar qta masing2…. Yang mana yang enak? Cobalah satu-satu…

Mengulang-ulang
Mengulang-ulang ayat yang ingin dihapal adalah metode general yang pasti dilakukan oleh semua penghapal al-Quran. Lakukanlah pengulangan sebanyak mungkin tanpa niat menghapalnya dulu. Setelah itu, berusahalah menghapal ayat-ayat tersebut sampai lancar. Jangan maju dulu jika pada satu ayat kita masih macet. Bersabarlah jika kemampuan qta agak lambat. Jika sudah hapal, gunakan ayat yang dihapal tersebut dalam shalat-shalat qta agar tetap terpelihara hapalannya.

Untuk tipe yang dominan visual:
Menggunakan satu mushaf

Ini sangat penting bagi para penghapal bertipe visual sebab jika mushaf berlainan ukuran dan berlainan letak huruf, ia akan kesulitan melakukan mapping hapalan di otaknya. Kan tipe visual itu tipe yang lebih mudah menghapal gambar? Maka, pilihlah mushaf yang menurut teman2 membuat semangat untuk menghapal: yang berwarna, yang ukuran hurufnya besar, yang 1juznya berapa halaman, atau yang seperti apa?

Menuliskan ayat yang dihapal
Ini juga cukup membantu para penghapal bertipe visual sebab ia dapat langsung memvisualisasikan hapalannya dengan tulisan sendiri. Gunakan beberapa alat tulis yang membuat menghapal terasa menyenangkan, semisal pulpen warna-warni, kertas tertentu, dsb.

Untuk tipe yang dominan audio:
Mendengarkan dari orang lain

Penghapal bertipe audio perlu partner dalam aktivitas menghapalkannya. Ia lebih suka mendengarkan dari orang lain dulu sebelum menghapal. Oleh karena itu, pilihlah partner yang bacaan al-Qurannya lancar dan tidak tersendat-sendat sebab itu mempengaruhi daya hapalnya.

Memilih nagham tertentu yang cocok
Jika tak ada partner, rekaman para qari/qari’ah dan imam tertentu juga bisa dipergunakan. Bahkan, merekam suara sendiri untuk didengarkan pun oke juga. Nah, pilihlah nagham (lagu/nada) yang enak berdasarkan versi masing-masing karena ini akan sangat membantu. Biasanya tipe audio mudah menghapal lagu yang cocok didengarnya.

Untuk tipe yang dominan kinstetik:
Menggunakan/sambil melakukan gerakan tertentu
Metode taba taba’I yang mempelopori metode ini dan di daerah timur tengah metode ini sangat laris untuk anak-anak berusia sangat belia. Seperti yang qta tau metode ini adalah kerja keras sepasang orang tua dari Muhammad Taba Taba’I yang berhasil mencetak anaknya menghapal al-Quran di usia 5 tahun. Selain menjadi metode penghapal, gerakan juga bagi tipe kinestetik menjadi memori pengalaman. Temanku di Pondok Quran, Bilal, dan Muchtar mengisahkan mereka menghapal dengan sambil berjalan-jalan, melihat pemandangan alam, dsb.

Pahami dulu artinya, kaitkan dengan bahasa arabnya
Metode ini juga cenderung untuk tipe kinestetik dan sangat cocok bagi kaum akademisi yang ingin tahu esensi dan tujuan dulu baru terdorong untuk memeliharanya. Apalagi bagi mahasiswa yang belajar di lembaga yang mempelajari lughah ‘arabiyah, metode ini sangat favorit dan super cepat nempel di otak.

Alhamdulillah. Itu saja yang bisa ochie bagikan dan ochie harap teman-teman yang membaca bisa mempraktekkannya sesuai kemauan dan kemampuan masing-masing. Satu tips lagi yang ochie sebutkan terakhir ini diingatkan oleh beberapa asatidz-asatidzah kemarin Ramadhan:

Setorkanlah kepada asatidz/asatidzah pada lembaga Hifzhil Quran
Ini penting sebab jika qta menghapal sembarangan dan qta tak tahu apakah al-Quran yang qta punyai itu tak kehilangan satu huruf pun. Dan dengan cara seperti ini pula qta akan mendapatkan gelar yang sama dan dapat menjadi penyimak calon hafizh/hafizhah berikutnya. Gelar al-Hafizh bukan merupakan gelar yang diberikan sembarangan: ia akan memperoleh ijazahnya dengan ujian. Selain itu, dengan mengikuti lembaga hafizh yang sudah teruji, kita akan bertemu teman sejawat yang satu cita-cita dan bisa saling mengingatkan cita-cita tersebut. Wallahu a’lam

Aku Ingin Menikah

Mengutarakan kalimat ini pertama kali ke pihak-pihak yang berperan dalam hidup sangatlah berat, khususnya buat wanita: MALU. Hei hei, kenapa tidak coba kita utarakan jika memang ingin? Ochie pernah ada di titik ini dan berusaha keluar dari zona nyaman dengan memutus urat malu. Iya, aku ingin menikah! Tolong carikan pacar bernama suami untukku! Iya, aku sangat ingin menikah! Mohon dimudahkan prosesnya (meski hanya dengan sekedar doa)!

BERANI?

Belum cukup sampai di sana. Kadang pihak-pihak tersebut langsung merespon positif, tapi sering justru malah mempertanyakan, “Koq anak ini ngebet banget?”. Bahkan frame tetua yang ga paham agama justru menyarankan anaknya pacaran dulu, memperlebar kemungkinan maksiyat, bahkan tidak khawatir anaknya terpelanting ke lembah zina (na’udzubillah). Mungkin ada alasan kekhawatiran tidak mampu mandiri, belum bisa memimpin / dipimpin, dll… karena standar siap bagi mereka sangatlah tinggi: mapan, berpenghasilan sekian puluh juta, punya rumah, punya kendaraan, dsb.

BENARKAH DEMIKIAN?

Respon mereka memang realistis, tapi menurut pandangan agama: materialistis. Kenapa tidak diturunkan standarnya? Cukuplah bisa kontrak rumah dan punya penghasilan yang cukup untuk berdua, yakni konsumsi makan (masak sendiri), ongkos, listrik, air, dsb (standar sederhana di Bandung: 1 juta/bln, insya Allah). Indahnya dalam pandangan agama Islam bahkan: rezeki justru akan dimudahkan setelah menikah. Mungkin ini ga logis dalam pandangan manusia, tapi ini janji Allah! Tanyakanlah pada orang-orang nekat yang melakukannya semata karena ingin menjaga diri… mereka akan menjawab: ya benar!

LANTAS GIMANA?

Nikah siri? Nikah diam-diam?? Wew, ya gak jugalah. Nikah siri sebenarnya sedikit bertentangan (meskipun ada ikhtilaf atau perbedaan di kalangan ulama) sebab pernikahan itu disyari’atkan untuk disyi’arkan, diumumkan kepada publik. Adakanlah walimah meski dengan syukuran sederhana seandainya tak ada dana besar untuk walimah. Back to kendala izin pihak2 “penghalang”, perlu seni komunikasi saat bicara dengan pihak-pihak tersebut. Perlu niat, perlu konten, perlu kesabaran, perlu keimanan.

MARI PERJUANGKAN!

Luruskan NIAT di hati bahwa menikah adalah sunnah Rasulullah yang pastinya akan mendekatkan kita kepada Allah jua. Menikah ini jalan kebaikan bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Menikah memiliki koridor syari’at yang harus tetap dijaga untuk mempertahankan keberkahan agar kekal cinta di dalamnya. Menikah bukan untuk senang-senang sesaat untuk kemudian bercerai hanya dalam waktu hitungan tahun. Menikah bukan karena dilandasi harta, kedudukan, keturunan, rupa yang jika Allah cabut semua itu, selesailah semua. Menikah bukan disebabkan calon istri telah dihamili calon suami (na’udzubillah).

Persiapkan KONTEN untuk melobi. Apa c konten? Setiap permasalahan komunikasi ingin menikah punya konten berbeda, tetapi biasanya yang seragam itu adalah soal tujuan. Keinginan selalu dilatarbelakangi oleh sesuatu tujuan, begitupun menikah. Apa tujuan dari sebuah pernikahan? Setidaknya ada 4 tujuan utama yang disebutkan dalam al-Quran dan as-Sunnah:
1. Menjaga kesucian farj (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24: 30-31)
2. Melahirkan rasa tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). (QS 30:21)
3. Mendapat keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata A’yun (penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74)
4. Memperbanyak ummat Islam. Seperti yang dipesankan Rosul, beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat.

Ochie akan share sedikit beberapa contoh tujuan lain yang sebenarnya turunan dari yang di atas, tetapi dengan bahasa kemasan berbeda: ingin dipimpin / memimpin seseorang, rindu seorang penyemangat yang terus berada di samping kita, perlu seorang pengimbang saat mengambil putusan, tak punya kontrol diri yang baik terhadap fitnah zaman, dikejar psikopat cinta, dsb. Teman-teman pasti punya bahasa sendirilah biar mereka paham. Cobalah, siapa tahu salah satunya bisa meruntuhkan pendirian mereka.

Selain konten tujuan (paling panjang nih bahasan ini), ada konten kesiapan, yaitu membuktikan bahwa kita sudah siap mengambil tanggung jawab itu. Ada juga konten da’wah seperti yang melatarbelakangi sebuah pernikahan berdasarkan perspektif agama atau bahkan keilmuan lain (yang disukai mereka). Konten apapun itu, jangan biarkan mereka tak mengerti bahasa kita karena ke-sok tahu-an kita. Tak semua orang pandai memillih diksi, tapi intinya lakukan ikhtiyar terbaik kita.

Jangan anggap instan dan kuatkan KESABARAN dalam melobi. Seni komunikasi yang paling harus diasah adalah ini. Mungkin ada yang berhasil dengan sekali bicara, tetapi seringkali banyak yang gagal berkali-kali sebelum sukses diizinkan. Mulailah komunikasi ketika kondisi hati mereka lapang, berikan sesuatu boleh dilakukan sebelum membuka komunikasi, dan dengarkan mereka dengan telinga sekaligus hati, baru mulailah bicarakan konten dengan mengalir, gunakan perspektif mereka, kemudian pandai-pandailah mendebat dengan menghindari kata “tapi” atau pengingkaran terhadap yang mereka bicarakan.

Yang tak kalah penting adalah KEIMANAN. Yakinlah bahwa Allah akan menjawab doa dan harapan kita (masalahnya pernah berdoa ga?), teruslah husnuzhan kepadaNya (hindarilah su’uzhan sekali pun), dan jangan menyerah (ikhtiyar, ikhtiyar, dan ikhtiyar). Anggaplah ini momen untuk mendapat sebanyak mungkin pahala, semakin mendekat kepadaNya, semakin memperlama sujud kita, dan mencintaiNya di atas segalanya. Semoga Allah menjawab tawakkal kita kepadaNya^^.

MENIKAH? YUK!


Alhamdulillah ochie menulis artikel ini setelah mengalami perjalanan yang cukup berliku. Semoga ada emosi menular yang bisa menginspirasi teman2 yang tengah kesulitan. Insya Allah serial munakahat di blog ini ke depannya akan dipublish di blog pernikahanku: http://rosyidahhakim.com/

Ta’awun

Membicarakan ukhuwah imaniyah (persaudaraan karena iman) memang tiada habisnya. Selalu ada topik yang bisa diceritakan tentangnya. Sesuai dengan judul artikel ini pun, ada subtopik ukhuwah yang berjudul ta’awun. Apa itu ta’awun?

Mari review sejenak tentang tahapan ukhuwah imaniyah yang sering qta dengar:
a. Ta’aruf
Ta’aruf merupakan tahap pertama. Pada tahap ini kita mengenal segala cap milik saudara qta. Cap ini sifatnya persisten dan mudah diketahui hanya dengan bertanya , membaca biodatanya, dll. Misalnya qta mengetahui yang mana orangnya, siapa namanya, apa jurusannya, angkatan berapa, kampus mana, dimana alamatnya, tanggal lahir, dll.

b. Tafahum
Nah, tafahum ini akan terbangun jika kita sudah berinteraksi intens dengannya. Kita akan mengetahui apa warna favoritnya, bagaimana seleranya, apa kesukaan dan kebiasaannya, kapan dia marah, kenapa dia melakukan ini dan itu, dll.

c. Ta’awun
Singkatnya pada tahap ini qta akan rela menolongnya jika ia dalam kesulitan. Kita akan membantunya keluar dari kesulitan dan ikut senang jika ia telah lepas dari persoalannya. Next qta akan bicarakan banyak hal tentang ini, insya Allah.

d. Takaful
Takaful merupakan tahap yang setingkat lebih tinggi daripada ta’awun. Ada juga yang menjadikannya sepaket dengan ta’awun. Pada tahap ini qta akan memberi kepercayaan kepada saudara qta sesuatu yang tidak qta berikan kepada sembarang orang. Entah itu secret story, amanah, titipan barang, dll.

Sebagai tambahan di awal dan akhir tahapan yang sangat banyak itu ada kalimat ini: Serendah-rendahnya ukhuwah adalah husnuzhan (berbaik sangka) dan setinggi-tingginya adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri).

Sudah paham? Back to ta’awun… paan tu? Ta’awun dalam salah satu ayat dalam al-Quran disebut sebagai ta’aawanuu, artinya saling menolong.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (al-Maidah:2)

Saling? Yup, artinya resiprok: jika satu pihak kesulitan, yang lain membantunya. Poin yang terpenting: sebab ukhuwah qta berlandaskan iman, aturannya juga jelas: dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan pelanggaran. Sekali lagi, bukan buat menzhalimi diri sendiri apalagi orang lain, baik di dunia maupun akhirat.

Tolong menolong dalam konteks kebaikan dan taqwa… seperti apakah itu?
Lets’ see case study!

Ini cerita dari salah seorang senior (K Hafizh Elektro ‘98) bahwa jika ukhuwah itu benar-benar karena iman, ta’aruf dan tafahum bahkan bisa langsung dilampaui. Alkisah dua orang ikhwan bertemu, sebutlah Akhi dan Fulan. Mereka berdua baru berkenalan hari itu juga di sebuah pengajian. Akhi bawa mobil, sedangkan Fulan hanya pejalan kaki. Akan tetapi, karena ada panggilan tugas yang mendesak Fulan harus bersegera meminjam mobil untuk membawa sesuatu dari dan ke lokasi yang agak jauh dari sana. Dengan mudahnya, Akhi meminjamkan mobilnya dengan suka rela, sedangkan ia memilih pulang dengan kendaraan lain (nah tuh kan makanya beririsan ma takaful juga).

Lebih lanjut, mari qta lihat cara orang-orang zaman dulu dalam menunaikan ta’awun ini…
Saat itu Muhajirin (orang mukmin yang hijrah dari Mekah) dipersaudarakan dengan Anshar (orang mukmin yang menolong muhajir di Madinah). Kaum Anshar benar-benar menolong saudaranya secara finansial, tempat tinggal, perbendaharaan, dkk dengan suka rela. Bantuan mereka sangat luar biasa, Kawans! Semuanya serba dibagi dua, bahkan seringkali mereka rela andai saudaranya memilih yang lebih baik di antara dua pilihan yang ditawarkan.

Bahkan ta’awun yang telah mencapai tahap itsar telah sering qta dengar…
Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr telah membuktikannya di Perang Yarmuk. Saat itu ketiganya terluka parah dan ajal yang menjemput laksana raksasa yang mencekik kerongkongan. Apa yang dilakukan Ikrimah saat ia hendak diberi minum oleh seorang mukmin anggota tim medis? Ia menolak dan mempersilakan saudaranya yang lain dulu, begitupun saudaranya yang lain. Pada akhirnya ketiganya syahid tanpa meneguk setetes air pun.

Sebaliknya, ada larangan ta’awun dalam konteks kejahatan dan kezhaliman. Kasus sederhana yang dari SMA sering kudengar adalah saling memberikan contekan. Kasus ini klasik, tapi pernah benar2 terjadi parah: bahkan guru dan kepsek pun membantu siswanya mencontek di momen UN. Mungkin ini juga yang menjadi sebab penurun keberkahan negeri ini. Siswa-siswi itu belajar dan dididik korupsi bersama-sama.

Kalau overview sejarah, mari qta lihat bagaimana para kafir Quraisy saling bahu-membahu memboikot Rasulullah dan keluarganya secara ekonomi. Mereka tidak diperbolehkan melakukan jual beli dan diasingkan hanya karena dalam dada mereka ada iman kepada Allah dan hari akhir. Bahkan orang-orang kafir Quraisy itu saling mendukung untuk menyiksa budak dan hamba sahaya yang beriman. Skenario puncak adalah saat mereka sama-sama merancang pembunuhan kepada Rasulullah yang pernah mereka amanahi al-amin (yang terpercaya) sebelum kenabian beliau.

Di hari akhir kelak berbahagialah mereka yang pernah ta’awun dalam konteks kebaikan dan taqwa sebab Allah pun akan menolong mereka. Sementara mereka yang justru melakukan ta’awun dalam konteks sebaliknya akan mendapatkan azab yang pedih. Tak lagi ada persahabatan, tak lagi ada persaudaraan, tak lagi ada saling menolong, selain yang Allah kehendaki… selain yang landasannya iman…

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu[1023], dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (al-Mukminun:101)
[1023]. Maksudnya: pada hari kiamat itu, manusia tidak dapat tolong-menolong walaupun dalam kalangan sekeluarga.


Sengaja nulis ini karena permintaan bos sebagai iqob ga dateng kmpul tim
Bole dposting kan, bos? Topiknya general inih! Bole, chie, bole bole… :p
*sedang sangat sangat malas nulis artikel -_____- padahal gi Ramadhan ni

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.